Aktivitas Ekspor-Impor di Terminal Petikemas Surabaya Aman

Aktivitas eksport dan import di terminal petikemas Surabaya. SP/ Dokumen terminal petikemas Surabaya

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kelangkaan kontainer dan keterbatasan ruang atau space di kapal yang terjadi secara global mengakibatkan aktivitas eksport dan import di berbagai negara terhambat.

Kelangkaan ini juga terjadi akibat ada beberapa destinasi tertentu yang oleh pelayarannya melakukan pembatasan eksport dan stop booking, guna menghindari penumpukan peti kemas full di pelabuhan transhipmen.
 
Salah satu negara yang melakukan pembatasan ekspor namun menjadi destinasi import adalah negara Amerika Serikat. Laporan CEIC Data pada November 2020 menyebutkan, import Amerika Serikat mencapai 213.0 USD bn. Angka tersebut naik bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 206.6 USD bn.
 
"Memang Amerika menjadi negara yang cukup menarik bagi para pengekspor," kata Corporate Communications PT. Petikemas Surabaya, Retno Utami kepada wartawan Surabaya Pagi, Senin (01/02/2021).
 
Celakanya, alih-alih melakukan ekspor ke Amerika, negara Paman Sam ini justru membatasi ekport  barang ke negara lain. Alhasil penyediaan peti kemas di berbagai negara ikut berkurang.
 
"Ini yang menjadi salah satu faktor penyebabnya, kontainer jadi langka," ucapnya.
 
Meski begitu, Retno mengaku pihaknya terus mengupayakan agar kelangkaan kontainer tidak berpengaruh pada aktivitas eksport dan import khususnya di terminal petikemas Surabaya.
 
"Kita tetap pada batasan maksimal. Jangan sampai isu kelangkaan konteiner membuat aktivitas ekport dan import di sini jadi terhambat," ujarnya.
 
"Tapi sejauh ini masih aman," tambahnya.
 
Data ekport dan import di terminal petikemas Surabaya hingga Desember 2020 masing-masing adalah 6,31 teus untuk ekport dan import 6,57 teus. 
 
"Relatif cukup berimbang," singkatnya.
 
Untuk negara yang menjadi tujuan eksport selain Amerika ada pula negara lain di wilayah Asia. Beberapa diantaranya adalah Malaysia, Singapore, Jepang, Filipina, Hong Kong, India dan Thailand.
 
Sementara untuk negara pengimport sejauh ini masih dipegang oleh negeri tirai bambu, Cina.
 
"Memang Cina menjadi negara yang rutin mengirimkan barang ke Indonesia," aku Retno.
 
Untuk komuditas barang yang dikirim pun beragam. Mulai dari bahan pangan hingga barang-barang yang dipergunakan untuk dunia industri. Sem