Pelanggan Keluhkan Tarif Bengkak 300 Persen tanpa

Tagihan PDAM Surabaya ‘Cekik’ Warga

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Belakangan ini banyak warga Surabaya terkaget-kaget, lantaran tagihan pembayaran air yang dikeluarkan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya, mendadak naik drastis. Bahkan, membengkaknya tagihan PDAM itu hingga tiga kali lipat (300 persen). Mereka pun mengeluh, sebab selama ini tidak ada sosialisasi kenaikan tarif yang dilakukan BUMD milik Pemkot Surabaya itu. Berikut ini penelusuran wartawan Surabaya Pagi, Jemmi Purwodianto dan Noviyanti Tri.
------
Persoalan itu menambah daftar panjang keluhan konsumen terhadap pelayanan PDAM Kota Surabaya. Sebelumnya, warga Surabaya barat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, lantaran pasokan air PDAM macet. Kini tagihan PDAM yang membengkak menjadi masalah baru. Seperti dialami sejumlah warga di Lidah Wetan. Dari infromasi yang didapat Surabaya Pagi, kenaikan tersebut dirasakan warga sejak September 2018 lalu.
Warga Lidah Wetan mengeluhkan kenaikan harga tarif air yang dikeluarkan PDAM (Perusahaan Air Minum Daerah) Kota Surabaya tanpa adanya sosialisasi. Dari infromasi yang didapat Surabaya Pagi, kenaikan tersebut dirasakan warga Khususnya Lidah Wetan sejak bulan September 2018 lalu.
Minayu, salah satunya. Warga Lidah Wetan Gang 4 Surabaya ini mengatakan sejak bulan September, tarif yang dikeluarkan PDAM melonjak hingga 3 kali lipat. Pada bulan Agustus, ia hanya membayar Rp 74 ribu untuk 38 kubik. Namun memasuki bulan September, Minayu harus mrmbayar Rp 339 ribu untuk 67 kubik. "Kalau kibiknya naik, seharusnya bayarnya kan sekitar Rp 150 ribuan. Lha kok bayarnya hampir Rp 350 ribu. Malah hampir 400 ribuan kenapa kok bisa gitu ya?" tanya Minayu saat ditemui Surabaya Pagi, Minggu (14/10/2018).
Selain Minayu, warga Lidah Wetan lainnya Wariyah, Patipa dan Sutina juga mengalami hal sama. Wariyah yang selama ini memgeluarkan uang Rp 50 ribuan tiap bulan, kini harus membayar sebesar Rp 180 ribuan tiap bulan. "Lha kok tiba-tiba ya mas, kalau memang ada kenaikan harga atau kebijakan lainnya tolong kami ini diberitahu," ucap Wariyah.
Selain mengeluhkan tagihan, warga juga memgeluhkan seringnya air PDAM yang tak keluar (macet) pada pagi dan sore hari. Terlebih ketika jam mandi pagi dan sore, para warga harus menggunakan tandon atau air sumur untuk mandi. "Kalau pagi biasanya mati pukul 5 pagi sampai jam 10. Baru nyala jam 11 siang mas, kalau sore jam 3 udah mati, nyala lagi jam 8 malam. Udah tarifnya naik parah, air tak keluar," kata Sutina yang dibenarkan warga lainnya.
Pengaduan tak Ditanggapi
Lonjakan tagihan PDAM ini juga dialami warga lainnya. Sarjimin, warga Jl. Peneleh misalnya. Ia mengeluhkan tagihan airnya yang hampir 3 kali lipat. Biasanya hanya Rp 80 ribu, sekarang menjadi Rp 300 ribu lebih. "Kaget saya mbak, padahal penggunaan air juga stabil. Tapi tagihan bisa membengkak seperti itu," cerita Sarjimin.
Menurut dia, kenaikan tagihan air PDAM ini sangat memberatkan di tengah ekonomi yang sulit. Ia mengaku sudah mencoba penghubungi ke pengaduan pelanggan PDAM melalui sambungan telepon, namun tidak pernah ada tanggapan.
Sama halnya dengan Darmini, warga Jl. Pandegling. "Iya mbak sudah sebulan ini naik, meterannya juga aneh. Kadang tetap jalan meski air sudah dimatikan. Jadinya tagihannya naik," ceritanya kepada Surabaya Pagi .
Ia menambahkan dirinya seringkali mengalami ketidakstabilan pembayaran, "Kalau tagihan pas naik, banyak warga yang protes. Tapi kalau pas sedikit terkadang orang PDAM curiga sama warga. Jadi serba salah mbak kalau mau komplain," lanjut dia. Darmini berharap agar dilakukan pengecekan meteran air secara rutin agar mengetahui penyebab kenaikan tagihan.
Kualitas Air Dikeluhkan
Hendra, warga Kupang Panjaan juga mengeluhkan pelayanan PDAM. Menurutnya, melonjaknya tagihan PDAM tidak etis. Sebab, air PDAM yang diterima warga seringkali bau amis, warnanya kecoklatan dan tidak bersih. "Kalau pelayanan bagus sih tidak masalah ada kenaikan tarif, lah ini sudah airnya gak bersih, malah naik bayarnya," tutur Hendra yang membuka usaha salon ini.
Ia juga menjelaskan diirinya seringkali menanyakan pada petugas pencatat meteran. Namun petugas tidak banyak berkomentar. Ia berharap PDAM bisa mendengar keluh kesah warga sebagai pelanggan PDAM. “Pada era digital ini harunya PDAM dapat menerima keluh kesah pelanggan lewat sosial media atau contact pelanggan,” ungkapnya.
Janji Cek Lokasi
Dikonfirmasi terpisah, Humas PDAM Kota Surabaya, Agus Subagio saat di konfrimasi mengatakan jika tarip dasar tidak ada perubahan, tapi menyesuaikan keadaan guna persil dengan peraturan yang ada. Namun, untuk keluhan warga yang mengalami kenaikan tagihan air akan dilakukan pengecekan di lapangan.
"Kalau tarif dasar tidak ada perubahan, tapi kami mrnyesuaikan penggunaan air untuk rumah tangga atau usaha. Ada perbedaan antara tarif rumah tangga dan perusahaan," kata Agus.
"Tapi kami akan melakukan pengecekan ke lokasi terkait keluhan tersebut," lanjut Agus. n