Kos-kosan Mewah Jelang Puasa

Warga Kampung Terusik karena Diduga Jadi Tempat Mesum

Menjelang bulan suci Ramadhan yang tinggal tiga minggu lagi, belum terlihat upaya Kepolisian maupun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan menertibkan rumah kos. Pengalaman sebelumnya, petugas kerap mendapatkan pasangan tak resmi (mesum atau selingkuh) maupun positif narkoba setiap kali merazia kos-kosan. Utamanya kos-kosan mewah yang fasilitasnya mirip hotel. Kos-kosan ini banyak ditemui di daerah Surabaya barat. Bagaimana kondisinya saat ini? Berikut ini penelusuran wartawan Surabaya Pagi.
-----------
Kos-kosan dengan tarif Rp 1,7 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan, bisa ditemui di sejumlah tempat di daerah Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis dan sekitarnya. Pemilik kos mengelolanya bak hotel dengan memberikan fasilitas lengkap. Mulai kamar mandi dalam, televisi, springbed, lemari pakaian hingga fasilitas AC.
Di seputar jalan Dukuh Kupang, misalnya. Sekitar delapan RT di wilayah tersebut, rumah kos bak jamur di musim penghujan. Puluhan rumah kos mewah berjajar. Selain rumah kos khusus mahasiswa, dominasi rumah kos mewah itu kebanyakan dihuni oleh wanita pekerja malam (hiburan malam). Padahal, lokasi pemukiman tersebut tak jauh dari kantor Polisi Sektor (Polsek) Dukuh Pakis. Juga dekat kantor kelurahan.
Meski lokasinya dalam lingkungan pemukiman, kos-kos mewah itu terbilang ekslusif. Selain bangunannya yang lebih mewah daripada rumah warga kampung, penghuninya keluar masuk banyak mengendarai mobil.
Petugas jaga pemukiman yang ditemui Surabaya Pagi mengungkapkan setiap malam hari, hampir tak pernah berhenti aktifitas warga kos yang keluar masuk kampung. Bahkan ada beberapa warga kos yang menginapkan tamunya di rumah kos tersebut.
"Ya gini ini mas. Parkir mobil sembarangan, tiap malam ada saja yang keluar masuk. Bahkan ada yang sampai menginap dari malam gini, dua tiga jam keluar, kadang besok paginya baru pulang," ujar pria yang tak mau disebut namanya itu kepada Surabaya Pagi, kemarin malam.
Meskipun telah diberlakukan aturan norma kampung di wilayah tersebut, namun pemilik kos yang nakal enggan mematuhi aturan tersebut lantaran mereka seolah memiliki "power" . "Ada beberapa rumah kos yang memang sering digunakan untuk mesum. Pasangan bukan suami istri sekamar. Itu pernah dirazia dulu sekitar pertengahan 2017 mas oleh pihak kepolisian setempat. Tapi sekarang malah tidak sama sekali. Beberapa rumah kos itu katanya milik anggota. Dengar-dengar begitu," imbuhnya.
Ironinya, aktifitas warga kos seperti itu terkesan dibiarkan. Mereka bahkan tak mendapat penindakan apapun dari aparatur kampung maupun pihak berwajib. Tak pelak, kampung yang semula merupakan kampung dengan warga asli yang tertib, kini mereka pun terusik. Sebab, ada dugaan praktik esek-esek terselubung di rumah kos tersebut.
Dari catatan Surabaya Pagi, Polsek Dukuh Pakis pernah melakukan razia pada Kamis (3/8/2014) pukul 09.00 WIB. Saat itu kapolsek Dukuh Pakis dijabat oleh Kompol Ari Tresetiawan. Dari satu lokasi saja, polisi menemukan empat pasangan diluar nikah tengah berada dalam satu kamar masing-masing. Hal tersebut merupakan bukti kongkrit dari keberadaan penyakit masyarakat ditengah pemukiman berkedok kos mewah.
"Kalau kami menindak dan tidak ada perintah dari atasan RT RW mana berani mas. Harusnya didampingi juga sama polisi dan pihak pol PP kelurahan atau kecamatan. Biar mereka jera kita pergoki," tukas pria yang sudah 10 tahun menjadi petugas jaga di kampung tersebut.
Sementara itu, Mayang (bukan nama sebenarnya), salah seorang pemandu lagu yang bekerja di tempat karaoke ini memilih kos bebas ini karena fasilitasnya lengkap. Lantaran bebas, ia bisa menerima tamu kapan saja. "Kosan saya bebas sih mas. Ya kadang masih terima tamu di kos," ujar Mayang sambil tertawa centil.
Dari menjadi pemandu lagu, perempuan 24 tahun itu sudah bisa membeli mobil dengan cara kredit. Tarif sebagai pemandu lagu ini senilai Rp 150-200 ribu perjamnya. Para pengunjung, diwajibkan menyewa minimal 3 jam tiap pemandu lagu. "Itu juga belum bonusannya mas, saweran dari tamu," kata Mayang saat berbincang dengan Surabaya Pagi, kemarin malam.
Jika beruntung, lanjut Mayang, perbulan rata-rata ia dapat mengantongi Rp 10 juta. Karena itu, ia mampu memilih kos dengan tarif di atas Rp 1,5 juta per bulan. “Yang penting aman,” cetus dia. n fr