•   Kamis, 20 Februari 2020
Internasional

Tangguhkan Tarif Tambahan Impor Otomotif AS

( words)
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 8 Juli 2017.


SURABAYAPAGI.com - Pemerintah China akan tetap menangguhkan tarif tambahan pada impor kendaraan dan suku cadang AS setelah 1 April sebagai isyarat niat baik setelah AS menunda kenaikan tarif impor negara tersebut.
Pada Desember 2018, China menyatakan akan menangguhkan tarif tambahan 25 persen untuk kendaraan dan suku cadang buatan AS selama tiga bulan.
Hal itu dilakuan setelah ‘gencatan senjata’ dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia diumumkan. Kabinet Pemerintahan China menyebut langkah itu bertujuan untuk "terus menciptakan suasana yang baik untuk negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak".
"Ini adalah reaksi positif terhadap keputusan AS untuk menunda kenaikan tarif dan tindakan konkret yang diadopsi (oleh pihak China) untuk mendukung negosiasi perdagangan bilateral," menurut Dewan Negara China, Senin (1/4/2019).
Disebutan bahwa China berharap AS dapat bekerja sama dengan negaranya dengan mempercepat negosiasi dan melakukan upaya konkret menuju tujuan untuk mengakhiri ketegangan sektor perdagangan. Pemerintah China juga menyatakan akan mengumumkan secara terpisah kapan penangguhan akan berakhir.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada Jumat bahwa pembicaraan perdagangan dengan China berjalan sangat baik. Dia mengingatkan tidak akan menerima apa pun yang bersifat merugikan pihaknya setelah menutup dua hari negosiasi di Beijing.
Sebelumnya Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang Robert Lighthizer berada di Ibu Kota China untuk pertemuan tatap muka pertama antara kedua pihak sejak Trump menunda kenaikan tarif pada 2 Maret 2019. Kenaikan tarif itu berlaku untuk impor produk China senilai US$200 juta.
Pembicaraan akan dilanjutkan minggu depan di Washington dengan kehadiran delegasi China yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri, Liu He.

Berita Populer