Ribet saat Masuk, Lenggang Setelah di Pesawat

Sorotan Wartawan Muda, Raditya Mohammer Khadaffi

Perjalanan Pertama Naik Pesawat Saat Pandemi Corona

 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Asing!. Ya terasa seperti memasuki bandara “baru”. Bandara Juanda lama terasa “asing” setelah 10 bulan saya tak gunakan transportasi udara. Terutama sejak pandemi corona melanda negara kita sejak Maret 2020.

Bukan asing dengan bandara Juandanya, tapi layanan dari bandara selama Covid-19.

Sejak Maret, praktis baru kali ini saya kembali melakukan perjalanan dinas dengan pesawat terbang, khususnya ke Jakarta.

Pasalnya selama Covid, saya lebih suka perjalanan darat. Meski harus menempuh waktu berjam-jam, tetapi tidak ribet ini - itu urusan protokol kesehatan dan dokumen sehat.

Sebelum pandemi, saya rasakan tidak banyak tetek bengek yang harus disiapkan saat penerbangan.

Paling cuma diberhentikan di check point untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Selebihnya, loss gak rewel.

Perjalanan menggunakan pesawat saat pandemi ini, sudah seperti kalau perjalanan umroh atau berhaji ke tanah suci Mekkah. Harus prepare tes kesehatan dan vaksinasi lebih dulu. Bila umroh/berhaji, cek kesehatan lengkap ditambah vaksin meningitis.

Kini , pandemi, juga sama. Tetapi vaksinnya belum. Karena masih belum “ditemukan” yang tepat guna untuk manusia segala usia.

Inilah yang saya alami, Selasa 29 Desember 2020 kemarin.

Sebelum berangkat H-1, saya harus cek kesehatan yakni HARUS melakukan tes swab antigen atau tes swab PCR. Bila tidak, gak boleh terbang. Saya pun harus merogoh kocek untuk tes swab Antigen seharga Rp 200.000 di salah satu klinik milik Universitas Negeri yang memiliki Fakultas Kedokteran terbaik di Indonesia.

Tetapi Selasa pagi kemarin, masih ada orang-orang yang “nekat” go show langsung ke bandara untuk tes swab antigen di bandara. Tetapi tidak banyak. Hanya beberapa orang. (Apa mungkin karena penerbangan pagi hari, jadi tak banyak penumpang yah...)

Lanjut, saya hanya melewati orang-orang tes rapid antigen di Bandara Juanda yang berada di dekat Terminal 1.

Saat masuk di koridor Terminal 1 keberangkatan pukul 06.30 WIB, sudah dibuat baris memanjang sepanjang 10-20 meter lebih, dengan dibagi 5-6 lajur.

Meski lengang, tetapi sudah ramai. Saya mengambil lajur keempat, dan langsung menyusuri koridor yang diberi pembatas dan tanda jaga jarak aman physical distancing.

Tak lama, langsung disambut dua petugas Avsec (Aviation Security). “Tunjukkan tiket dan hasil rapidnya pak,” tanya petugas itu pada saya.

Dengan pede, saya menunjukkan dokumen perjalanan dan kesehatan itu.

Saya pikir, setelah lolos, bisa langsung masuk ke baggage checking dan check in counter. Tetapi bayangan saya salah. Di step kedua inilah, kita harus berhadapan dengan petugas kesehatan bandara untuk validasi tes rapid antigen / swab antigen.

Saat saya sedang mengantre, ada seorang ibu setengah baya tergopoh-gopoh mengeluarkan hasil tes rapid antigennya. “Tujuan kemana, bu?” Tanya petugas kesehatan bandara Juanda itu.

“Ke Bali mbak”

“Tolong hasil tes Swabnya bu. Tapi ini hanya berlaku disini (Juanda, red) yah bu. Nanti disana ada pemeriksaan lagi,” ingat petugas kepada ibu itu.

Sejurus kemudian, dokumen ibu itu diserahkan kepada petugas, lalu petugas itu mengecek kebenaran tes tersebut di layar ponsel pintar milik petugas kesehatan Juanda.

Sekitar dua menit, langsung dokumen itu di stempel dengan tulisan valid.

