5 BUMN Rugi, Termasuk Jiwasraya

Menteri BUMN Erick Thohir

 

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ada sedikitnya empat perusahaan BUMN yang mengalami kerugian selama dikendalikan Menteri BUMN Erick Thohir. Keempat perusahaan itu anak perusahaan Pertamina, yakni Perusahaan Gas Negara (PGN). Perusahaan ini alami kerugian Rp3,8 triliun. Kedua, Waskita Karya yang rugi Rp7 triliun dan memiliki utang Rp90 triliun.

Ketiga, Garuda Indonesia selama pandemi merugi hingga Rp16 triliun. Keempat, PT Pelni yang juga bisa turut mengalami kerugian hingga Rp862 miliar. Semua akibat pandemi Covid-19. Kecuali PT Asuransi Jiwa Sraya.

Penyebabnya karena akumulasi dari dampak pandemi dan juga sebelumnya salah pengelolaan. BUMN rugi terbesar tahun ini dicatatakan PT Asuransi Jiwaraya (Persero), nilainya mencapai Rp 37,4 Triliun. Nilai kerugian yang begitu besar terjadi akibat kesalahan investasi dari management Jiwasraya.

Aktivis Pro Demokrasi (ProDem) Nicho Silalahi menilai bahwa hanya di kepemimpinan Presiden Joko Widodo, banyak perusahaan BUMN yang alami kerugian.

Melalui akun Twitter pribadinya @Nicho_Silalahi pada Senin, (12/4/ 2021), Nicho Silalahi melontarkan sindiran dengan memberikan apresiasi kepada Jokowi atas “pencapaian” tersebut.

Selain itu dia juga menyinggung soal pembangunan infrastruktur yang kerap menjadi andalan Jokowi, namun ada yang berakhir “gagal” seperti Bandara Kertajati di Jawa Barat.

Twitter @Nicho_Silalahi

“Mantap pak @jokowi di kepemimpinan bapak sebagai presiden banyak BUMN Mengalami kerugian dan Itu prestasi yang spektakuler patut dibanggakan, oh ya pak perbanyak terus infrastruktur yang gak berguna seperti bandara Kertajati itu biar cepat negara ini bangkrut,” ujar Nicho Silalahi.

Cuitan Nicho Silalahi

Sebagai informasi, dikutip dari Antara, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 31 Desember 2020, Waskita Karya mencatatkan kerugian bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp7,3 triliun.

Kerugian tersebut akibat peningkatan beban pinjaman dari investasi jalan tol, penurunan produktifitas proyek, serta beban operasi yang cukup besar akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, pelaksaan divestasi yang telah direncanakan juga tertunda akibat pandemi Covid-19. Dari target lima ruas yang akan dilepas, perseroan hanya bisa merealisasikan satu ruas saja.

Di sisi lain, Waskita Karya membukukan pendapatan usaha sebesar Rp16,2 triliun pada tahun 2020, atau terkoreksi 48 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp31,4 triliun.

Selain itu, Waskita Karya juga mencatatkan beban operasi sebesar Rp19,87 triliun atau 123 persen dari capaian pendapatan usaha pada 2020.

Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan beban bahan baku dan beban overhead akibat pandemi, serta adanya beberapa klasifikasi ulang dalam pos laba rugi.

Selama pandemi Covid-19, Waskita Karya pun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk implementasi protokol kesehatan di lingkungan kerja perusahaan.

Segmen bisnis jasa konstruksi tercatat menyumbang 90 persen dari total pendapatan Waskita pada tahun 2020. Semula jumlah BUMN ada 142 dan kini dirampingkan menjadi 41. n erc/rmc