Unicorn RI Dikuasai Asing, Uangnya ke LN?

Jaka Sutrisna-Teja Sumantri,
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Pasca debat Pilpres ke-2, pembahasan mengenai unicorn menjadi perdebatan publik. Ini setelahCapres nomor urut 02 Prabowo Subianto tampak gelagapan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Joko Widodo (Jokowi), capres nomor 01. Istilah unicorn sendiri belum membumi di mata orang awam, namun familier di kalangan perusahaan rintisan atau startup. Dalam perdebatan itu, Jokowi membanggakan unicorn-unicorn Indonesia, seperti Gojek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia. Sementara Prabowo mengkritisi unicorn yang dikuasai asing, malah akan membuat uang-uang Indonesia kabur ke luar negeri (LN). Beralasankah kekhawatiran ini?
----------
Berdasarkan riset CB Insight, hingga Januari 2019 ada lebih dari 300 unicorn di seluruh dunia. Beberapa unicorn bahkan sudah ’naik kelas’ dengan mengantongi status sebagai decacorn (valuasi US$10 miliar) dan hectocorn (valuasi US$100 miliar). Kelima perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia menurut CB Insight yakni Toutiao atau Bytedance (US$75 miliar), Uber (US$72 miliar), Didi Chuxing (US$56 miliar), WeWork (US$47 miliar), dan Airbnb (US$29,3 miliar).
Sementara di Asia Tenggara sejauh ini ada 10 unicorn dengan empat diantaranya berasal dari Indonesia. Keempat startup unicorn tersebut antara lain Bukalapak, Gojek, Traveloka, dan Tokopedia.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, rata-rata saham pendiri unicorn di Indonesia di bawah 10%. Namun, memang ia mengakui bahwa hal itu masih sulit dibuktikan. "Unicorn rata-rata saham founder di bawah 10%. BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) no comment. Khawatir dikritik anti unicorn," papar Bhima, Senin (18/2/2019).
Contohnya, pada akhir 2018 lalu Tokopedia pernah merilis pendanaan baru sebesar US$ 1,1 miliar atau setara dengan Rp 15,95 triliun (asumsi kurs saat itu US$ 1=Rp 14.500). Mengutip publikasi yang disampaikan Tokopedia saat itu, pendanaan ini dipimpin oleh SoftBank Vision Fund dan Alibaba Group dengan partisipasi Softbank Ventures Korea, serta investor-investor Tokopedia sebelumnya.
Kemudian dalam sebuah dokumen terungkap siapa saja pemodal di balik marketplace tersebut. Media KrAsia mendapat dokumen struktur perusahaan dan pemegang saham Tokopedia dari BKPM. Dokumen itu menyebutkan PT Tokopedia merupakan perusahaan investasi asing yang memiliki modal dengan total Rp 339,17 miliar (Rp 339.171.883.000). Modal ini didapat dari total enam putaran investasi, seri A hingga F.
Pemegang saham tertinggi di Tokopedia dipegang oleh SVF Investment (UK) Limited atau SoftBank Vision Fund tercatat yang paling besar memegang saham Tokopedia sebesar 29,45% di mana masuk pada putaran ke-6. Sedangkan Taobao China Holdings, perusahaan di bawah Alibaba menguasai 25,19%. Dokumen tersebut juga menyebutkan pendiri sekaligus CEO Tokopedia, William Tanuwijaya dan wakilnya Lenotinus Alpha Edison masing-masing memegang sekitar 5,6% dan 2,3% dari total saham yang dikeluarkan.
Beberapa pemegang saham lain yang nilainya di bawah 10% di antaranya; SB Group (Di antaranya SB Global Champ Fund, SB Global Star, SBI Ven Holding) menguasai 8,85%. Sementara SCI Investment, Sequoia Capital India memiliki 9,67%.
Selain Tokopedia, bocoran tentang unicorn di sektor transportasi, yakni Go-Jek juga pernah tersebar lewat informasi dari firma konsultasi investasi Momentum Works. Dokumen tersebut berasal dari berkas-berkas yang diserahkan Go-Jek dalam proses sesi pendanaan terkini. Informasi dari Momentum Works membeberkan sebagian komposisi dewan direksi dan dewan komisaris Go-Jek, berikut beberapa pemegang sahamnya.
Menurut keterangan Momentum Works, CEO sekaligus pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim, duduk di kursi dewan direksi bersama enam orang lain yang sebagian besar merupakan koleganya. Nadiem disebutkan memiliki 58.416 lembar saham atau 4,81% dari total saham Go-Jek. Ia merupakan individu pemegang saham terbesar di perusaahaan. Sisanya, dipegang oleh banyak pihak lain.
Namun memang, dokumen tersebut masih belum bisa dibuktikan kebenarannya. Sebab, para unicorn di Indonesia memang tidak pernah membuka data persentase kepemilikan sahamnya. "Berapa persennya tidak di disclosed. Startup unicorn memang mengandalkan modal asing dalam jumlah yang cukup dominan untuk jalankan bisnisnya. Ketika masuk modal asing, kedaulatan data, dan produk yang ada di startup menjadi tergadaikan," ungkap Bhima.
Potensi Bocor
Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo mengakui saat ini investor keempat unicorn di Indonesia memang mayoritas asing. Hal ini, menurut dia, tentu harus diawasi. Yustinus mengaku memang ada fakta kebocoran ekonomi atau mengalirkan kekayaan orang Indonesia ke luar negeri. Ia juga membenarkan pernyataan Prabowo terkait pernyataan salah satu menteri era Jokowi yang menyebut ada simpanan orang Indonesia di luar negeri yang mencapai sekitar Rp11 ribu triliun.
"Kalau soal kebocoran ekonomi, memang faktanya ada. tapi saat ini sudah ada amnesti pajak, ada AEOI (pertukaran informasi keuangan untuk perpajakan) dan sudah ada kerja sama timbal balik hukum dengan sejumlah negara," terang dia.
Dengan upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah, menurut dia, potensi pengemplangan pajak akibat disembunyikannya kekayaan orang Indonesia di luar negeri bisa diminimalisasi. Di sisi lain, Yustinus mengaku tak yakin keempat unicorn yang ada saat ini berpotensi mengelabui perpajakan dengan menempatkan sebagian kekayaannya di luar negeri.
Celah Pajak
Menurut dia, keempat unicorn tersebut, sejauh ini menjalankan bisnis dengan baik, membentuk badan hukum Indonesia dan membayar pajak. "Sebenarnya unicorn dan perusahaan-perusahaan teknologi ini kan sebagian besar reseller dan jual jasa, jadi sebenarnya yang paling cocok adalah PPN (Pajak Pertambahan Nilai)," pungkas dia. n