Xianfeng, Kaisar yang Kalah Hanya Karena Harta, Tahta, dan Wanita

Napak Tilas Kekaisaran Dalam Dinasti China Kuno (10)
SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Aisin Gioro Yizhu (1831-1861) adalah kaisar ketujuh Dinasti Qing yang memerintah di Tiongkok sebagai Kaisar Qing Wenzong dengan nama era Xianfeng (1850-1861) yang berarti kemakmuran universal. Namun, di masa ia memerintah, pemerintahannya adalah masa kemunduran bagi Tiongkok karena ketidakberdayaannya menghadapi rongrongan bangsa-bangsa asing dankorupsi yang merajarela di berbagai tingkat pemerintahan.

Masa pemerintahan Xianfeng merupakan masa kedua setelah masa pemerintahan Daoguang dimana Tiongkok mulai kehilangan wibawanya. Perang Candu dalam dua jilid ditambah pemberontakan yang meluas hampir saja merubuhkan Dinasti Qing lebih awal. Kedamaian panjang Qing di masa tiga kaisar (Kangxi – Yongzheng – Qianlong) membuat pasukan Qing tidak mawas diri dan kemampuan tempurnya merosot dan di sisi lain ancaman seberang lautan meningkat. Kaisar Qing Wenzong juga melakukan pemecatan dan pengangkatan gubernur secara intens sebagai reaksinya terhadap Pemberontakan Taiping.

Yizhu naik tahta pada tahun 1850 dengan gelar Xianfeng, saat itu usianya baru 19 tahun. Setahun setelah naik tahta, Xianfeng, memilih wanita-wanita cantik dari seluruh penjuru negeri untuk mengisi istana belakangnya. Ia sangat tergila-gila pada seorang gadis bernama Lan’er/ Selir Yi, putri seorang pejabat Manchu bermarga Yehenara, yang pintar menari dan menyanyi. Gadis inilah yang kelak menjadiIbusuri Cixi, si wanita gila kuasa yang menjerumuskan Tiongkok dalam bencana. Selain Selir Yi, Xianfeng juga sangat menyayangi empat orang selirnya dari etnis Han yang dikenal sebagai ‘empat gadis musim semi’.

“Harta, Tahtah, Wanita bisa mengalahkan seorang laki-laki memang benar adanya,” kata sejarahwan.

Xianfeng mewarisi negara yang sudah dalam keadaan bobrok. Tiongkok saat itu bukan saja menghadapi tantangan dari bangsa-bangsa asing, tetapi juga dari dalam negerinya sendiri dimana korupsi sudah seperti hal yang lumrah, keterpurukan moral karena perdaganganopium yang tidak terkendali, ketidakadilan terjadi dimana-mana sehingga meletus berbagai pemberontakan anti-pemerintah.

Beberapa usaha telah dilakukan unuk mengatasi krisis, seperti memecat pejabat-pejabat korup kesayangan ayahnya, sepertiMu Zhang’a danQiying. Tetapi semuanya tidak memberi dampak yang signifikan. Karena Xianfeng sendiri bukanlah orang yang tegas dan berwibawa. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan para selirnya, menonton opera, dan minum-minum sampai mabuk, selain itu ia juga seorang pecandu opium.

Pada masa pemerintahannya di dalam negeri meletusPemberontakan Taiping,Pemberontakan Nian, dan beberapa pemberontakanMuslim di wilayah barat daya. Xianfeng tidak dapat berbuat banyak menghadapi tekanan-tekanan bangsa asing. Pada jamannya pula, ditandatangani dua perjanjian tidak adil yang sangat mempermalukan bangsaTionghoa, yaituPerjanjian Tianjin (1858) danKonvensi Beijing (1860). Posisi Tiongkok terpuruk menjadi negara semi-kolonial yang tengah melakukan serbuan-serbuan ekspansi di wilayah Asia termasuk Tiongkok.

Xiangfeng sangat tidak berdaya dalam menghadapi serbuan itu, dikarenakan di dalam negeri sendiri masih sibuk menumpas pemberontakan Taiping dan faktor teknologi militer yang jauh tertinggal dengan musuh. Hingga akhirnya Xianfeng mengutus Yixin untuk melakukan negosiasi dengan bangsa barat, tetapi tidak memberi hasil yang memuaskan dan berakhir kekalahan.

Kekalahan ini didapat karena Xiangfeng berubah menjadi seorang yang pengecut, Xiangfeng pergi meninggalkan Beijing untuk melarikan diri dengan membawa koleganya dan membiarkan prajurit dan rakyatnya merana hingga akhirnya kalah prajurit beserta rakyatnya meninggal mengenaskan.

Saat Xiangfeng meninggalkan Beijing, Xiangfeng tidak pernah meratapi kesalahan yang ia buat. Xiangfeng malah menghabiskan hari-hari terakhirnya di Chengde dengan minum-minum dan opium sebagai pelampiasan atas rasa frustasinya sampai akhirnya kesehatan Xiangfeng dari hari ke hari memburuk.

Xianfeng akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 22 Agustus 1861 di vila musim panas kekaisaran. Ia adalah kaisar kedua yang menjemput ajal di sana setelah kakeknya,Kaisar Jiaqing.