Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Tak Beri Kesempatan Politisi Milenial, Paham Salah Elite Parpol

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Menurut Majalah Newsweek, milenial adalah generasi yang lahir dikisaran tahun 1977-1994. Sementara PEW Research Center menyatakan generasi milenial lahir di atas tahun 1980.
Sedangkan Majalah TIME menilai milenial lahir pada tahun 1980-2000.Buat orang berakal sehat, kisaran soal usia milenial tak perlu menjadi perdebatan ketat. Justru yang penting semua generasi, termasuk yang baby boomer yang usia seperti saya umur 60-an, mengakui generasi milenial adalah kelompok yang paling didekati Anda Capres Pilpres 2019.
Realita yang saya serap, ternyata di panggung politik Indonesia saat ini, banyak tokoh beramai-ramai mengklaim dirinya paling milenial. Termasuk Cawapres Anda Capres Jokowi. Padahal usia Cawapres Ma’ruf, sudah sepuh yaitu 72 tahun.
Hal yang saya amati, saking takutnya tidak diakui apresiasi ‘’milenial’’ Anda Capres Jokowi, sampai mengemas diri berjaket modis dan bermoge.
Sementara Anda Capres Prabowo, disarankan oleh seorang pengamat politik mengubah style pakaian yang tidak Soekarno centris. Maklum, generasi milenial umumnya identik dengan gaya berpakaian, gaya bicara, hingga gaya bermedia sosial berselera milenial.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Menurut Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), pemilih berusia 17-38 tahun, mencapai 55% pada 2019 nanti. Artinya pemilih dengan rentang usia ini bisa dikatakan sesuai dengan kisaran usia milenial yang digambarkan oleh marketer sebagai pribadi yang sangat individual dan cerdas.
Makanya untuk mendekati pemilih generasi milenial bukan tanpa tantangan. Majalah TIME pada 2013 memberikan label kepada generasi milenial sebagai "The Me Me Me Generation".
Milenial, menurut TIME, adalah generasi yang individualistik, sangat bergantung pada teknologi, dan apatis terhadap politik.
Nah di Indonesia sendiri, utamanya terkait apatisme politik, seperti terkonfirmasi dengan survei yang dirilis oleh CSIS dan Litbang Kompas.
Survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017 lalu menunjukkan bahwa hanya 2,3% dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik.
Terlibat politik praktis, salah satu isu yang paling tidak diminati oleh mayoritas generasi milenial.
Sementara Litbang Kompas juga menunjukkan hanya 11% dari generasi milenial yang mau menjadi anggota partai politik.
Ini corak generasi baru yang lebih populer disebut generasi Y atau generasi milenial. Dan saat ini, mereka sedang menjadi primadona Capres Anda berdua dalam konteks Pilpres 2019.
Maklum, jumlah pemilih milenial yang besar, telah menjadi incaran capres-cawapres yang sedang bertarung menuju kekuasaan periode 2019-2024.
Saya menguping di masing-masing kubu, Anda berdua sama-sama berkeyakinan, timnya ingin all-out mendulang suara dari generasi milenial.
Bila saya mencatat, masing-masing kubu terlihat demikian optimisnya bakal merebut simpati generasi milenial. Saya tidak tahu persis apa yang mendasari Anda berdua sehingga begitu optimistis. Apakah Anda Capres Prabowo, memiliki Cawapres Sandiaga, yang muda, tampan, pintar, kaya dan energik. Lalu Apakah Anda Capres Jokowi, masih bisa berstyle milenial sekaligus memiliki tim sukses, Erick Thohir, yang sebaya dengan Sandiaga.
Di tengah pandangan dan hasil survey bahwa generasi milenial adalah generasi yang apatis terhadap politik, nyatanya, beberapa stasiun TV berita sering menampilkan tokoh-tokoh muda dari beberapa parpol yang maju di Pilpres. Mereka berargumentasi dengan pikiran-pikiran, ide-ide dan gagasan baru.
