•   Rabu, 29 Januari 2020
Ekonomi China

Warga Surabaya Bangga Punya Masjid Cheng Hoo

( words)
Arsitektur masjid Cheng Hoo yang unik dan menggabungkan kultur nusantara dan Tionghoa.


Mungkin sebagian orang belum tahu bahwa Masjid Cheng Hoo yang pertama di Indonesia, ada di Surabaya. Letaknya ada di jalan Gading No.2. Kebanyakan orang lebih familiar dengan masjid Cheng Hoo di Pandaan. Padahal sebenarnya itu adalah bangunan kedua setelah di Surabaya.
Wartawan SurabayaPagi, Indra

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Ustad Ahmad Hariyono Ong, SHI. MEI, selaku Takmir Masjid Ceng Hoo Surabaya menjelaskan awal mula berdirinya Masjid Cheng Hoo ya di Surabaya, kemudian baru di Pasuruan, Jember, Banyuwangi, dan Malang Selatan.

“Jadi di Jawa Timur ada 5 Masjid, dan semua bangunannya hampir sama namun pengelolahannya dan pendirinya saja yang berbeda,” kata Ustad Ahmad Hariyono Ong, SHI. MEI.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya atau yang lebih dikenal dengan Masjid Cheng Hoo menjadi destinasi wisata religi yang bisa dikunjungi masyarakat baik dari Surabaya atau kota sekitar. Banyak para jamaah yang mengabadikan moment foto di masjid dan sekitarnya.

Konon katanya, kehadiran masjid ini untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo dan warga Tionghoa muslim, juga sebagai kebanggaan warga Surabaya karena memiliki sebuah masjid dengan gaya Tionghoa. Pada 13 Oktober 2002 diresmikanlah Masjid dengan arsitektur Tiongkok ini.

Nama masjid ini berasal dari sosok penghormatan pada Cheng Hoo, seorang Muslim berperawakan tinggi yang pernah berlayar dari China hingga ke pantai Afrika. Kedatangan Cheng Hoo saat itu disambut baik karena ia menghormati wilayah yang ia singgahi.

Pembangunan masjid ini dibuat mirip seperti klenteng. Uniknya, arsitektur masjid diilhami dari Masjid Niu Jie di Beijing. Sedangkan pintu utama masjid bernuansa Timur Tengah, dan temboknya bernuansa Jawa.

Berbagai ornamen dari seni kaligrafi dan aksara China yang menghiasi bagian langit-langit masjid. Setiap sudut bangunan masjid ini memiliki makna filosofi seperti atap masjid berbentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba.

Anak tangga di pintu kanan dan kiri masjid memiliki 5 dan 6 yang mana menyimbolkan rukun Islam dan rukun iman. Dan, pintu masjid tidak memiliki daun pintu yang melambangkan bahwa masjid ini terbuka bagi siapa saja.

Warnanya pun menarik, dominasi empat warna seperti warna merah, kuning, biru, dan hijau. Dalam kebudayaan Tionghoa, keempat warna tersebut adalah simbol kebahagiaan, kemasyhuran, harapan dan kemakmuran. Hal tersebut langsung menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan yang sedang melewati dan singgah wilayah ini.

Sementara itu, Masjid Cheng Hoo Surabaya didirikan oleh 13 Orang Pendiri. Salah satu penggagas berdirinya Masjid M. Cheng Hoo Surabaya adalah H.M.Y. Bambang Sujanto dan dikelola oleh para pengurus PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya.

Beberapa aktifitas keagamaan tentunya mewarnai masjid ini pada setiap Minggunya selain tempat untuk sholat. Seperti pengajian rutin, kuliah subuh tiap hari akhad atau Minggu. Dan para pesertanya dari daerah mana saja, karena memang untuk umum.

"Selain itu ada dzikir dan doa bersama 100 jamaah tiap jumat setelah magrib sampai menjelang isyak. Kemudian pengajian rutin setiap akhad atau minggu jam 7 pagi. Juga ada agenda bulanan seperti Kajian Tasyawuf setiap sabtu legi (kalender jawa) yang dibina oleh KH. Muhammad Nizam Ashofa dari Wonoayu pada jam 8 malam," katanya.

"Nah ini mulai tahun depan ngaji bareng, bersama ketua PWNU Jatim KH. Marzuki Mustaman tiap Minggu akhir bulan jam 19.00. Agendanya setiap bulan sekali, rencananya akan dimulai akhir bulan ini. Insyaallah bisa terlaksana," lanjut dia.

Selain beberapa kegiatan diatas, ada kegiatan tahunan seperti peringatan Isra Mi’raj, tahun baru Hijriyah, Maulid Nabi dan peringatan islam lainnya.

Ia menjelaskan jika di Ceng Hoo Surabaya ini mayoritas jamaah atau pengunjungnya berasal dari umum, hanya 5 hingga 10 persen dari warga Tionghoa. "Karena memang tidak banyak warga Tionghoa yang beragama islam," tutupnya.

Berita Populer