Vaksin China Diragukan Lawan Mutasi Virus

Ilustrasi karikatur

Pabrik Vaksin China di Indonesia, Ternyata NKRI Diwakili Perusahaan Hong  Kong PT Etana

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta- Presiden Joko Wiodo (Jokowi) membentuk Tim Gerakan Nasional Buatan Indonesia yang nantinya akan dikomandoi Luhut Binsar Pandjaitan. Pembentukan tim tersebut seiring dengan terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) 15/2021 tentang Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia. Ironisnya, sosok Luhut selama ini dikenal ‘sangat dekat’ dengan apapun yang berhubungan dengan China.

Bahkan terakhir, Luhut mengatakan, di bulan April 2022 nanti akan ada produksi vaksin jenis mRNA yang dilakukan oleh perusahaan Indonesia berkolaborasi dengan perusahaan China. Namun, Luhut tak menyebutkan perusahaan apa saja.

"Industri vaksin sudah kita dorong dan dibangun di Indonesia. Akan ada satu produksi di bulan April (2022), kerja sama, mRNA, itu kerja sama dengan Indonesia dan Tiongkok," papar Luhut dalam Rakerkornas Apindo, Selasa (24/8/2021) lalu.

Dominasi China di dalam pemerintah Indonesia mengingatkan pada nasib negara-negara di Afrika, terutama Zimbabwe. Tidak bisa dipungkiri bahwa China banyak membuka keran investasi dan ikut menggerakkan ekonomi di negara tersebut.

Namun agaknya pengaruh China di negara itu sudah menjadi jauh lebih besar daripada yang diperkirakan banyak pihak. Setidaknya itu yang disoroti oleh Economic Times melalui artikel berjudul "Zimbabwe under complete Chinese control: Is anyone noticing?" yang dipublikasikan pada awal pekan ini (Senin, 23/8). Zimbabwe tampaknya "tunduk" pada pengaruh China di negara itu.

Artikel itu menjelaskan, dalam beberapa kasus, kekuatan dan pengaruh China di Zimbabwe dapat dikenali dari fakta bahwa meskipun banyak kasus pelecehan yang merajalela yang dilakukan oleh majikan asal China terhadap tenaga kerja lokal, tidak ada tindakan tegas yang diambil oleh pemerintah setempat. Mereka seakan menutup mata.

Hal-hal tersebut telah memburuk sedemikian rupa, sehingga bahkan muncul kasus di mana karyawan lokal ditembak mati oleh seorang majikan China di sebuah tambang ketika para pekerja menuntut upah mereka yang sah.

Economic Times dalam artikel tersebut menjelaskan bahwa bukan hal yang mengejutkan bahwa pemilik perusahaan China tidak mengindahkan hukum Zimbabwe serta hak hukum warga negara. Bahkan tidak jarang, mereka justru mendiskriminasikan pekerja lokal dari penambang China yang sama-sama bekerja di lokasi penambangan dengan membayar mereka upah rendah, yakni sekitar 35 dolar AS per bulan.

Bukan hanya itu, terdapat juga sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa majikan-majikan asal negeri tirai bambu itu menyerang karyawan lokal dengan memaksa mereka untuk beroperasi dalam kondisi berbahaya, tidak manusiawi, keras dan mengancam jiwa. Economic Times menyebut bahwa kondisi itu sama dengan "perbudakan".

Kabarnya, ada kondisi di mana di sebuah akomodasi perusahaan China, sebanyak 16 orang penduduk setempat ditampung dalam satu kamar. Hal ini dilakukan pada saat dunia sedang berjuang melawan pandemi Covid-19 yang menganjurkan orang untuk jaga jarak dengan orang lainnya.

 

Vaksin China Diragukan

Kembali lagi ke tanah air, dari data yang dikumpulkan Surabaya Pagi, pembangunan pabrik vaksin di Indonesia dilakukan dua perusahaan Indonesia dan China. Dari Indonesia diwakili oleh PT Etana Biotechnologies Indonesia. Dan dari China diwakili perusahaan Walfax Abogen.

 Perusahaan Walfax Abogen sendiri merupakan, konsorsium dari Yunnan Walvax Biotechnology, Suzhou Abogen Biosciences, dan Academy of Military Science sebagai pengembang vaksin ARCoV.

Menariknya, untuk perwakilan Indonesia atau PT Etena Biotechnologies baru didirikan pada tahun 2014 dan merupakan anak usaha dari industri farmasi PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA). Pemegang saham lain Etana adalah Etana Biotechnologies Hong Kong Limited dan PT Optel Internasional.

