•   Minggu, 19 Januari 2020
Internasional

Trump Ogah Cabut Bea Impor China

( words)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.


SURABAYAPAGI.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (20/3/2019) memperingatkan bahwa pemerintahnya bisa saja terus menerapkan bea impor terhadap barang-barang China untuk "periode yang substansial" demi memastikan Beijing mematuhi setiap perjanjian perdagangan.
Tindakan itu dapat memperumit pembicaraan dagang antara AS-China yang dijadwalkan akan dimulai kembali pekan depan. Ini karena para pejabat China telah mendesak AS untuk menghapuskan semua tarifnya sebagai bagian dari kesepakatan yang sedang diupayakan, kata beberapa sumber yang mengetahui pembicaraan itu.
Trump mengatakan negosiator utamanya, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, akan berangkat ke Beijing akhir pekan ini. Pernyataan Trump membenarkan ada rencana untuk mengadakan pembicaraan minggu depan, yang pada hari Selasa dibeberkan oleh seorang pejabat pemerintahannya.
Pembicaraan itu akan menjadi yang pertama sejak Trump menunda batas waktu untuk menaikkan tarif impor pada barang-barang China senilai US$ 200 miliar menjadi 25 persen dari 10 persen saat ini, yang seharusnya berlaku pada 1 Maret.
"Kesepakatan itu berjalan baik," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menambahkan bahwa perjalanan ke China itu dimaksudkan "untuk menghasilkan kesepakatan."
Namun, saat ditanya apakah ia akan menghapuskan tarif impornya terhadap China, Trump justru menyanggahnya.

"Kami tidak berbicara tentang menghapusnya (bea masuk). Kami berbicara tentang menundanya untuk jangka waktu yang cukup lama karena kami harus memastikan bahwa jika kami memiliki kesepakatan, maka China harus menjalankan itu."

Namun, Trump tidak merinci rencananya mengenai tarif.

Para negosiator Trump telah menuntut agar China menyetujui mekanisme penegakan hukum untuk memastikan bahwa Beijing akan menindaklanjuti janji reformasi dalam kesepakatan apa pun yang akan dibuat.

Washington menuntut agar China mengakhiri praktik yang disebutnya memaksa transfer teknologi Amerika ke perusahaan-perusahaan China, juga untuk meningkatkan akses bagi perusahaan-perusahaan Amerika ke pasar China dan mengurangi subsidi bagi industrinya.

Sejak Juli 2018, Amerika Serikat telah mengenakan bea masuk atas impor China senilai US$ 250 miliar, termasuk mengenakan tarif impor 25 persen pada US$ 50 miliar barang-barang teknologi dan industri dan tarif impor sebesar 10 persen pada US$ 200 miliar produk-produk lain termasuk furnitur dan bahan bangunan.
China membalas dengan menerapkan tarif pada sekitar US$ 110 miliar barang-barang AS, termasuk kedelai dan komoditas lainnya.
Perang dagang yang sudah berlangsung sejak awal tahun lalu antara dua ekonomi terbesar di dunia itu telah menyebabkan kenaikan biaya, mengguncang pasar keuangan, menurunkan ekspor pertanian AS, dan mengganggu rantai pasokan manufaktur global.
Selama pidato di Lima, Ohio, Trump kembali menekankan bahwa dia ingin Amerika Serikat mencapai kesepakatan perdagangan yang "luar biasa" dengan China.
"Kami membahas berbagai hal mendasar, itu harusnya menjadi hal yang hebat. Jika ini bukan hal yang bagus, Anda tidak akan pernah bisa mengejar ketinggalan," kata Trump dalam sambutannya di pabrik pembuatan tank militer.

Berita Populer