Lebaran Saat Pandemi Cocok untuk Introspeksi Diri

Calon pembeli melihat-lihat parsel yang dijual di salah satu toko parsel di Kota Surabaya, Jawa Timur, kemarin. SP/Patrik Cahyo

 

Pendapat Guru, Pangacara, Warga Madura dan Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas II Tanjung Perak

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Tinggal menghitung hari, Lebaran 2021 atau Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah akan tiba. Ketupat, baju koko anyar dan template ucapan selamat siap mengisi hari raya umat Islam tahun ini. Hampir sama dengan tahun 2020, tahun ini masih dalam suasana pandemi Covid-19. Aturan pemerintah yang melarang mudik selama 12 hari menjadi musabab hilangnya kultur mudik yang telah lama berlangsung.  Kendati begitu, pemaknaan Lebaran tak ujung hilang dari pribadi setiap orang. Beberapa tokoh masyarakat baik dari dunia maritim, pengacara hingga pendidikan memaknai Lebaran di tengah pandemi sebagai moment penting untuk kembali ke fitrah.

Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Kelas II Tanjung Perak Mulyadi SH, MH menyampaikan, Lebaran di tengah pandemi covid-19 menjadi moment yang penting bagi masyarakat untuk membantu pemerintah menekan penyebaran virus covid-19.

"(Harus) menjaga kesehatan, tetap menerapkan protokol kesehatan agar masalah covid-19 ini segera berlalu. Pergunakanlah waktu kita untuk perbanyak ibadah dan keluarga," kata Mulyadi kepada Surabaya Pagi, Senin (10/05/2021).

Lebaran tahun 2020 lalu, Mulyadi mengaku tidak melakukan mudik ke Lampung. Walau tak ada larangan pemerintah secara hukum, ia tetap memilih untuk menjalankan tugasnya sebagai aparat pengamanan dunia maritim.

Bersama dengan sejumlah stakeholders di Kementian Perhubungan, ia berupaya mengamankan hilir mudik masyarakat dari wilayah Bali menuju ke Madura. "Kita [terus] memantau kondisi yang saat itu memang belum ada larangan mudik. Karena transportasi [laut] jadi tanggung jawab kita bersama," ucapnya

"Jadi kita fokus untuk antisipasi saja. Lonjakan waktu itu, masyarakat dari Bali mau pulang ke Madura. Bahkan saya Lebaran sampe ke Pelabuhan Jangkar Situbondo. Ada kapal kita yang terus beroperasi di pelabuhan Jangkar dan di Banjarmasin," katanya

 

Video Call

Kendati melaksanakan tugas kemaritiman, ia tak lupa akan keluarga. Sejumlah alat komunikasi dipakenya untuk menghubungi keluarga di Lampung. "Ya lewat video call, alat-alat yang ada itu kita manfaatkan," pungkasnya.

Sesuai dengan aturan satuan gugus tugas covid-19 dalam Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021, tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah, pria asal Lampung ini menghimbau agar masyarakat tidak melakukan mudik Lebaran di tahun ini.

Menurutnya dengan memilih di rumah saja dan tak melakukan pergerakan ke kampung halaman, akan menyelamatkan kuluarga dan orang-orang terdekat dari paparan virus covid-19.

Sama seperti tahun kemarin, tahun ini pun ia tak melakukan mudik. Meski begitu, istri dan 1 orang anaknya telah berada di Surabaya sebelum larangan mudik berlangsung.

"[Keluarga] separuh di sana (Lampung_red), anak saya 1 orang dan istri saya di sini. Dari pada mudik sebaiknya habiskan waktu untuk ibadah dan keluarga. Karena keluarga adalah harta yang paling berharga," tegasnya.

 

Adaptasi Kebiasaan Baru

Sama halnya juga diungkapkan salah seorang pengacara di Surabaya, Zubairi. Bahwa masyarakat mulai harus beradaptasi dengan kebiasaan yang baru lantaran pandemi masih melanda.

"Sebenarnya tidak ada masalah jika memang ada larangan mudik, bagi kaum millenial itu bukanlah hal baru. Namun ini akan menjadi sulit jika harus dihadapkan dengan kaum old yang sudah tidak mengikuti perkembangan zaman," ujar pengacara asal Sumenep itu.

Zubairi menambahkan, pergeseran budaya tentu menjadi hal yang tak bisa dielakkan mengingat kondisi yang mengharuskan masyarakat melakukan hal tersebut.

"Ada setidaknya pergeseran budaya dan sosial di masyarakat. Tapi kita sebetulnya paham jika ini tak bisa lepas dari esensi silaturahmi meskipun secara virtual," ungkap praktisi hukum yang bernaung di Lembaga Bantuan Hukum Amanah Surabaya.

 

Manfaatkan Teknologi

Sedangkan, Ketua Peradi Surabaya Dr. Abdul Salam SH, MH memaknai lebaran saat pandemi lebih pada memutus mata rantai Covid-19 di Indonesia.

“Saya happy saja ketika dirumah, meski dalam keadaan pandemi. Lebaran dirumah dirasa lebih baik karena untuk mnghindari virus covid-19 yang muncul kluster baru – baru ini,”ujarnya Abdul.

