Manfaatkan Anniversary, ada yang Nyopet, dan Ngrampas

Ratusan Bonek saat memeriahkan HUT Persebaya dijaga ketat oleh petugas kepolisian.

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kericuhan pada malam Anniversary Persebaya ke-94 yang melibatkan 92 bonek dan bonita, sangat disayangkan oleh para pentolan Bonek Surabaya. Namun, berkumpulnya ribuan bonek di dekat area Stadion Gelora 10 November Surabaya, dianggap sebagai bentuk kepedulian dan tradisi. Hanya saja, yang membuat kericuhan dianggapnya oknum bonek yang suka berbuat kriminal.

Hal ini diungkapkan salah satu tokoh suporter 'Bajul Ijo' yakni Husin Gozali, tokoh Green Nord (Bonek Tribun Utara). Husin menyatakan sebenarnya suporter sudah dilarang hadir membuat kerumunan di area stadion. Namun, sejumlah Bonek secara inisiatif dan tanpa dikomando datang ke area stadion.

"Saya tidak ada di lokasi, tetapi kalau dari ceritanya [teman-teman di lapangan], kami kan memang tidak boleh melakukan aksi perayaan di area Gelora 10 November oleh pihak keamanan karena menghindari kerumunan karena memang masa pandemi," ujar Husin, Jumat kemarin.

Hanya saja, berkumpulnya ribuan bonek untuk memadati Stadion G10N dianggap spontanitas teman-teman Bonek. "Sebetulnya, tidak ada perencanaan acara lho. Tapi tradisinya, pusat titik perayaan ulang tahun Persebaya biasanya di Gelora 10 November. Jadi, teman-teman spontanitas kesana. Tanpa dikomando sudah ngumpul sendiri disana. Berjalan ngalir sendiri. Mereka hanya untuk merayakan dan kecintaannya terhadap Persebaya. Hanya saja saya lihat karena imbauan pandemi, tak seramai biasanya," lanjutnya.

Terkait pihak-pihak yang coba merusuh, Husin menyebut selalu ada oknum di setiap tahun perayaan HUT Persebaya. Oknum-oknum ini disebutnya suka berbuat kriminal dengan memanfaatkan situasi dan identitas Bonek.

"Ada beberapa oknum yang tujuannya bukan untuk merayakan, tetapi untuk mengotori. Misalnya, mereka 'kerja' dengan memanfaatkan situasi; ada yang mencopet, merampas, dan melakukan tindakan kriminal. Mereka memanfaatkan nama Bonek," kata Husin.

"Itu yang kami khawatirkan. Setiap tahun memang ada oknum. Tujuannya bukan untuk merayakan anniversary [Persebaya], tetapi memanfaatkan momentum untuk itu [untuk berbuat rusuh dan kriminal]. Ini yang masih sulit kami deteksi dari siapa," lanjutnya.

Intinya, Husin mengatakan dirinya selaku tokoh Green Nord Bonek telah berkoordinasi dengan berbagai pihak agar tidak membuat kerumunan. Ia dan rekan-rekannya sudah coba melakukan imbauan ke Bonek lain, tetapi tetap ada yang tak bisa terjangkau.

"Kami ini berkoordinasi dengan siapa pun, baik dengan Bonek maupun pihak keamanan karena ingin mencegah penumpukan. Cuma mungkin karena ketidaktahuan teman-teman Bonek saja, makanya ada penyekatan oleh pihak keamanan karena ada yang berusaha masuk dari luar Surabaya di perbatasan kota," jelasnya.

Sementara itu, salah satu satu pentolan dan koordinator Bonek, Heri Agus Supriyanto atau yang karib disapa Agus Bimbim Tessy mengaku tak tahu menahu perihal aksi konvoi Bonek menyambut ulang tahun Persebaya tersebut.  "Aku nggak paham kalau Bonek datang ke Tambaksari, mas. Kayaknya mereka juga spontanitas," kata Tessy.

Ia mengatakan, tak ada koordinasi apapun kepada para Bonek itu untuk melakukan aksi tersebut. Menurutnya hal itu adalah inisiatif pribadi mereka.  "Nggak ada koordinasi, nggak ada yang nyuruh, mungkin dari pikirannya sendiri-sendiri aja yang datang ke sana, nggak ada yang nyuruh. Khan sudah biasa," ucapnya.

Tessy mengaku tak habis pikir mengapa Bonek tetap melakukan aksi konvoi dan turun ke jalan, padahal situasi pandemi Covid-19 belumlah usai.  "Nggak tahu mas pusing," pungkas dia. ang/cr3/rmc