Indonesia Negara Kalah Perang

Karikatur

Dinyatakan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, Ciri Negara yang tak Mampu Produk Vaksin dan Masih impor Vaksin

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj mengatakan saat ini masa pandemi Covid-19 adalah perang biologis. Dan negara yang masih mengimpor vaksin Covid-19 ciri negara yang kalah.

"Adanya Covid-19 ini ada perang baru, perang biologi, perang vaksin. Negara yang mampu memproduksi vaksin akan jadi pemenang dalam perang ini. Negara yang tak mampu, hanya impor saja, itu lah negara yang kalah," kata Said saat berpidato di acara Haul Emas KH Wahab Chasbullah ke-50, dilansir dari kanal YouTube NU Channel, Rabu (Rabu (23/6/2021).

 

Produksi Vaksin dalam Negeri

Sebelumnya Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, tidak memberi izin untuk kelanjutan uji klinis fase kedua vaksin Nusantara yang diinisiasi Dr. dr Terawan, mantan Menteri Kesehatan.

Dengan demikian sampai Juni 2021, Indonesia belum bisa produksi vaksin sendiri.

Padahal Kementerian Keuangan telah merealisasi anggaran untuk vaksinasi Covid-19 hingga 30 April 2021 mencapai Rp7,39 triliun.

Menurut Otoritas fiskal dalam akun resmi media sosialnya realisasi itu setara 53,12% dari pagu Rp13,92 triliun. Tercatat hingga 30 April 2021, pemerintah telah 10 kali mendatangkan vaksin Covid-19 Sinovac dan Astrazeneca.

Menurut data Kementerian Kesehatan, total 104.728.400 dosis vaksin yang telah diterima Indonesia sampai dengan 20 Juni 2021. Rinciannya adalah 94.500.000 dosis Sinovac, 8.228.000 dosis AstraZeneca, dan 2.000.000 dosis Sinopharm.

Menkes Budi menyatakan proses impor vaksin akan terus berlanjut sesuai dengan komitmen dari para produsen. Baik Menkes maupun BPOM belum menyatakan produksi vaksin dalam negeri.

 

Indonesia Dikuasai Asing

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj menyebut Indonesia justru berpotensi dikuasai oleh asing melalui vaksin corona.

Ironisnya, kata Said Agil, Indonesia bahkan sampai saat ini masih belum menyelesaikan pengembangan vaksin corona untuk varian Covid-19 pertama.

“Kita belum mampu (mengembangkan) vaksin yang tahap pertama, penyakitnya atau pandeminya sudah meningkat ke level yang ketiga,” tambah Said Aqil Siradj.

Dia pun menyebutkan negara-negara yang akan terlibat dalam perang biologi ini, sementara Indonesia hanya akan menjadi penonton dalam 'perang vaksin corona'.

“Ini, akan terjadi perang vaksin Amerika, Jerman, RRC. Ini terjadi perang vaksin, kita ini hanya penonton, bisanya cuma importir. Itu pun entah uangnya dapat utang apa, dari mana, enggak tahu saya, atau dapat (dari) motong-motong anggaran, barangkali,” tutur Said Aqil Siroj.

 

Perang Biologis

Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa saat ini dunia tengah mengalami perang biologi, yang dikuasai oleh para pengembang vaksin corona.

“Jadi sekarang sedang ada perang biologi, di mana penguasa industri kesehatan, vaksin misalkan, menjadi panglima yang dapat menguasai dan mempengaruhi kebijakan suatu negara,” ingat Said Aqil Siroj.

Dia pun menyebut negara pengembang vaksin corona berpotensi untuk mendikte negara-negara penerima yang tetap ingin melindungi warganya dari pandemi Covid-19.

“Kita akan didikte oleh negara yang memproduksi vaksin, mudah-mudahan tidak separah atau tidak sebahaya yang kita bayangkan. Tapi jelas kita akan didikte oleh negara yang punya vaksin,” kata Said Aqil Siroj.

Said mengingatkan, virus corona kini sudah bermutasi dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Sedangkan Indonesia, kata dia, masih belum mampu menghasilkan vaksin yang mujarab.

"Padahal pandemi ini sudah berubah varian, muncul yang lebih ganas itu varian delta. Itu butuh vaksin yang lebih canggih lagi, lebih canggih lagi. Kita belum mampu membuat vaksin yang pertama, tapi pandeminya udah meningkat ke level ketiga," cetusnya.

 

Negara Produsen Vaksin

Menurut Said, negara-negara produsen vaksin Covid-19 bakal menjadi pemenang. Dia khawatir jika Indonesia dikendalikan negara lain, terutama dalam membuat suatu kebijakan.

"Perang biologi, penguasa industri, kesehatan, industri vaksin misalnya, menjadi panglima yang dapat menguasai kebijakan suatu negara. Kita akan didikte oleh negara yang memproduksi vaksin," tandasnya.

 

Fakultas Kedokteran Kaji Ulang

Meningkatnya kasus positif Covid-19 membuat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya mengkaji ulang pembelajaran tatap muka (PTM) yang direncanakan digelar bulan Juli 2021.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Dr. dr. Budi Santoso, SpOG (K) di Surabaya, Rabu mengatakan naiknya kasus Covid-19 di sejumlah daerah berdampak pada pendidikan luring atau pembelajaran tatap muka yang direncanakan digelar pada bulan Juli 2021.

“Kami masih mengkaji pelaksanaan pendidikan luring, khususnya untuk dokter muda yang sudah akan dikembalikan seperti sebelum masa pandemi. Tentu itu tidak memungkinkan,” kata Prof. Budi.

Kendati demikian, Prof. Budi menyatakan pihaknya sedang mencari formula terbaik agar proses pendidikan berjalan dan lulusan FK Unair berkompeten dengan tetap mengedepankan keselamatan anak didik.

Selama ini, lanjut Prof. Budi, pendidikan luring di dokter muda (DM) sudah terjadi sejak 9 November 2020. Saat itu DM jadikan satu yakni DM 1 yang mempelajari medik kumpul dengan DM 1. Kemudian, sejak saat itu para dokter muda dibagi per kelompok atau klaster untuk belajar.

FK Unair juga merencanakan pada bulan Juli DM 2 juga mulai kembali pada seperti sebelum pandemi. DM 1 pun masuk ke departemen-departeman dengan jumlah waktu yang dibagi minggu-mingguan.

“Tapi dengan kondisi seperti sekarang kok nampaknya tidak memungkinkan. Namun masih akan kami kaji lebih lanjut, karena kondisinya masih sangat memprihatinkan,” katanya. n ang/lad/erc/rmc