Sama halnya juga dengan penumpang selanjutnya, hanya saja dia menggunakan dokumen elektronik berupa file PDF.

Saat bagian saya, dokumen-dokumen pun dicek dengan teliti. “Tujuan kemana pak?”

“Jakarta, bu.”

Saya pun bertanya, “Pengecekan ini apa sampai dicek hanya dilihat positif atau negatif saja? Apa tidak sampai cek keabsahan hasil tes itu, bu?”

“Iya pak. Hanya cek, kalau positif pastinya tidak boleh naik,” jawab petugas.

“Wah berarti bisa gak terdeteksi dong. Tes ini asli atau aspal,” jawab saya sembari menerima dokumen yang sudah di validasi.

Petugas hanya tersenyum dan mempersilahkan untuk masuk ke baggage checking.

Namun, pemeriksaan validasi tak berhenti. Usai check in, di terminal tunggu, juga lagi-lagi diperiksa lebih detail. Kali ini pemeriksaan dilakukan oleh petugas Avsec.

Jadi, untuk masuk ke terminal tunggu, butuh tiga kali pengecekan terkait dokumen kesehatan itu.

Apalagi sebelum masuk pesawat, juga diharuskan mengunduh aplikasi eHac Indonesia, buatan Dit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.

Diaplikasi itu, penumpang juga harus menginputkan data-data penumpang dan penerbangan, yang nantinya divalidasi lagi di bandara tujuan.

 

****

 

Seperti yang dialami juga oleh Jerry, Yulia dan Sayekti. Bahwa pemeriksaan ini dengan dokumen tes swab dan rapid, cukup meribetkan penumpang. Apalagi buat mereka, ini juga kali pertama, yang saya temui.

“Ribet banget sih mas. Juga keluar duit lebih untuk tes. Ini coba kalau gak kendaraanku masuk bengkel, aku yah lewat darat lagi,” celoteh Jerry dan Yulia, yang tak lain mereka sepasang suami istri, saat saya temui sedang ngopi di gerai kopi waralaba dunia.

Tetapi yang menjadi catatan suami istri yang tinggal di Rungkut itu, harga tes swab dan rapid antigen ini dijadikan lahan bisnis klinik-klinik kesehatan. “Kondisi gini, buntung di kitanya, untung di pengelola Labnya. Lha gimana, setiap harus pergi keluar kota, harus rapid. Harus swab. Sudah berapa ratus juga sehari,” celetuk Jerry. Hanya saja, menurutnya, peristiwa ini saling simbiosis mutualisme.

Nah, kembali lagi, dengan pengketatan harus melampirkan dokumen kesehatan (rapid dan swab), terlihat penumpang pesawat juga menurun drastis.

Di sepanjang terminal tunggu dari gate 1 hingga 10 Terminal 1, terlihat lengang. Pukul 07:30 WIB pagi, tidak seperti saat kondisi sebelum pandemi atau awal virus masuk ke Indonesia.

Kata penjaga toko Bogajaya, setiap harinya terlihat sangat lengang. Ditiap gate bisa dihitung dengan jari.

Untuk flight yang saya tumpangi dengan tujuan Jakarta pun hanya terisi 26 penumpang.

Untuk sekelas maskapai pelat merah ini sangat jauh dari harapan. Kata pramugari yang bertugas di pemerbangan saya ini, bahkan pernah cuma terisi 8-10 penumpang. Penerbangan saya dari Surabaya-Jakarta, pagi kemarin lenggang sekali.

Untuk itu penerbangan kali pertama saat pandemibini pun menjadi pengalaman saya.

Apalagi setiap penerbangan, kini diwajibkan dengan rapid tes dan atau swab. Sampai ditemukannya vaksin yang ampuh untuk memutus virus Corona ini.

Kapan? Belum tau.

Mungkin bagi para pelancong yang masih setia bepergian dengan pesawat udara selama pandemi, hal ini sudah biasa.

Namun bagi saya dan mungkin beberapa orang yang lain, terasa asing. Betul-betul

Asing, bak orang desa yang baru naik pesawat. Salah satunya sabar dilakukan cek kesehatan sekaligus antri memasuki waiting room terminal 1 Bandara Juanda Sidoarjo. ([email protected])