•   Sabtu, 4 April 2020
Ekonomi China

Yuan Melemah, Strategi China untuk Melancarkan Ekspornya

( words)
Mata Uang Yuan,SP/CBC


SURABAYAPAGI.com – Bursa saham utama kawasan Asia masih elum bisa melepaskan diri dari zona merah, pada penutupan perdagangan hari ini, indeks Nikkei turun 0,33%, indeks Shanghai jatuh 0,32%, dan indeks Kospi melemah 0,41%.

Seharusnya, masih ada secerca harapan bagi perekonomian dikawasan Asia pada khususnya, terkait perdamaian dalam perang dagang. dalam wawancara dengan CNBC International, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump masih terbuka untuk menandatangani kesepakatan dagang dengan China.

Jika kesepakatan dagang kedua negara bisa diteken, Kudlow menyebut bahwa akan ada fleksibilitas terkait dengan bea masuk terhadap produk impor asal China.

"AS akan mulai, pada tanggal 1 September, mengenakan bea masuk tambahan dengan besaran yang kecil yakni 10% terhadap sisa produk impor asal China senilai US$ 300 miliar yang masuk ke negara kita," cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.

Pengumuman dari Trump ini datang pasca dirinya melakukan rapat dengan Menteri keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer terkait dengan hasil negosiasi di Shanghai pada pekan kemarin.

China tak dapat menerima perlakuan sewenang wenang AS tersebut dan menyatakan sikao akan membalas perbuatan tersebur. Kemarin pagi waktu setempat, China mengumumkan balasan terkait dengan bea masuk baru yang akan dieksekusi oleh AS pada awal September mendatang dengan mengonfirmasi pemberitaan bahwa perusahaan-perusahaan asal China akan berhenti membeli produk agrikultur asal AS.

Melansir CNBC, perusahaan-perusahaan asal China telah berhenti membeli produk agrikultur asal AS sebagai respons dari rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baru yang menyasar produk impor asal China senilai US$ 300 miliar.

Aksi jual di bursa saham Asia tetap dilakukan pada hari ini seiring dengan langkah yang diambil People’s Bank of China (PBOC) selaku bank sentral China untuk terus menetapkan titik tengah yuan di level yang lebih lemah.

Dilansir dari International, PBOC menetapkan titik tengah yuan pada hari ini di level 6,9996/dolar AS, lebih lemah dibandingkan titik tengah pada perdagangan kemarin di level 6,9683/dolar AS. PBOC terus saja melemahkan yuan kala Kementerian Keuangan AS sudah melabeli China dengan julukan "manipulator mata uang".

Disebabkan oleh langkah pemerintah China yang terus melemahkan nilai mata uangnya sendiri untuk meningkatlan ekspor barangnya, hal tersebut dianggap mampu memberikan balasan terhadap seluruh sikap AS selama ini

Dikhawatirkan, langkah dari bank sentral China ini akan membuat AS semakin panas yang pada akhirnya akan berakibat pada kian sulitnya kedua negara untuk meneken kesepakatan dagang.

Berita Populer