•   Sabtu, 29 Februari 2020
Kesehatan

Tujuh Anak di Kabupaten Jombang Terserang DBD

( words)
Salah satu pasien anak yang dirawat di ruang HCU akibat DBD. (SP/M. Yusuf)


SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Memasuki musim hujan di bulan Januari ini, sejumlah warga di Kabupaten Jombang terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Menurut data yang diperoleh Surabayapagi.com, satu orang dewasa dan tujuh anak-anak harus mendapat perawatan intensif di RSUD Jombang karena terserang DBD.

Seperti halnya Bagus (9), pelajar kelas 5 sd asal Sumobito yang dirawat di ruang HCU, Paviliin Seruni. Menurut Yuyun ibu pasien Bagus menjelaskan, bahwa putranya sakit panas sejak Jumat kemarin.

Yuyun mengungkapkan, bahwa putranya saat diperiksakan di puskesmas setempat kondisinya sudah lumayan parah, sehingga langsung dirujuk ke RSUD Jombang.

"Akhirnya dari puskesmas anak saya dirujuk ke RSUD Jombang. mulai Selasa, (21/02) kemarin," ungkapnya, di ruang HCU, Rabu (22/02/2020).

Hingga pada hari kedua ini Yuyun menjelaskan, selama dirawat di ruang HCU ini, kondisi putranya cukup membaik. Namun saat ini masih mendapat perawatan intensif dari rumah sakit.


Image

Sementara itu, Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran mengatakan, bahwa dalam bulan ini ada delapan pasien DBD yang dirawat di RSUD Jombang. Namun, satu pasien orang dewasa sudah membaik dan sudah pulang ke rumah.

"Sedangkan tujuh anak, yang satu anak ada di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit), artinya kondisinya agak cukup gawat tapi masih tetap terkendali dengan pelayanan maksimal dari kita," katanya, di Aula RSUD Jombang.

Kemudian, paparnya, tiga pasien anak dirawat di Ruang HCU (High Care Unit) karena butuh pelayanan ketat, dan tiga anak ada di ruangan karena kondisi sudah stabil.

"Alhamdulillah, sampai dengan sekarang tidak ada kasus DBD yang meninggal. Kita berharap, mudah-mudahan sampai kedepan tidak ada yang meninggal," paparnya.

Untuk itu Pudji menegaskan, masyarakat harus sigap terkait kondisi seperti ini, sehingga yang namanya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus tetap dilaksanakan.

"Satu rumah harus ada satu pemantau jentik, supaya bisa betul-betul memotong rantai penularan nyamuk Aedes aegypti terhadap kasus DBD ini," pungkasnya.(suf)

Berita Populer