Vaksin Moderna Mampu Jinakkan Varian Baru Corona

Seorang perawat AS disuntik vaksin Moderna, kemarin.

 

SURABAYAPAGI.COM, New York -  Efek samping vaksin Covid 19, Pfizer yang sampai membuat orang meninggal di beberapa negara,  membuat vaksin Moderna lebih diunggulkan. Bahkan Moderna percaya diri bisa melawan varian baru yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan. Meski demikian, Moderna akan melakukan tes baru untuk varian Afrika Selatan setelah menyimpulkan respon antibodi dapat hilang.

Menurut perusahaan itu, Moderna menemukan tak ada pengurangan respon antibodi terhadap varian baru di Inggris. Saat melawan varian di Afrika Selatan, Moderna menemukan pengurangan respon tapi masih yakin dua dosis vaksinya akan memberi perlindungan. Saham Moderna naik hampir 10%, atau USD12,40, menjadi USD143,85 pada perdagangan pagi.

Munculnya varian baru di Inggris, Afrika Selatan dan Brasil menciptakan kekhawatiran bahwa mutasi virus dapat membuat vaksin kurang efektif.

Analis Jefferies, Michael Yee menyatakan sangat senang bahwa tes Moderna menunjukkan saat melawan varian baru di Afrika Selatan, respon antibodi yang dihasilkan vaksin mRNA-1273 masih di atas level yang memberi perlindungan.

Yee juga menyatakan kecepatan Moderna merancang vaksin itu membuktikan fleksibilitas teknologi baru mRNA.

Dr Paul Offit, pakar penyakit infeksi di Universitas Pennsylvania dan anggota panel penasehat vaksin Badan Obat dan Makanan AS menyatakan dia hanya sedikit khawatir vaksin itu tidak akan melindungi pengguna pada varian itu.

“Ada sedikit kekhawatiran bahwa Anda melihat respon antibodi yang kurang kuat, tapi itu tidak berarti Anda tidak terlindungi,” ujar dia.

“Tujuan vaksin ini menjaga Anda tidak masuk rumah sakit dan membuat Anda tak masuk rumah duka. Jika Anda mengalami gejala infeksi atau gejala ringan infeksi itu bukan beban bagi sistem layanan kesehatan,” papar Offit.

Moderna mengatakan suntikan vaksin baru dapat tersedia di masa depan jika bukti muncul bahwa perlindungan menurun.

Pfizer Inc dan BioNTech SE juga mengatakan tes menunjukkan vaksin mereka efektif terhadap varian yang ditemukan di Inggris, tetapi belum mengungkapkan hasil tes terhadap varian Afrika Selatan.

Varian yang pertama kali ditemukan di Inggris telah menyebabkan lonjakan besar kasus di sana dan juga telah ditemukan di lebih dari selusin negara bagian AS.

 

Lebih Cocok untuk Asia

Terpisah, hasil penelitian dan pembuatan vaksin anti Corona oleh Pfizer maupun oleh Moderna yang dilakukan di Amerika Serikat mendapat perhatian seorang profesor Universitas Tokyo, Prof. Kazunori Kataoka (69).

"Tiga hal yang mesti diperhatikan mengenai vaksin anti Corona tersebut yang pertama yaitu keberhasilan yang dibuat berapa persen, kedua mengenai pengangkutan vaksin tersebut nantinya, dan ketiga mengenai penyimpanan vaksin tersebut," kata Prof. Kataoka di TV Asahi, kemarin.

Dari persentase keberhasilan kedua vaksin memang dianggapnya sudah bagus karena berada di atas 90% baik Pfizer maupun Moderna.

Namun dari hal penyimpanan vaksin tersebut ternyata berbeda jauh satu sama lain. "Vaksin Pfizer disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius sangat rendah sekali perlu alat khusus untuk hal tersebut," tambahnya.

Sedangkan vaksin Moderna cukup disimpan di suhu minus 20 derajat Celcius sehingga alat pendingin biasa pun tidak terlalu khusus bisa dipakai siapa pun di mana pun, lanjutnya.

Sedangkan penyimpanan vaksin Pfizer hanya 5 hari saja dan vaksin Moderna bisa disimpan selama 30 hari.

"Kedua vaksin apabila dalam suhu antara 2-8 derajat Celcius bisa bertahan yang berbeda jauh. Pfizer bisa bertahan hanya 5 hari dan Moderna bisa bertahan 30 hari," ungkapnya lagi.

Dengan kemampuan bertahan yang lama dan tempat penyimpanan yang hanya minus 20 derajat Celcius itu, Kataoka melihat Moderna lebih cocok dipakai di negara panas di Asia.

Bukan hanya tingkat keberhasilan vaksin dan tempat penyimpanan serta lama bertahan, dalam mendistribusikan vaksin tersebut juga berbeda kesulitannya.

"Dengan kepemilikan alat sangat khusus sampai minus 70 derajat celcius akan butuh uang cukup banyak ketimbang peralatan pendingin yang cukup sampai minus 20 derajat celcius sebagai tempat penyimpanan vaksin."

Demikian pula apabila alat pendingin tidak bisa mencapai 2-8 derajat Celcius saat membawa vaksin dari satu negara ke negara lain, akan merusak vaksin itu sendiri dan penyuntikan tidak akan ada hasil.

"Belum lagi kekuatan vaksin yang hanya 5 hari saja untuk suhu 2-8 derajat Celcius. Apabila pengangkutan lebih dari 5 hari dalam perpindahan antara negara yang jauh, sampai di tempat vaksin tersebut akan digunakan (disuntikkan), maka vaksin kehilangan fungsinya, tak ada gunanya lagi," tambahnya lagi.

 

Jokowi Disuntik lagi

Masih soal vaksin, Presiden Joko Widodo dijadwalkan menerima suntikan vaksin Covid-19 untuk dosis kedua pada Rabu (27/1/2021) hari ini. Rencananya, vaksinasi akan kembali dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta.

"Rencananya Bapak Presiden akan menerima vaksin tahap kedua besok Rabu, sesuai jadwal yang telah ditentukan," ujar Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono di Jakarta, Selasa, (26/1/2021).

Untuk diketahui, vaksin CoronaVac yang diproduksi oleh Sinovac membutuhkan dua kali penyuntikan masing-masing sebanyak 0,5 mililiter dengan jarak waktu 14 hari. Sebelumnya, Presiden menerima suntikan pertama pada 13 Januari 2021 lalu.

Vaksinasi kedua ini juga akan disiarkan secara langsung melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.jk/ar/as/xi