Tenaga Medis New York Gelar Aksi Demo, Protes Kurangnya APD

SURABAYAPAGI.com, New York - Puluhan perawat yang menangani pasien virus Corona (COVID-19) berunjuk rasa di luar sebuah rumah sakit di New York, Amerika Serikat (AS). Para perawat ini memprotes kurangnya alat pelindung diri (APD) dalam menghadapi pandemi virus Corona.

Seperti dilansirAFP, Jumat (3/4/2020), sekitar 30 perawat yang dipimpin oleh serikat mereka, Asosiasi Perawat Negara Bagian New York, menggelar aksi demo di luar Montefiore Medical Center di Bronx, New York, pada Kamis (2/4) waktu setempat.

"Tentara tidak berperang tanpa senjata, kenapa perawat harus bekerja tanpa perlengkapan pelindung?" tanya Leyrose McIntyre, salah satu perawat yang ikut aksi demo.

Unjuk rasa semacam ini tergolong langka karena aturan social distancing tengah diberlakukan di New York, yang sejauh ini melaporkan nyaris 100 ribu kasus virus Corona dengan 2.300 orang meninggal dunia. Para perawat di New York mengeluhkan kurangnya masker, pakaian pelindung dan perlengkapan pelindung lainnya, yang dinilai membahayakan nyawa mereka saat menangani para pasien virus Corona.

Dalam aksinya, puluhan perawat ini tetap saling menjaga jarak dan memakai masker, serta pita hitam sebagai bentuk solidaritas untuk para pasien virus Corona. Beberapa membawa poster yang isinya mengecam kekurangan PPE atau alat pelindung diri.

"Kami adalah pejuang garis depan... kami tidak memiliki persenjataan dan baju pelindung untuk melindungi diri kami dari musuh," ucap Presiden Asosiasi Perawat New York, Judy Sheridan-Gonzalez, kepadaAFP.

Salah satu perawat bernama Benny Matthew (43) menuturkan dirinya terinfeksi virus Corona setelah merawat empat pasien tanpa perlengkapan yang layak. Pada 25 Maret, hasil pemeriksaan menyatakan dirinya positif virus Corona. Namun pada 28 Maret, demam yang dirasakannya hilang dan Matthew diminta kembali bekerja.

"Mereka memberitahu saya jika Anda tidak demam Anda bisa bekerja -- itulah satu-satunya kriteria. Saya diberitahu untuk memakai masker dan kembali bekerja. Kita tidak punya cukup staf jadi saya pikir ini menjadi tugas saya untuk kembali bekerja," ucapnya.
"Tapi saya khawatir bahwa saya akan menularkan penyakit ini kepada rekan kerja saya, kepada pasien-pasien yang sudah tidak memilikinya," imbuh Matthew.

Sebagai antisipasi, Matthew telah mengisolasi dirinya dari istri anaknya di rumah sejak Februari lalu, saat kasus pertama masuk ke rumah sakit tempatnya bekerja.

Jacqueline Anom, seorang perawat untuk unit bedah rawat jalan di Montefiore, mengatakan bahwa dirinya tidak berani meninggalkan ruang perawatan termasuk ke toilet selama 12 jam shift kerjanya, karena dia khawatir mengontaminasi masker dan pakaian medisnya.

"Ini kacau. Saya telah melakukan pekerjaan ini selama 20 tahun dan ini pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa tidak yakin. Ini sangat membuat kesal dan saya marah: karena kita ada di Amerika, kita tidak seharusnya memperebutkan PPE," tandasnya.(dc/cr-01/dsy)