Akal sehat saya memprediksi, tampilnya politisi muda dan bahkan ada yang masih milenial, cepat atau lambat, akan mampu memperbaiki citra partai politik yang saat ini cenderung menurun dimata masyarakat.
Dengan tampilnya politisi-politisi muda, menurut saya, sudah saatnya Generasi Milenial sebagai “New Bloods” berani maju. Sekaligus calon pemimpin yang mengambil peran kunci di berbagai fraksi dan komisi-komisi di DPR-RI.
Tak salah pikiran Daniel Wittenberg dalam artikel di The Guardian, tahun 2013 yang mengatakan sesungguhnya anak muda tertarik dengan politik, tapi tak pernah diberi kesempatan dalam politik.
Nah, hai politisi senior atau elite pimpinan partai politik, apakah Anda membaca tulisan Wittenberg? Maka dalam Pilpres 2019, dengan telah munculnya kesadaran politisi dari generasi milenial seperti politisi di PSI (Partai Solidaritas Indonesia), saatnya Indonesia, (baca: elite parpol) memberikan mereka panggung di politik Indonesia. Ikhlaskah semua elite parpol peserta Pilpres 2019?

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Akal sehat saya mengingatkan para elite parpol bahwa saat generasi
Milenial mulai suka dengan isu politik, jangan malah tersingkirkan oleh karena tidak diberi tempat.
Saya memberi contoh, penyanyi muda asal Amerika Serikat, Taylor Swift. Ia saat kampanye, secara gamblang menyatakan dukungannya kepada dua kandidat legislatif dari Partai Demokrat yang akan bertarung pada pemilihan umum (pemilu) di Negara Bagian Tennessee.
Dukungan yang disampaikan Taylor Swift melalui media sosial itu mendapatkan respons baik dari kalangan pemilih muda yang menjadi pengikut di akun Instagram pribadinya.
Dalam kutipannya, Swift juga mengajak pemilih muda berusia 18 tahun ke atas untuk menggunakan hak suara mereka di pemilu alias tidak golput.
Swift ternyata tidak menjejali mereka dengan informasi yang tak bermutu hanya untuk meraup suara mereka semata. Swift kampanye tentang masa depan generasi muda, pekerjaan dan pendidikannya.
Hasilnya, Alhamdulillah, beberapa anak muda di AS semakin tertarik mengambil jalur politik untuk berkontribusi bagi negerinya.
Kini, muncul fenomena partai baru, yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memberi kesempatan bagi para generasi muda.
Disana ada Tsamara Amany, janda cantik yang sampai kini masih menjadi mahasiswi di PTS Swasta Jakarta. Tsamara terjun karena tidak ingin kebijakan ekonomi di korupsi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tsamara bercita-cita ingin menjadi Gubernur DKI.
Politisi muda yang separtai dengan Tsamara adalah RajaJuli Antoni, Doktor lulusan Australia ini pernah menjadi Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan kemudian menjadi Direktur Eksekutif Maarif Institut. Kedudukan Raja Juli adalah Sekjen PSI.
Juga politisi Meutya Hafid, dari Golkar. Ia adalah seorang jurnalis di salah satu tv swasta. Alasan wanita lulusan Industrial Enginering University of New South Wales, Australia terjun di politik di karenakan minimnya keterwakilan perempuan dan anak muda di kancah politik di kala itu (2009). Saat ini Meutya telah 2 periode duduk sebagai anggota DPR. Saat ini Hafid, wakil ketua komisi 1 DPR yang membidangi pertahanan luar negeri, serta komunikasi dan informatika.
Ada lagi, Joice Triatman, runner up Miss Indonesia 2005 yang sekaligus presenter di sebuah stasiun swasta. Saat ini Joice Triatman menjabat wakil bendahara DPP Partai NasDem. Alasannya terjun ke politik karena ingin turut merampungkan ada segudang persoalan di Indonesia yang menurutnya hanya bisa diselesaikan oleh orang baik.
