Jembatan Bambu Mangrove, Proyek Mercusuar Risma

Kondisi proyek wisata Jembatan Bambu Mangrove yang terlihat mangkrak bahkan kontruksinya rusak di Kawasan Wisata Mangrove, Wonorejo, Surabaya, Kamis (12/11). SP/Patrik Cahyo

 

Habiskan dana APBD Rp 1,2 M, Jembatan Belum Sempat Dimanfaatkan Warga sudah Rusak

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Proyek pengembangan Wisata Jembatan Bambu Mangrove yang terletak di pesisir timur Kota Pahlawan menawarkan wahana wisata tak kalah menarik. Namun justru hingga November 2020, kondisinya justru tidak menarik, mangkrak dan tidak terurus. Padahal, jembatan bambu yang direncanakan sebagai spot wisata baru itu, dibangun dengan dana APBD kota Surabaya sebesar Rp 1,2 Miliar. Bahkan, warga sekitar menilai, jembatan bambu Mangrove dianggap sebagai proyek mercusuar Pemerintah Kota Surabaya era Wali Kota Tri Rismaharini selain Jembatan Surabaya di Kenjeran.

Dari pantauan wartawan Surabaya Pagi, saat mendatangi lokasi, Kamis (12/11/2020), terlihat konstruksi jembatan yang ada di sisi tersebut jalur bambu kondisinya banyak bambu yang runtuh dan rusak karena tidak terurus. Pondasi tiang jembatan yang berkonstruksi cor dan kawat tersebut juga sudah bergeser akan roboh.

Persis di bagian tengah konstruksi jembatan tersebut dipasang peringatan bagi pengunjung yang hendak naik tidak diperkenankan selain itu pintu masuknya juga ditutup menggunakan bambu. Tulisan yang terpasang pada jembatan itu “Dilarang Naik Jembatan dalam pengawasan” dengan berlogo Pemerintah Kota Surabaya.

Beberapa pengunjung yang mendatangi jembatan tersebut merasa kecele karena tidak bisa naik. Selain itu ada pengunjung yang terpaksa berswafoto dengan background jembatan rusak. Hal itu membahayakan pengunjung karena berada di sekitar bambu yang rusak.

 

Mulai Lapuk

Menurut pengakuan dari warga sekitar, bahwa jembatan bambu itu memang belum difungsikan sama sekali karena belum jadi. Namun awal – awal sisi timur yang sudah jadi, ada yang menaiki untuk berwisata dan berswafoto.

“Memang belum difungsikan mas, pengerjaan aja berhenti sampai sekarang. Tidak tahu juga kenapa tidak dilanjutkan padahal bagus spotnya,” ungkap Lestari.

Hal sama juga diungkapkan oleh pedagang yang ada di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, pedagang yang tidak mau dipublish namanya mengungkapkan belum sempat dipakai jembatannya, sudah berhenti sekitar 1,5 - 2 tahun.

“Itu sudah lumayan lama lho. Malah sekarang udah mau runtuh. Apalagi kena panas terus hujan cepat membuat bambunya lapuk dan banyak yang berjatuhan. Ntah kok gini dibiarkan sih. Eman, kok sepertinya jadi proyek mercusuarnya Pemkot. Bu Risma harusnya tau dan turun tangan,”pungkasnya.

 

Belum Ada Anggaran

Bahkan, beberapa petugas yang menjaga di kawasan Mangrove pun tidak mengetahui kenapa proyek pembangunan jembatan bambu Mangrove terhenti.  “Pengerjaannya berhenti sudah lama tidak ada kelanjutan lagi. Bisa jadi kontraktornya meninggalkan proyek ini karena dianggap rugi. Tapi saya juga gak tau, mas,”ungkap Faisal salah satu petugas yang berada di kawasan Mangrove, Kamis (12/11/2020).

Ia menambahkan kondisi jembatan juga sudah dipasang tali untuk mengantisipasi agar tidak roboh konstruksi pilarnya. Faisal pun menyarankan untuk mendatangi di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surabaya (DKPP). “Coba sampeyan langsung ke kantor DKPP aja,” tambahnya.

Namun saat di DKPP Pemkot Surabaya, menurut Yuniarto Herlambang, Kepala DKPP Surabaya hanya menjawab kalau belum ada anggaran. “Belum dibenahi, belum ada anggaran,” ujar Yuniarto Herlambang. Rencananya, tambah Yuniarto, perbaikan dilakukan ketika anggaran sudah normal.

 

Asal Dikerjakan

Terpisah, anggota Komisi C DPRD Surabaya, Buchori Imron, menuding mangkraknya Jembatan Bambu Mangrove, karena saat pembangunan, Pemkot tidak didukung dengan DED (Detail Engeenering Design) yang matang. “Keliatan sekali khan, kalau proyek itu tanpa perencanaan dan DED (Detail Engineering Design) yang matang,” ujar Buchori.

Ketua DPC PPP Kota Surabaya ini menuturkan, jika Wali Kota Tri Rismaharini dalam setiap proyeknya terkesan asal dikerjakan.  “Itu padahal proyek jembatan mangrove kecil. Tapi kalau sampai roboh banyak wisatawan datang ke sana kan memalukan, masak Pemkot nggak punya tenaga di paling bawah, tempat wisata kok amburadul. Keliatan asal kerjakan aja,” tegas Buchori.

Anggota DPRD Surabaya dua periode ini mempertanyakan anggaran pembangunan jembatan dengan bahan bambu yang menghabiskan dana Rp 1,2 Miliar sungguh tidak masuk akal. Secara kasat mata saja bisa diperkirakan, estimasi anggaran yang dibutuhkan harusnya dikisaran ratusan juta itu pun sudah sangat cukup dan jembatan yang dihasilkan pasti berkualitas. “Itu (Rp 1,2 miliar) tidak masuk akal, kalau saya hanya bahan bambu ratusan juta sudah cukup,” tutur Buchori.

Menurutnya, selama ini DPRD Surabaya sebagai fungsi kontrol pemkot, terutama Komisi C yang membidangi pembangunan tidak pernah diajak diskusi untuk memberi masukan dalam setiap proyek pembangunan. pat/alq/byt/cr2/rmc