Unik, Senam Mince Warga Lamongan Pakai Busana Sarung

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Minggu ceria (Mince) biasanya oleh masyarakat Lamongan dimanfaatkan untuk senam, jalan sehat, dan berlari-lari memutari Alun-alun sambil berekreasi.

Namun Mince pada Minggu pagi (3/3/2019) kali ini, terasa berbeda dengan Mince-mince sebelumnya karena peserta senam kompak memakai busana sarung.

Tentu senam kesegaran jasmani tersebut terasa bergembira, apalagi dihibur musik elekton lengkap dengan penyanyinya sambil bergoyang mengikuti irama musik, normalnya senam pada umumnya.

Senam dengan peserta berbusana sarung tersebut, seperti disampaikan oleh Anang Taufiq, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lamongan, dalam rangka Hari Sarung Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 3 Maret.

Senam dengan memakai sarung ini lanjutnya, sebagai upaya pemerintah, untuk menumbuhkan kecintaan kaum melenial. "Saat ini kaum melenial sudah sangat jarang mencintai sarung. Banyak yang menganggap bahwa busana sarung indentik dengan gaya kehidupan yang kuno dan terbelakang," akunya.

Karena itu, dengan momentum HSN ini kata Anang, pihaknya ingin mengenalkan kalau busana sarung ini jangan dianggap kuno, tapi sarung juga bisa dibuat untuk bergaya. "Jangan anggap sarung kuno, sarung sudah banyak menginspirasi para pengusaha hingga sampai ekspor ke luar negeri," ujarnya.

Ia lalu mencontohkan produksi sarung oleh puluhan tangan pengerajin di dua Kecamatan Paciran dan Maduran ternyata mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Sarung khas Lamongan sudah diminati di berbagai negara seperti Somalia dan dan negara-negara di Timur Tengah.

"Ternyata sarung kebanggaan masyarakat Kabupaten Lamongan juga sudah diminati oleh orang-orang, Somalia dan Timur Tengah. Mereka saja suka dengan sarung kita. Nah kita sebagai anak bangsa Indonesia, harus bangga," ajak Anang.

Setiap bulannya pengrajin sarung di Kecamatan Maduran ini saja, sudah bisa melayani permintaan sarung dari negara Somalia dan Timur Tengah. Dalam sebulan pengrajin sarung mampu mengekspor sebanyak 1.200 kodi sarung.

"Jika diuangkan nilainya bisa sampai 4 miliar lebih. Karena sarung yang dihasilkan di beberapa desa di Maduran itu per bijinya dibanderol Rp 200 ribu," ujarnya.

Karena sarung dari Maduran ini berbeda dengan sarung-sarung pada umumnya, baik masalah corak batik dan kualitasnya. Inilah yang membuat orang-orang di negara Somalia dan Timur Tengah begitu mencintai sarung dari Maduran. jir