•   Minggu, 15 Desember 2019
Pendidikan

UNAIR Gandeng PUSKES TNI Gelar INSBIOMM 2019

( words)
Dari kiri Prof. dr. Seotjipto, M.S., PhD, MG.Bambang Dwihasto,dr.,Sp.B., M.Si dan Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak saat konferensi digelar.


SURABAYAPAGI-Surabaya: Ancaman penyakit menular berpotensi membunuh ribuan bahkan jutaan orang setiap tahunnya. Hal itu muncul sebagai wabah yang dapat merusak kesehatan masyarakat, keamanan dan integritas nasional. Penyakit itu terdiri dari influenza, TBC, malaria, infeksi yang kebal akan antibiotik, HIV/AIDS.

Menyikapi persoalan tersebut, Institut Tropical desease (ITD) Universitas Airlangga bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Tentara Nasional Indonesia (PUSKES TNI) menggelar konferensi internasional bertajuk Infectious Disease, Biothreats and Military Medicine (INSBIOMM) pada Selasa (27/8/2019) di kampus Unair Surabaya. Berkolaborasi dengan berbagai nara sumber dari mancanegara untuk menuntaskan masalah penyakit menular di Indonesia.

Acara ini dibuka oleh Prof. Nasih, dalam sambutannya beliau mengatakan dengan adanya konferensi internasional dan kolaborasi riset antar peneliti diharapkan dapat menghasilkan inovasi dalam mencegah dan menuntaskan masalah penyakit menular yang ada di Indonesia berdasarkan letak geografisnya. Konferensi itu dirancang untuk menfasilitasi dan menyebarluaskan penelitian para ilmuwan dan profesional dalam menangani penyakit menular tersebut, terutama berkaitan dengan kesehatan militer.

"Banyaknya penyakit yang muncul di berbagai belahan dunia, sebagian besar ditularkan melalui hewan, maka harus dipersiapkan dalam mencegah dan melahirkan inovasi dalam menangani masalah tersebut. Penyak juga bisa berpotensi dapat disalah gunakan dalam bioterorisme”. ungkapnya

"Dalam rangka mempercepat penanganan penyakit maka kolaborasi dalam multisektor sangat dibutuhkan. Konsep kolaboratif dalam mendeteksi kesehatan hewan, manusia dan lingkungan menjadi alternatif utama dalam meningkatkan data kesehatan dan pencegahan penularan dari belahan dunia. Diharapkan adanya saran dari berbagai peneliti, akademi, profesional untuk dapat mendeteksi penyakit lebih awal dalam menyikapi keamanan kesehatan secara global". Imbuh Nasih.

Bambang Dwihasto menambahkan "Partisipasi TNI dalam menyikapi medis di Indonesia terkait ancaman biologi, kimia, nuklir yang saat ini sudah menjadi perhatian khusus di masa depan. Salah satu contoh penyakit Difteri yang ada di Surabaya dan Malaria yang menyebar di Papua dengan cepat agar segera teratasi. Melalui penelitian bioteknologi diharapkan mampu mengatasi masalah penyakit menular dimasa depan, dengan memberikan pengetahuan, pelatihan dan sosialisasi SOP untuk memperkuat keamanan kesehatan nasional".

Sementara itu Prof. Seotjipto mengungkapkan, dalam mengembangkan strategi untuk mendiagnosa, mencegah, dan mengobati beberapa penyakit menular yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Perlu adanya persiapan dalam segi fasilitas dan kapasitas SDM yang kuat di berbagai sektor. Hal tersebut mampu memberikan pemahaman yang lebih baik dan perlu adanya kontribusi, kolaborasi dan komunikasi antar peneliti dalam mengimplemntasikan keamanan kesehatan global.

“Kali ini menjadi amat penting untuk merapikan kapasitas negara dalam menyikapi segala ancaman penyakit. Kolaborasi riset ini diharapkan mampu meningkat dan dapat diimplementasikan dalam sehari-hari untuk keamanan kesehatan dunia,” tandasnya. noe

Berita Populer