Nama Etena, pertama kali disebutkan oleh Luhut dalam gelaran Forum Nasional Kemandirian dan Ketahanan Industri alat Kesehatan yang diunggah dalam kanal Youtube Farmalkes TV pada 30 Agustus 2021 lalu.

"Ini ada Etana kerja sama dengan China. (Produksi vaksin) dengan platform mRNA, mereka akan produksi Juli tahun depan," kata Luhut Panjaitan dinukil dari Youtube Farmalkes TV, Selasa (21/09/2021).

Banyak masyarakat yang menaruh perhatian terhadap pembangunan pabrik vaksin di Indonesia. Pakar Ekonomi Politik dan Bisnis Universitas Brawijaya Dr. Iswan Noor, SE, ME menilai, rencana pembangunan pabrik vaksin di Indonesia bisa dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek.

Aspek pertama adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Dari segi SDM, melihat pola kerjasama China di beberapa negara khususnya di wilayah Afrika yang mendatangkan warganya bekerja di Afrika, mengakibatkan tenaga kerja lokal akhirnya tidak terpakai.

"Itu harus kita lihat data ya, tapi yang jelas jutaan warga China melakukan eksodus ke Afrika. Ya polanya sama, bangun pabrik terus yang bekerja ya orang-orangnya. Nah itu jangan sampai terjadi di Indonesia. Kalau SDM-nya orang kita (Indonesia) ya monggo, gak masalah," kata Iswan Noor kepada Surabaya Pagi, Selasa (21/09/2021).

Selain aspek SDM, berikutnya dari segi teknologi dan pengelolaan vaksin. Menurut Iswan, saat China mengeluarkan vaksin Sinovac yang kini digunakan, World Health Organization (WHO) justru meragukan kualitas vaksin tersebut. Ini terlihat dari lamanya izin atau persetujuaan terhadap vaksin sinovac.

Bahkan hingga kini, vaksin buatan China diragukan kualitasnya dalam melawan mutasi virus atau varian baru covid-19 khususnya varian delta. Hal ini juga didukung dengan sejumlah negara  yang menolak menggunakan vaksin sinovac.

"Banyak negara barat yang meragukan vaksin ini (sinovac) kalau saya gak salah, pemerintah Costa Rica itu dengan tegas menolak tidak mau menggunakan vaksin buatan China," katanya.

"Jadi faktor kualitas itu juga penting. Jangan sampai pabriknya dibangun, barangnya dibuat tapi tidak ada yang beli, karena kualitasnya katakanlah buruk. Itu fatal dalam ekonomi," tambahnya lagi.

Secara kebijakan, setidaknya China bukan satu-satunya negara yang melakukan hubungan bilateral khususnya dalam bidang kesehatan. Ada negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Bahkan kata Iswan, dua jenis vaksin yang dikembangkan oleh anak bangsa, merupakan hasil kerjasama Indonesia dengan negara seperti Amerika dan Australia. Untuk vaksin nusantara, Indonesia disokong oleh Amerika Serikat. Sementar untuk vaksin merah-putih, Indonesia mendapat dukungan dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Australia.

 

Nasib Vaksin Nusantara

"Bagi saya, bangun pabrik oke, silahkan. Asalkan dua aspek tadi terpenuhi. Tapi sekarang siapa yang berani jamin. Nah, dari pada ribut soal itu, ini sudah ada vaksin buatan kita, vaksin merah putih dan vaksin nusantara. Ya itu saja yang dikembangkan, karena kalau mau ingin agar supaya kita mandiri dalam bidang kesehatan, ya dua vaksin ini saja yang kita kembangkan," ucapnya.

"Karena kalau kita lihat trennya, banyak masyarakat yang menunggu vaksin nusantara. Bahkan negara-negara lain, juga tertarik dengan vaksin buatan kita. Itu yang harus di-sale," katanya lagi.

Tak hanya itu, Iswan juga mempertanyakan produk vaksin yang dibuat manakala pabrik tersebut beroperasi. Bila vaksin yang diciptakan adalah vaksin sinovac, maka yang terjadi adalah Indonesia akan mengalami dua kerugian besar. Pertama kehilangan kemandirian kesehatan dan berikutnya adalah masalah sosial ekonomi.

"Karena ini vaksin, tidak semua orang bisa buat. Harus mereka yang benar-benar expert dibidangnya. Ya otomatis akan ada transfer tenaga kerja China ke Indonesia, itu bisa timbulkan problem baru loh di kita," tegasnya. sem/rl/jk4/dr