ZIARAH PUTI DAN MAS KAREBET

Adalah Mas Karebet atau masyhur dengan julukan Joko Tingkir. Seorang wiratamtama pilih tanding Kesultanan Demak pada masa Sultan Trenggana (1521-1546). Sebagai tamtama muda, popularitas dan kewibawaan Mas Karebet bahkan jauh melampaui para Senopati dan Panglima atasannya. Semua itu karena bakat kepemimpinan dan kesaktiannya yang sulit dicari bandingan ketika itu. Mendengar nama gurunya saja, yakni Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela, orang sudah susah mengukur seberapa sakti Mas Karebet ini. Tapi justru karena kesaktiannya itulah Mas Karebet diusir secara tidak terhormat dari istana Demak oleh Sultan Trengana sendiri.

Ya ya ya. Dalam sebuah seleksi calon prajurit, Mas Karebet yang tengah emosi karena kesombongan salah seorang calon prajurit, terpancing bertindak sombong pula. Hanya dengan selembar daun sirih yang dilinting Mas Karebet membunuh Dadung Awuk, si calon prajurit yang memamerkan kekebalan tubuhnya. Dadanya tembus oleh hujaman daun sirih Mas Karebet, bersimbah darah, meregang nyawa. Sikap dan tindakan Mas Karebet yang berlebihan jni dianggap oleh Sultan sebagai kosombongon yang tak perlu. Sultan murka dan mengusir Mas Karebet detik itu juga dari istana Demak.

Dengan kepala tertunduk penuh penyesalan Mas Karebet meninggalkan istana. Seluruh impian dan cita-cita untuk mengabdi dan meniti karir di Demak bagai dihempas badai, lenyap tanpa bekas. Perjalanan penuh sesal membawa kaki Mas Karebet ke hadapan Ki Ageng Banyubiru (sekarang wilayah Weru Sukoharjo). Berserah total dalam didikan fisik, mental dan spiritual Ki Ageng yang nota bene adalah pamannya sendiri, Kebo Kanigoro kakak kandung almarhum ayahnya Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging. Dua tahun Mas Karebet ditempa luar dalam oleh Ki Ageng Banyubiru. Hingga tibalah waktunya. Menurut Ki Ageng Banyubiru untuk bisa kembali ke istana Demak dan meraih sukses sebagaimana yang diimpikan, Mas Karebet harus laku ziarah keliling ke makam para wali, para leluhur dan diakhiri di makam orang tuannya Ki Ageng Pengging Kebo Kenongo di Desa Butuh (sekarang di wilayah Sragen). Dan jika di makam Ki Ageng Pengging nanti Mas Karebet menjumpai seekor kerbau gila atau Kebo Ndanu, maka dia harus memasukkan segenggam tanah pekuburan ayahnya ke telinga kerbau itu.

Dengan rasa tawadhu tanpa sedikitpun bertanya Mas Karebet beranjak melaksanakan perintah paman dan sekaligus gurunya itu. Menyisir ziarah makam para wali, mulai Sunan Geseng (Purworejo), Sunan Tembayat (Klaten), Adipati Andayaningrat (Boyolali), Ki Ageng Tarub (Purwodadi) hingga akhirnya bersimpuh di pusara sang ayah Ki Ageng Pengging di Desa Butuh. Selesai berdoa Mas Karebet mengambil segenggam tanah kubur ayahnya, dan benar seperti pesan Ki Ageng Banyubiru, keluar dari tanah pekuburan dijumpai seekor kerbau berukuran super besar. Kebo Ndanu. Maka dengan sigap Mas Karebet memasukkan tanah pekuburan digenggamannya ke dalam telinga kerbau tersebut.

Maka begitu telinganya tersumbat tanah kubur, sang kerbau langsung beringas, berlari pontang-panting tanpa kendali, menabrak dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Sepanjang desa yang dilalui amuk Kebo Ndanu jadi porak poranda tanpa seorangpun mampu menghentikan keganasan sang kerbau. Sesuai pesan Ki Ageng Banyubiru, Mas Karebet hanya mengikuti sepak terjang Kebo Ndanu dari kejauhan. Hingga laju Kebo Ndanu tiba di Pesangrahan Sultan Trenggana yang tengah berburu di hutan Tingkir (Boyolali). Pesanggrahan Sultan diobrak-abrik oleh Kebo Ndanu tanpa seorang prajurit dan tamtamapun mampu menghentikan. Tak satu senjatapun yang mampu menembus kulit Kebo Ndanu. Hingga tinggal sejengkal lagi tanduk tajam Kebo Ndanu menyeruduk dan menembus dada Sultan, saat itulah Mas Karebet baru bertindak. Sekali loncat dan sekali pukul, pecahlah kepala Kebo Ndanu dihadapan Sultan yang hampir saja kehilangan nyawanya.