Pasca Cen Liang Mati, Pasar Turi Masih Turu

Tempat penampungan sementara (TPS) Pasar Turi yang dihuni beberapa pedagang lama korban kebakaran masih menempati di pinggiran Gedung Pasar Turi Baru. SP/Semmy Mantolas

6.000 Stan Disinyalir Sudah Terjual. Tapi Sampai Tahun ke 10 Peresmian, Pusat Pasar Grosir Legendaris di Surabaya, Masih Tidur tak Beroperasional 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pasar Turi baru yang dikelola PT Gala Bumi Perkasa, ternyata tidak perkasa. Padahal bangunan sudah bercokol. 6.400 stan yang dibangun konsorsium Almarhum Cen Liang alias Henry Jocosity Gunawan, Turino Djunaedy dan Totok Lusida, sudah ludes terjual. Sewa tanah negara dilakukan sejak tahun 2010. Praktis sudah 10 tahun, pasar turi terus turu (tidur) tak beroperasional. Pembeli stan, ada yang jerit-jerit tak bisa buka usaha. Siapa yang jadi biang kerok? Pengembang PT Gala Bumi Perkasa, Pedagang atau Pemerintah kota Surabaya.

Tim wartawan Surabaya Pagi sudah menghubungi pengembang PT Gala Bumi Perkasa, pembeli stand, penghuni TPS (tempat penampungan sementara), pejabat Pemkot Surabaya dan stakeholder pasar Turi.  “Saat ini antara Pak Turino Djunaedy, dengan Pak Candra Gozali, sedang negosiasi,” kata salah satu pedagang pemilik stand Pasar Turi.

Totok Lusida, kongsi Turino Djunaedy, membenarkan. “Sedang Proses,” kata Totok, yang kini Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Pusat, minggu ini. Candra Gozali adalah kakak kandung alm Cen Liang. Candra sendiri, salah satu pemegang saham Bank Yudha Bhakti Surabaya di Jalan Raya Darmo ini, konon ahli waris Cen Liang. Sementara, Turino Djunaedy, pengusaha property yang memenangkan tender pembangunan pasar turi, bersama Totok Lusida.

Beberapa pedagang berharap Pasar turi segera beroperasional. Apalagi kontestasi Pilwali Surabaya baru saja rampung. Pasangan Eri Cahyadi dan Armuji, menjadi Wali kota dan Wakil Wali Kota Surabaya yang baru, diharapkan bisa memprakarsai rekonsiliasi para pihak yang bersengketa.

Apalagi Cen Liang, yang dikenal ngeyelan untuk bermusyawarah, telah tiada. “Pak Candra Gozali, orangnya tenang gak temperamental kayak adiknya. Mestinya operasional Pasar turi bisa segera dilakukan lewat musyawarah, gunakan dasar hukum yang ada,” kata beberapa pemilik stan, yang ditemui Surabaya Pagi di sebuah café di kawasan Surabaya Barat, Kamis (17/12/2020) sore kemarin.

 

Berharap Risma dan Eri Cahyadi

Sementara, Sekertaris Paguyuban Pedagang Pasar Turi Korban Kebakaran yang menempati TPS Pasar Turi, M. Ilham, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya segera mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan Pasar Turi. Apalagi, masa jabatan Tri Rismaharini menjadi Wali Kota berakhir Februari 2021, bisa dijadikan prioritas menyelesaikan polemik Pasar Turi yang sudah terkatung-katung selama 10 tahun.

"Saya harap, Pemkot dan bu Risma diakhir jabatan bisa dengan tegas menyelesaikan kasus Pasar Turi ini. Apalagi nanti bisa diteruskan pak Eri Cahyadi, yang kini sudah menang,” kata Ilham, saat ditemui di Sekber Paguyuban Pedagang di TPS Pasar Turi depan PMK Pasar Turi, Kamis (17/12/2020).

Dasar pengambilalihan Pasar Turi, lanjut Ilham, berasal dari keputusan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang menyatakan Henry bersalah dan melakukan tindakan penipuan terhadap pedagang Pasar Turi. "Apalagi sudah ada dasar hukumnya. Putusan Pengadilan Negeri, sudah jelas, kalau bos Gala Bumi Perkasa, almarhum Henry J Gunawan telah menipu pedagang,. Nah, ini bisa dijadikan dasar untuk Pemkot,” jelas Ilham.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pedagang lainnya, Kho Aseng. Dirinya meminta Pemkot untuk bisa mengambil alih pengelolaan Pasar Turi. “Kita ini semua inginnya bisa berjualan lagi di dalam. Tapi tolong semua diklirkan. Ada transparansi dan tidak ada pungutan-pungutan tambahan lain diluar perjanjian yang memberatkan pedagang,” tegas Kho Aseng.

Hal yang diberatkan selama dikelola almarhum Cen Liang, pungutan-pungutan tambahan selalu ditagih oleh PT Gala Bumi Perkasa.

