PTPN Terbelit Utang Rp 43 Triliun, Erick Duga ada Korupsi

Erick dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI, Rabu (22/9).

SURABAYAPAGI, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir mengakui PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN secara grup terbelit utang sebesar Rp 43 triliun. Kok bisa? Ia menduga ada korupsi terselubung.

Utang tersebut menggunung sejak lama. PTPN pun sudah mendapatkan perpanjangan untuk melunasi utang-utang tersebut hingga 2028. Sebanyak 18 bank nasional dan asing sudah sepakat restrukturisasi Rp 41 triliun utang PTPN pada April 2021 lalu.

"PTPN punya utang Rp 43 triliun. Ini merupakan penyakit lama dan saya rasa ini korupsi terselubung yang memang harus dibuka dan harus dituntut yang melakukan ini," kata Erick dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI, Rabu (22/9).

Dia menegaskan, meski PTPN sudah berhasil restrukturisasi, harus ada komitmen untuk membenahi kinerja keuangan perusahaan. Karena itu ada langkah-langkah yang sudah dibuat.

 

Efisienkan Biaya Operasional

Pertama, PTPN harus berhasil mengefisiensikan biaya operasional perusahaan secara grup. Kedua, perseroan harus meningkatkan produksinya agar bisa melunasi utangnya. Jika tidak dibayar, belasan bank pemberi pinjaman bisa bangkrut saking besarnya utang PTPN.

"Jadi selain efisiensi, harus ada peningkatan produksi. Kita sekarang diuntungkan harga sawit yang lagi naik, tapi juga harus ada peningkatan produksi yang saat ini belum maksimal di PTPN. Sekarang sudah lumayan, ada peningkatan revenue (pendapatan) di PTPN," ujar dia.

Dalam meningkatkan produksi dan pendapatan, Erick menekankan pada kualitas produk. Dia melihat beberapa produk PTPN kalah saing untuk penjualan bahkan untuk di tataran pasar lokal, misalnya coklat. Karena itu, dia meminta PTPN memberikan bibit yang bagus kepada para petani rakyat agar bisa menghasilkan panen yang berkualitas yang dijual ke perseroan.

 

Produk Pangan Nusakita

Saat ini ada upaya untuk melakukan perbaikan kinerja. Upaya ini untuk mengurangi komoditas fokus dari sebelumnya enam komoditas menjadi hanya dua komoditas utama saja. Komoditas yang digarap PTPN selama ini sawit, tebu, karet, teh kopi dan kakao, dan akan difokuskan menjadi tebu dan kelapa sawit.

Sebelum ini, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) meluncurkan produk pangan dengan merek Nusakita yakni minyak goreng, gula pasir, teh dan kopi.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani mengatakan peluncuran merek Nusakita dilakukan bertepatan dengan momentum HUT RI ke-76 pada 17 Agustus 2021.

Direktur Utama PTPN III Mohammad Abdul Gani, mengakui selama enam tahun terakhir anak usaha PTPN tak mampu menaikkan operasi secara maksimal untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Misalnya PTPN II hanya mampu menghasilkan 14 ton gula dan PTPN IV hanya bisa menghasilkan 20 ton kelapa sawit.

 

Komoditas Tebu

Untuk itu perusahaan akan melakukan konversi lahan seluas 70 ribu-80 ribu hektare lahan milik perusahaan dan anak usahanya untuk ditanami dua komoditas ini. Konversi lahan ini juga akan dilakukan dengan bekerja sama dengan Perum Perhutani untuk menggunakan lahannya seluas 60 ribu-70 hektar.

Ditambah dengan lahan rakyat seluas 116 ribu hektare, diperkirakan untuk pengembangan komoditas tebu ini akan tersedia sebanyak 300 ribu hektare captive lahan.

Sehingga targetnya ke depan perusahaan dapat memasok gula untuk kebutuhan konsumsi di dalam negeri sebanyak 2 juta ton gula kristal putih (GKP).

"Kapasitas pabrik kami sebanyak 43 pabrik gula bisa memproduksi 2 juta ton GKP. Saya pastikan kalau itu tercapai maka kebutuhan gula konsumsi Indonesia bisa cukup," jelasnya.

Dia menargetkan kenaikan kinerja PTPN bisa mulai terasa pada 2022 mendatang setelah dilakukannya konsolidasi organisasi.

Dia menambahkan dari sisi produksi, PTPN Group lebih difokuskan pada produk minyak goreng yang diproduksi oleh Anak Perusahaan PTPN Group yaitu PT Industri Nabati Lestari (INL).

Sebaliknya, gula pasir diproduksi oleh berbagai anak perusahaan PTPN Group yang berbisnis tebu/gula dari kebun milik PTPN Group.

Menurut dia, kehadiran Nusakita sebagai merek nasional tidak berarti mematikan merek lokal anak perusahaan yang selama ini sudah ada, tetapi justru saling melengkapi bisnis ritel PTPN Group, serta memperkuat brand-brand lokal tersebut. n 05,jk, erc