Wacana New Normal Sukses Dongkrak Manufaktur

Suasana ruang produksi industry manufaktur. SP/IDN

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Melejitnya Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Mei ini menjadi bukti bahwa wacana new normal sangat memengaruhi dan sangat ditunggu-tunggu pelaku usaha.

Hal ini dkatakan langsung oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani.

“Hal tersebut terjadi karena kontrol ketat terhadap pergerakan orang seperti yang terjadi dua bulan terakhir dinilai membuat produktivitas industri manufaktur terbatas.” Kata Shinta.

Jika ditotal, di periode Mei ini Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 28,6 dari yang sebelumnya di bulan April PMI manufaktur Indonesia berada pada level 27,5.

Dengan demikian, Shinta menyampaikan bahwa sebagai penyumbang terbesar ekspor, kinerja sektor manufaktur perlu dijaga dan dipacu.

“Kalau mau ekonomi kita terus bertumbuh dengan baik, sektor manufaktur harus dijaga dan dipacu kinerja dan daya saing output-nya di dalam dan luar negeri dengan persaingan yang sehat sehingga pertumbuhan ekonomi nasional juga lebih tahan banting,” kata Shinta lewat pesan elektronik yang diterima di Jakarta, Jumat.

Shinta menyampaikan, industri manufaktur akan terus menjadi penopang ekonomi nasional selama belum ada sektor usaha lain yang memberikan kontribusi PDB dan ekspor sebesar industri manufaktur.

“Kondisi ini akan terus terjadi meskipun output kinerja ekspor nasional turun, karena kuncinya bukan pada kenaikan atau penurunan ekspor manufaktur tapi lebih pada diversifikasi struktur ekonomi dan ekspor nasional,” ujar Shinta.

Secara keseluruhan, tambah Shinta, 30-35 persen PDB Indonesia masih berasal dari sektor manufaktur dan 80 persen output ekspor nasional berasal dari industri manufaktur.

“Dengan demikian, naik-turunnya ekonomi nasional akan sangat dipengaruhi oleh kinerja dan daya saing industri manufaktur nasional,” pungkas Shinta.put1