 

Kondisi Sepi bak Kuburan

Sedangkan, saat wartawan Surabaya Pagi melakukan undercover di dalam gedung Pasar Turi Baru yang dibangun Cen Liang dengan PT Gala Bumi Perkasa-nya. Kondisi gedung Sembilan lantai ini bak kuburan.

Bahkan, nyaris tak ada pembeli yang masuk. Hanya wartawan Surabaya Pagi saja yang saat itu melihat-lihat kondisi di lantai satu.

"Cari barang apa mas?" tanya Nurul, sebut saja begitu, salah satu penjual pakaian wanita di Pasar Turi Baru.

“Maunya cari selimut, tapi kok sepi,” jawab Surabaya Pagi.

"Wah sepi mas, wis turu pasarnya sekarang. Koyok kuburan," lanjutnya.

Pengakuan Nurul bukan isapan jempol belaka. Dari pantauan Kamis (17/12/2020) siang, di lantai satu, yang terdiri dari 1.000 stand, hanya 10-15 stand yang buka. Itupun, kondisinya setengah ‘malu-malu’ untuk buka. Sedangkan, lantai dua hingga lantai sembilan ditutup total.

Bahkan, saat Surabaya Pagi hendaok menengok ke lantai dua, kondisinya gelap bak horror. Tak ada penghuni. Eskalator dan lift pun dinon aktifkan. Bahkan, beberapa eskalator menuju lantai dua, dipasang rantai dan papan pemberitahuan yang bertuliskan "Stop Dilarang Naik!".

Pengakuan Nurul, sepinya Pasar Turi Baru ini sejak gedung yang dikelola PT Gala Bumi Perkasa ini dibuka pertama kali tahun 2010 hingga tahun 2020 kini.

Bahkan, lapaknya kini, tambah Nurul, sudah tidak pernah didatangi pembeli.

"Yah nasib saya sih hanya penjualan dari luar. Biasanya kita punya langganan diluar. Disini hanya pasang stok saja, karena stand sudah lunas sejak tahun 2014,” jelas Nurul.

Dari pengakuan Nurul, harga stan miliknya, saat pertama kali ia beli, dibanderol seharga Rp 500 juta. Bahkan, harga satu stand di lantai satu, rata-rata berkisar Rp 500 juta sampai Rp 1,4 Miliar.

 

Bisa Tingkatkan PAD Surabaya

Terpisah, masih tidurnya Pasar Turi juga disorot oleh beberapa anggota DPRD Kota Surabaya. Anggota Komisi C DPRD kota Surabaya Buchori Imron dan Sekretaris Komisi B DPRD Kota Surabaya Mahfudz, mendorong Pemkot Surabaya harus segera menyelesaikan kasus Pasar Turi ini.

"Kami akan terus medorong kepada Pemkot Surabaya untuk segera menyelesaikan kasus pasar turi ini. Karena ini menyangkut nasib para pedagang yang sudah 10 tahun menderita," ungkap Buchori Imron, Kamis (17/12/2020)

Bahkan politisi PKB ini meminta kepada pemimpin Surabaya yang baru saja terpilih untuk memprioritaskan polemik Pasar Turi, seperti pada janjinya.

"Untuk pemempin yang baru kami minta kasus pasar turi ini menjadi prioritas dan fakus untuk menyelesaikannya. Dan jangan takut dengan masa lalu," katanya.

Karena menurut Buchori, Pasar Turi dapat membangkitkan ekonomi kota Surabaya yang sangat besar bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk warga kota Surabaya.

"Kembalikan Pasar Turi sebagai pusat grosir terbesar. Disana itu sekitar 10 ribu pedagang, jika satu pedagang ada 2 pekerja, pasar turi ini mampu menampung 20 ribu pekerja. Dan ini merupakan aset Pemkot Surabaya untuk meningkatkan PAD untuk Surabaya," kata Buchori.

 

Pemkot Harus Sinergi dengan Stakeholder

Hal senada juga diutarakan Mahfudz, meminta kepada wali kota Surabaya terpilih dapat merubah dan mampu menyelesaikan kasus Pasar Turi ini.  “Kami punya harapan yang sangat besar, kepada pemimpin yang baru nantinya, supaya bisa menyelesaikan kasus pasar turi yang sudah puluhan tahun. Karena korbannya tetap rakyat,” ungkap Mahfudz.

Wakil Ketua Fraksi PKB ini, mengatakan dapat dalam kasus pasar turi ini Pemkot harus mau duduk bareng dan bersinergi dengan stek holder yang punya kepentingan pasar turi itu.

“Ini demi rakyat, kalau Pemkot punya keinginan (menyelesaikan), pasti bisa. Kalau tidak punya, yaah akan seperti ini lagi. Gak mari-mari. Makanya saya berharap di tangan pak Eri, bisa jadi prioritas,” katanya.

Menurut Mahfudz yang dibutuhkan para pedagang saat ini keseriusan pemerintah kota Surabaya untuk menyelesaikan kasus pasar turi ini, dan mereka ingin berdagang dengan nyaman. sem/alq/rmc