•   Kamis, 2 April 2020
Surabaya

Wali Kota Risma Paparkan Strategi Pendidikan di Rusia

( words)
Wali Kota Risma ditunjuk menjadi perwakilan Indonesia dalam forum St. Petersburg International Educational ke-10 di Rusia. (Foto: SP/ALQOMAR)


SURABAYAPAGI.com,Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini didapuk menjadi perwakilan yang pertama dari Indonesia sebagai salah satu pembicara dalam St. Petersburg International Educational Forum ke-10 di Rusia. Forum skala internasional yang berlangsung selama lima hari 25 – 29 Maret 2019 itu, bertujuan untuk membahas berbagi isu-isu pendidikan dari berbagai penjuru dunia. Forum ini merupakan yang terbesar dalam sejarah, lebih dari 20 ribu orang dari Rusia dan puluhan negara di dunia ambil bagian di dalamnya.
Pada kesempatan itu, Risma didapuk menjadi pembicara sebagai wakil dari Indonesia dalam puncak acara sesi pleno pada 29 Maret 2019. Sekitar 500 orang turut ambil bagian pada sesi pleno ini. Di awal paparannya, Risma menjelaskan, pada tahun pertama ia menjabat sebagai wali kota, Surabaya memiliki berbagai tantangan terkait dengan kemiskinan. Saat itu, lebih dari 30 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan.
Tak hanya itu, di Surabaya saat itu ada enam distrik lampu merah atau area prostitusi yang beroperasi. Situasi ini membuat meningkatnya jumlah siswa putus sekolah, serta tingkat kenakalan remaja. “Karena itu, kota ini telah membentuk banyak inisiatif untuk mengatasi kebutuhan belajar kelompok-kelompok yang kurang beruntung ini,” kata Risma
Inisiatif itu dimulai pada tahun 2011, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membuat program pendidikan gratis dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah dan kejuruan untuk memungkinkan semua anak mengejar pendidikan yang layak. “Tidak hanya bebas biaya sekolah, pemerintah kota juga mendukung mereka dengan seragam gratis, tas, sepatu, dan peralatan sekolah lainnya yang dibutuhkan,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi ekonomi dan kemiskinan keluarga adalah salah satu alasan yang mempengaruhi kemampuan anak-anak mendapatkan pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, pada tahun 2010, Pemkot Surabaya meluncurkan program Pahlawan Ekonomi yang menargetkan ibu rumah tangga keluarga miskin dan melatih mereka untuk menjadi wirausaha perempuan.
Di hadapan ratusan audience, ia juga menyampaikan, perkembangan anak-anak dengan kebutuhan khusus menjadi bagian dari prioritas Pemkot Surabaya. Banyak dari mereka yang berasal dari keluarga miskin dan beberapa ditinggalkan oleh orang tuanya. Untuk membantu mereka, pihaknya kemudian mengembangkan 78 sekolah inklusi. Ada juga tempat perlindungan sosial untuk melanjutkan kehidupan dan mengembangkan keterampilan mereka.
Pihaknya juga secara aktif mengundang partisipasi siswa untuk ikut serta dalam pelestarian lingkungan, dengan melakukan program pertanian perkotaan di sekolah-sekolah, serta melaksanakan proyek sekolah lingkungan. Saat ini, ratusan sekolah dinilai ramah lingkungan, karena para siswa dapat menerapkan pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah, penanaman pohon, serta penghematan energi.
Ia menilai bahwa pendidikan yang baik harus didukung dengan kondisi kesehatan yang baik. Oleh karena itu, pihaknya juga mendirikan pos kesehatan di tingkat lingkungan untuk balita dan remaja untuk memantau pertumbuhan mereka secara teratur. Bahkan, Pemkot Surabaya meluncurkan program Pendidikan Kampung atau lingkungan
Risma yakin bahwa pendidikan tidak hanya akan fokus pada area sekolah, tetapi yang paling penting bagaimana menyediakan lingkungan yang sehat dan memungkinkan bagi siswa. Agar mereka bisa terus belajar di luar sekolah dan menjadikan mereka pembelajar seumur hidup.
“Sebagai hasil dari semua inisiatif ini, kami dapat menikmati Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di Indonesia, meningkatnya jumlah prestasi siswa di tingkat nasional dan internasional, dan Surabaya dianugerahi UNESCO Learning City Awards pada tahun 2017,” pungkasnya.

Berita Populer