Juga ada Dahnil Anzar Simanjuntak, juru bicara Tim Sukses Prabowo-Sandi. Dahnil, lulusan doktor ilmu ekonomi Undip Semarang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.
Juga ada Giring Ganesha, vokalis band tanah air, yaitu Nidji. Alasan Nidji terjun ke dunia politik karena tersinpirasi dari Presiden Joko Widodo. Sebelum terjun ke dunia politik, Giring telah menyelesaikan pendidikannya di Bidang Hubungan Internasional
Selain, Bupati Trenggalek yang kini terpilih sebagai Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak. Emil, kini masuk dalam daftar deretan kepala daerah terbaik dunia dan menjadi mitra Bloomberg Harvard City Leadership Initiative. Meraih gelar S2 dan S3 dari Ritsumeikan Asia Pacific University di Jepang.
Diluar itu ada, Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno, Sekretaris Jenderal dari Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2015 – 2020. Sebelum menjabat sebagai Sekjen, Eddy merupakan seorang yang profesional di bidang keuangan, Eddy menjabat sebagai sebagai Finance Director & CFO Officer PT Bakrie & Brothers Tbk dari 2009-

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo
Meski ada sederet politisi muda mau terjun di partai politik, saya percaya belum semua generasi muda milenial berpendidikan tinggi mau berkontribusi secara langsung dan masuk ke dalam partai politik.
Suasana yang bersahabat terhadap generasi milenial berpolitik seperti sekarang, saatnya generasi muda terjun berpolitik. Sekaligus saatnya eite partai politik tua, tahu diri bahwa tidak selamanya Indonesia dikendalikan oleh politisi berumur 50 tahun ke atas.
Menurut akal sehat saya, bila ada elite partai politik yang masih tidak memberi kesempatan generasi muda berpilitik, mereka pada hakikatnya politisi tua yang memiliki paham yang salah.
Paham Salah beda dengan salah paham. Akal sehat saya mengatakan, salah paham umumnya karena perbedaan pengetahuan atau pemahaman semata. Sedangkan Paham salah disamping karena pengetahuan atau pemahaman yang beda, juga disertai dengan keyakinan bahwa politisi muda perlu belajar di luar agar lebih matang.
Ini paham yang salah dari elite politisi tua. Keyakinan politisi tua seperti ini adalah masalah yang cukup sulit untuk berubah.
Elite parpol yang memiliki paham salah tidak menangkap suasana perpolitikan saat ini dimana 50% jumlah pemiih Pilpres anak muda. Bahkan di kampus, generasi milenial pun cenderung sudah berani membahas calon presiden dan wakil persiden di Pilpers 2019 mendatang.
Saya pernah menjumpai generasi milenial sudah ada yang berani berdebat dalam acara diskusi di kampus. Bahkan berani menyatakan dukungannya pada salah satu calon, lalu ada juga yang berani berdebat satu sama lain karena pilihan mereka berbeda. Ini hal yang sangat baik bagi perkembangan demokrasi dan perpolitikan di Indonesia.
Tak salah, bila kini ditengah sayup-sayup kampanye, ada sejumlah generasi muda milenial mulai kusak-kusuk mencari tahu siapa yang layak dipilih dalam Pilpres 2019 mendatang? Apa yang akan dilakukan para capres dan, apa ide mereka untuk Indonesia. Maka itu, menurut akal sehat saya, taka da salahnya, kampanye di Kampus diadakan lagi. Minimal pada hari libur, Sabtu atau Minggu.
Pertanyaan saya, mengapa generasi muda seperti ini (usia 23 tahun – 40 tahun) tidak diberi kesempatan terjun ke dalam politik praktis menggantikan politisi-politisi berumur datas 50 tahun.
Akal sehat saya berharap agar paham salah dari sejumlah elite parpol yang masih mengandalkan politisi tua bisa segera berakhir. Insya Allah. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)