•   Sabtu, 7 Desember 2019
Ekonomi NKRI

Vietnam Jadi Ancaman, Indonesia Atur Strategi Produksi Baja

( words)
Bebrapa petuigas yang tengah mnegolah baja SP/Brg


SURABAYAPAGI.com - Baja, jadi salah satu ladang keunggulan bagi industri manufaktur di China dan benar saja kini China lagi-lagi menduduki peringkat pertama dan masih tetap menjadi bos baja terbesar di dunia.

Dalama catatan World Steel Association Crude Steel Production Summary 2019, mengungkapkan produksi baja mentah pada 2018 masih didominasi oleh China, dengan produksi 928 juta ton per tahun.

Serta produksi baja China pada periode Januari – Juli 2019 mencapai 577,06 juta ton. Realisasi itu meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pada Januari – Juli 2018, produksi baja Negeri Tirai Bambu itu meningkat 6,3% (yoy) menjadi 529,35 juta ton.

Produksi baja China ini lebih dari 100 kali lipat produksi baja Indonesia yang hanya 6 juta ton per tahun.

Dibanding vietnam, China juga masih mengunggulinya meski tipis. Data yang sama menunjukkan produk baja Vietnam meningkat 59,97% (yoy) menjadi 12,05 juta ton pada Januari - Juli 2019. Pada periode yang sama tahun lalu, produk baja negara ini tecatat sebesar 7,69 juta ton atau bertumbuh 29,5% (yoy).

Atas hal itu Indonesia perlu waspada dan atur strategi. Ketua The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengatakan bahwa kondisi itu berpotensi meningkatkan impor produk baja dari kedua negara tersebut.

Ia menyayangkan posisi konsumsi baja per Kapita Indonesia tertinggal dibanding negara tetangga. Menurut data 2017, konsumsi baja per kapita Indonesia sebanyak 52 kg per tahun.

Vietnam juga dinilai menjadi ancaman lantaran produksinya telah melampaui kebutuhan di dalam negerinya. “Misalnya, baja untuk atap, baja lapis itu, Vietnam lagi merajalela,” ujarnya mengutip Bisnis, kamis (5/9/2019).

Silmy menilai produsen baja dalam negeri berada dalam posisi yang sulit dalam menghadapi serbuan impor tersebut.

Kendati demikian, mengatakan para pelaku usaha lokal mesti bersiap untuk menghadapinya. Salah satunya dengan melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas.

“Efisiensi ini kan berkonsekuensi kepada berbagai macam hal. Tetapi ini sesuatu yang kami tidak bisa hindari,” kata Silmy yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk.

Di samping itu, dia mengatakan produsen lokal juga akan mengembangkan manajemen distribusi yang lebih baik. Langkah itu akan dibarengi dengan upaya pelaku usaha untuk menjaga konsumen yang sudah ada.

Berita Populer