Ia menjelaskan untuk mengisi kegiatan dirumah selama Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah bisa dengan melakukan hal yang positif. “Unjung – unjung (silahturahmi) yang biasanya dilakukan dengan bertemu langsung pada kerabat, tetangga maupun keluarga yang jauh, bisa dilakukan melalui Video Call lewat Whatsapps. Misalnya Sidoarjo dan Gresik tanpa harus berpergian,”ungkapnya.

Ia menambahkan bisa menyambung tali silahturahmi selama lebaran tetapi juga harus melihat keadaan tetangga aman dan tidak terpapar covid-19. “Kita lihat dulu tetangga yang sering berpergian jauh, saat silahturahmi ke rumah membawa rapid antigen, minimal menjaga jarak aman tidak bersalam - salaman. Maaf – maafan bisa dilakukan dengan jarak jauh, tanpa bersentuhan,”ucapnya.

Makna sebenarnya Lebaran dirumah lebih baik daripada terkena covid-19, harus khawatir terhadap wabah covid-19. Saran Pemerintah dan satgas Covid-19 harus menaati dan mengikuti aturan demi menjaga kesehatan dengan memanfaatkan teknologi.

Selain itu, Abdul Salam, yang juga sebagai Ketua RT di lingkungannya, menghimbau tidak ada pergi-pergi ke mall. Usai sholat Idul Fitri pun menghimbau umat agar tidak kunjung – mengunjung ke rumah warga langsung pulang. Tidak ada salam-salam langsung disampaikan oleh panitia. “Untuk menghindari covid-19 usai sholat Ied diwajibkan langsung pulang. Selain itu harus menerapkan protokol kesehatan 3M,” ucapnya yang sekaligus sebagai ketua RT Perumahan Pondok Mutiara Sidoarjo.

Ia menyarankan kepada keluarga yang tidak mudik saat lebaran Idul Fitri dengan mengisi waktu dengan berkumpul keluarga. “Bagi warga yang tidak mudik bisa membeli makanan untuk dimasak bersama keluarga sambil enjoy. Sekaligus sambil melakukan video call keluarga yang tidak bisa mudik untuk melepas kangen,”pungkasnya.

Di tempat terpisah, tokoh Madura, Muhammad Mahari Ardiansyah menyatakan hal yang senada dalam memaknai Idul Fitri saat masa pandemi. Ardian (sapaan akrabnya) menyinggung kebiasaan masyarakat dalam merayakan Idul Fitri secara tatap muka.

"Apalagi masyarakat Madura yang tinggal di perantauan, sudah selayaknya mereka merindukan kampung halamannya. Apalagi mereka secara turun-temurun terus melegitimasi budaya mudik," paparnya.

Peran media sosial tentu cukup membantu, namun menurut Ardian sosial media belum bisa menggantikan secara utuh peran silaturahmi secara tatap muka.

"Ini sebuah upaya pemerintah sebenarnya dalam mengatur dan menekan angka Covid yang selama ini belum bisa dibendung. Kita apresiasi itu. Namun adakalanya pemerintah harus menjaga konsistensi dalam menerapkan aturan yang telah dikeluarkan," pungkasnya.

 

Aktivitas Positif

Dari dunia pendidikan, Kepala Sekolah SMP YPPI 1, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si yang juga memilih untuk tidak mudik. Menurut Titris, ada hal-hal positif yang dapat dilakukan di rumah bersama keluarga.

Aktivitas positif di runah kata wanita asal Magetan ini dapat berupa memilihara tanaman, membaca buku atau melakukan hobi-hobi lain bersama dengan keluarga. "Kalau saya membaca buku, merawat tanaman di rumah sambil mendekorasi kembali rumah sehingga terlihat lebih indah dan tidak monoton," kata Titris kepada Surabaya Pagi.

Lebaran tahun 2020 lalu, Titris bersama keluarga melakukan full lock down di rumah. Segala aktivitas di luar rumah dimaksimalkan untuk ditiadakan. Tugas sebagai pengajar pun dilakukannya dari rumah. "Kita full lock down mas, kita gak keluar rumah. Tapi ya itu, kita tetap lakukan aktivitas positif di rumah," ucapnya.

Menariknya selama lock down 2 minggu itu, ia bersama keluarga merancang agenda harian terkait aktivitas-aktivitas positif di rumah. "Misalnya hari pertama merawat tanaman, hari kedua membaca buku begitu seterusnya. Jadi rutinutas kita diisi dengan hal-hal positif," ucapnya.

 

Introspeksi Diri

Saat ditanyai terkait makna Lebaran, ia menjelaskan Lebaran di tengah pandemi harus dijadikan sebagai moment penting untuk introspeksi diri.

"Waktunya bagi kita untuk introspeksi diri, karena pandemi ini karena kita. Kalau kita patuh, menjaga prokes bisa mengurangi. Tidak berpergian, dan melakukan hal-hal yang positif," ucapnya.

Ia juga mewanti-wanti agar masyarakat dapat menahan diri dan menjauhi kerumunan. Mengingat beberapa aturan dari Kementrian Pariwisata yang menghimbau untuk melakukan wisata selama libur Lebaran berlangsung. sem/pat/fm/by/cr2/rmc