•   Jumat, 24 Januari 2020
Pilpres 2019

Titiek Soeharto, Usik Nilai Rp 50 ribu, saat Rupiah Melemah

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (79)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo
Minggu lalu, Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya, Titiek Soharto, menyoroti soal kesenjangan antara kaya dan miskin yang makin lebar. Akibat kesenjangan itu, yang kaya makin kaya dan si miskin makin menderita.
"Kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar. Ibu-ibu punya uang sekarang Rp 50 ribu, ibu-ibu bisa beli apa? kalau ke pasar, sementara yang kaya tambah kaya yang miskin tambah miskin," Titiek menggambarkan.
Pernyataan Titiek ini ditanggapi sinis oleh Caleg PDIP, Kirana Larasati, yang juga artis sinetron. Kirana, membuat video berbelanja di pasar Gedebage Bandung, dengan uang Rp 50 ribu.
Video yang diunggah di akun Twitter @_kiranalara, pada Selasa (19/11) lalu menggugah ribuan perempuan. Video berdurasi sekitar 2 menit ini memperlihatkan Kirana, belanja sejumlah bahan pangan di pasar dan berpakaian kasual dengan jaket hitam bernomor 3 di punggungnya.
Video Kirana ini, seakan-akan menyindir Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya Titiek Soeharto, yang mempertanyakan uang sebesar Rp 50 ribu, bisa untuk apa saat ini.
Kirana mula-mula membeli bawang merah, bawang putih, dan cabai seharga Rp 10 ribu. Setelah itu, dia membeli ayam 0,5 kilogram seharga Rp 16 ribu, lalu tahu-tempe Rp 15 ribu, dan tujuh butir telur ayam seharga Rp 9.000.’’
"Saya melihat langsung kalau harga-harga kebutuhan pokok sangat terkendali dan terjangkau," ujar Kirana, yang menuding Titiek memancing perdebatan politik tanpa data dan fakta.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Sampai sekarang saya masih memiliki catatan sosok Siti Hediati Hariyadi, yang termasuk elite politik Jakarta. Titiek juga dikenal suka mengkoleksi karya-karya pelukis papan atas Indonesia, sekelas Affandi dan Basoeki Abdullah.
Majalah Time yang pernah menurunkan laporan kekayaan keluarga Cendana dengan judul Suharto Inc , menyebut Titiek adalah penyuka merek kelas tinggi seperti Harry Winston, Bulgari dan Cartier.
Selain itu, Titiek juga dikenal sebagai pengagum sejumlah bintang film dunia. Ketika aktor Steven Seagal, ke Bali, dalam rangka peresmian Planet Hollywood pada 1994 lalu, Titiek dikabarkan berdansa dengan bintang laga itu.
Menurut data dari Badan Pertanahan Nasional dan majalah Properti Indonesia, keluarga Suharto m atau melalui entitas perusahaan, telah mengontrol sekitar 3,6 juta hektar real estate di Indonesia. Ini sebuah area yang lebih besar dari total wilayah Belgia. Luas area itu termasuk 100 ribu meter persegi ruang kantor utama di Jakarta. Dan hampir 40 persen dari seluruh provinsi Timor Leste.
Di Indonesia, enam keturunan Suharto memiliki prosentase saham yang signifikan di setidaknya 564 perusahaan, termasuk ratusan perusahaan lain yang tersebar dari Amerika Serikat hingga Uzbekistan, Belanda, Nigeria, dan Vanuatu. Anak-anak Suharto juga memiliki banyak sumber kekayaan.
Selain peternakan senilai $4 juta di Selandia Baru dan setengahnya dalam yacht senilai $4 juta yang ditambatkan di luar Darwin, Australia. Putra bungsu Hutomo Mandala Putra (dijuluki Tommy) memiliki 75 persen saham di lapangan golf 18 lubang dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris.
Majalah Time pernah menurunkan laporan kekayaan keluarga Cendana dengan judul Suharto Inc yang berujung ke meja hijau.
Dari enam anak penguasa Orde Baru,add tiga nama dalam trah Soeharto yang moncer. Mereka Bambang Trihatmodjo, Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), dan Hutomo Mandala Putra (Tommy).
Menurut daftar yang dirilis Globe Asia, total harta 3 anak Soeharto ini memiliki harta yang melebihi USD 1,125 miliar atau sekitar Rp 16,25 triliun (Rp 14.450 per USD).


Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Uang bagi setiap warga Negara memiliki nilai yang tidak sama. Titiek Soeharto, misalnya, wajar menganggap uang Rp 50 ribu, tidak ada artinya. Maklum, belanjanya bukan di pasar tradisional, tetapi di supermarket dan mall-mall. Berbeda dengan Wiwik, pensiunan PNS Pemprov Jatim. Bagi istri pegawai pajak, uang Rp 50 ribu, memiliki nilai berarti buat belanja di pasar tradisional. Kadang untuk mencukupi hidup berdua, sehari ia hanya mengabiskan Rp 40 ribu.
Akal sehat saya memotret usikan Titiek Soeharto ini, terkait dengan suara emak-emak dalam kancah politik nasional. Emak-emak yang digerakan oleh Sandiaga, cawapres Anda Prabowo, tidak terlepas atas bonus demografi populasi perempuan di Indonesia. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan United Nations Population Fund, jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Dari jumlah ini, sebanyak 131,88 juta jiwa berjenis kelamin perempuan. Sekarang selisih jumlah penduduk perempuan dengan laki-laki semakin menyempit. Jika pada 2010 selisihnya mencapai 1,19 juta jiwa, diproyeksi pada 2035 hanya tinggal 266 ribu jiwa
Nah, usikan Titiek ini bila didekati dari perencanaan keuangan keluarga, bisa debat tebal. Maklum, perencanaan belanja keluarga, menurut seorang ibu di Surabaya. sangat dipengaruhi oleh dua hal utama yaitu penghasilan Anda, sumbernya dari mana saja dan berapa pengeluaran bulanan satu sekeluarga. Biasanya, keluarga menengah yang belum menemukan sumber penghasilan tambahan, umumnya menyeimbangkan pendapatan dan pengeluaran yaitu menghemat uang belanja bulanan. Ini seperti pensiunan Pemprov dan artis sinetron Kirana.
Emak-emak seperti ini menggindari jalan ke mal atau swalayan. Maklum, banyak godaan untuk berbelanja.
Sementaea berbelanja di pasar tradisional hampir selalu lebih murah daripada supermarket.
Melirik data-data dari hasil dua pilpres langsung menunjukkan tidak ada dukungan mayoritas rakyat yang hidup di kelas menengah ke bawah, khususnya kaum perempuan. Fakta ini layak menjadi catatan penting perjuangan emak-emak dalam berpolitik.
Apa yang disuarakan Titiek soal “value” uang Rp 50 ribu bagi emak-emak, menurut akal sehat saya belum menggambarkan sosok perempuan yang memiliki makna sangat penting di dunia politik. Paling tidak dalam memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi tentang pentingnya pembangunan demokrasi yang sehat, adil dan realistis bagi emak-emak juga. Pengamatan saya mengikuti luapan kegembiraan emak-emak dalam setiap kampanye Sandiaga.
Saatnya perempuan masuk ke dunia politik. Terutama jika ingin hak-haknya terpenuhi.
Pertanyaannya, apakah Titiek berbicara soal value uang Rp 50 ribu, ada korelasi dengan pelemahan nilai tukar rupiah? Apakah ikut-ikutan Sandiaga, yang telah blusukan di pasar tradisional?
Apakah Titiek memang berbiat pernyataan ini agar bisa berimbas pada harga kebutuhan bahan pokok?.
Hasil temuan saya di Pasar Modern Darmo Permai, kenaikan hanya pada buah impor. Misal jeruk impor dengan harga Rp17.000/kg, karena nilai tukar rupiah melemah, kini jeruk dijual harga Rp18.500/kg.
Akal sehat saya mengatakan, terhadap sisa waktu menjabat yang tinggal beberapa bulan ini, sindiran Titiek ini bisa Anda Capres Jokowi gunakan untuk mengajak emak-emak terutama mau mengkonsumsi barang made in Indonesia daripada barang impor. Sekaligus mengkampanyekan sembako lokal yang kualitasnya tak kalah dari produk impor.
Tinggal Anda Capres Jokowi, apa masih tahan dengan ejekan Titiek?. Jangan-jangan Anda bakal mengeluarkan pernyataan bermakna jawa setelah sontoloyo dan genderuwo.
Tinggal Anda Capres Jokowi, apakah berani menerima tantangan Titiek, uang Rp 50 ribu masih bermanfaat untuk belanja di pasar tradisional. Tentu bermanfaat buat emak-emak kelas menengah bawah, bukan emak sekelas Titiek, politisi perempuan yang anak mantan presiden kaya raya.
(tatangistiawan@gmail.com,bersambung

Berita Populer