Trump akan Mengajak Negosiasi Lagi, China Malah Tak Tahu

China menyangkal telah menelpon pejabat Kementerian Perdagangan AS, untuk melanjutkan negosiasi dagang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menegaskan perang tarif yang dideklarasikan AS tidak akan berhasil mengintimidasi negeri tirai bamboo.

Jika tekanan AS berlanjut, maka China tidak akan ragu untuk memberikan tindakan balasan, untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

"Saya tidak mengetahui hal itu,” ujar Geng Shuang dalam sebuah briefing di Beijing pada Selasa (27/8/2019), seperti dilansir dari Bloomberg.

“Dengan menyesal, AS telah mengumumkan keputusannya untuk menambah tarif baru pada produk-produk China. Tekanan maksimum seperti itu akan merugikan kedua belah pihak dan sama sekali tidak konstruktif,” tambahnya.

Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa China telah meminta agar perundingan perdagangan antara kedua negara dimulai kembali.

Permintaan itu disampaikan beberapa jam setelah Wakil Perdana Menteri China Liu He menyerukan kedua belah pihak untuk bersikap tenang di tengah memanasnya tensi perdagangan antara kedua negara akibat rencana pengenaan tarif baru terhadap satu sama lain.

Melalui akun Twitter, Hu Xijin, pemimpin redaksi Global Times China, mengatakan bahwa tim perunding perdagangan kedua belah pihak tidak melakukan pembicaraan melalui telepon dalam beberapa hari terakhir dan bahwa Trump telah membesar-besarkan soal komunikasi perdagangan.

Perlu diketahui, ketegangan antara dua negara berekonomi terbesar dunia tersebut telah meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah kedua belah pihak mengumumkan tarif baru untuk barang-barang asal masing-masing negara dan Trump menyerukan perusahaan-perusahaan AS untuk keluar dari China.

Pada Jumat (23/8/2019), Trump menyatakan AS akan menaikkan tarif eksisting atas produk China senilai US$250 miliar dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019, bertepatan dengan perayaan hari nasional Republik Rakyat China ke-70.

Kebijakan ini disampaikan Trump hanya beberapa jam setelah Beijing mengumumkan tarif impor atas barang-barang dari AS senilai US$75 miliar, termasuk kacang kedelai dan minyak.