Surabaya Masih Zona Merah, Belum Hijau

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat melakukan video conference Sabtu (1/8/2020) yang menyebut Surabaya sudah hijau dari penyebaran Covid-19

Risma Dinilai oleh Pakar epidemiologi Unair, Menyesatkan Publik

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Lagi-lagi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, bikin kegaduhan di publik. Ia menilai  penurunan penyebaran Covid-19 di Kota Pahlawan dianggap Surabaya sudah masuk zona hijau.
 
Merujuk peta risiko di laman di situs resmi pemerintah www.covid-19.go.id. sampai Kamis sore (6/08), Surabaya masih dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat risiko tinggi untuk penularan COVID-19, artinya Kota Surabaya masuk zona merah, belum hijau.

“Zonasi nasional secara resmi hanya dilakukan oleh Satgas COVID-19, dengan suatu sistem BLC atau Bersatu Lawan COVID-19, di sini terlihat secara nasional, semua data kabupaten kota terintegrasi yang dikoleksi dan diintegrasikan jadi satu,” kata Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers daring dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, merespons pro-kontra klaim zona hijau untuk wilayah Kota Surabaya. Klaim zona hijau disampaikan Wali kota Surabaya, Tri Rismaharini.
 
Sementara, pernyataan Risma ini dikoreksi oleh pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), dr. Windhu Purnomo. Windhu menyayangkan pernyataan Risma, karena menurutnya, bisa disalahpahami oleh masyarakat dan cenderung menyesatkan.

"Saya tahu (Risma mengklaim Surabaya zona hijau Covid-19) dasarnya memang dari Rt (rate of transmission) yang dikeluarkan dari Kemenkes tapi itu cuma sehari. Rt kalau belum 14 hari berturut-turut ya belum (termasuk zona hijau)" kata Windhu, saat dihubungi Surabaya Pagi, Selasa (4/8/2020).

Penularan masih Fluktuatif
Windhu menjelaskan, tingkat penularan atau Rt Covid-19 di Kota Surabaya saat masih fluktuatif. Terkadang, angka tingkat penularan Covid-19 berada di atas angka 1 dan beberapa kali terjadi di bawah angka 1.

Dia menegaskan, agar suatu daerah bisa masuh zona hijau Covid-19, angka tingkat penularan Covid-19 harus jauh berada di bawah angka 1 selama 14 hari berturut-turut. Windhu pun menyindir klaim Risma yang menyebut Surabaya sebagai zona hijau Covid-19, dengan sebutan hijau semangka.

"Hijau di Kota Surabaya adalah hijau semangka. Jadi hijaunya di kulit tapi sesungguhnya dalamnya merah. Itu nanti malah menyesatkan, masyarakat akan keluyuran dan justru berbahaya," ujar Windhu.

Windhu menilai, Risma terlalu terburu-buru mengklaim Surabaya masuk ke dalam zona hijau. Ia pun mengingatkan tingginya angka tingkat kematian (fatality rate) akibat Covid-19 di Surabaya. Bahkan, kata dia, angka fatality rate akibat Covid-19 di Surabaya, dua kali dari angka nasional.
"Surabaya masih tinggi, 8,9 persen, padahal nasional kurang 4,5 persen. Sedangkan WHO targetnya 2 persen. Jadi tingkat keamanan Surabaya masih jauh," kata Windhu.

Jangan beri Harapan Palsu
Windhu kembali meminta Pemkot Surabaya tidak memberikan harapan palsu kepada masyarakat terkait kondisi penularan Covid-19 di Surabaya. Dia kembali mengingatkan, ketika pernyataan dari orang nomor satu di Surabaya itu disalahpahami, masyarakat akan berperilaku seolah-olah tidak sedang dalam pandemi Covid-19.
"Banyak masyarakat yang tidak patuh protokol kesehatan padahal di Surabaya sama sekali belum aman," ujarnya.

Pemkot Klaim Penularan Rendah
Sementara, pada Selasa (4/8/2020), Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengklarifikasi bahwa, yang dimaksud dengan hijau adalah Rt bukan zona. Menurut Febria, selama dua pekan terakhir, angka reproduksi efektif (Rt) Covid-19 di Kota Pahlawan memang terkendali.

Dari semula RT Covid-19 Surabaya berwarna merah, kemudian berangsur kuning, dan dalam dua pekan terakhir berubah menjadi hijau. Febria menjelaskan, warna hijau tersebut karena selama 14 hari terakhir, tepatnya mulai 21 Juli-3 Agustus, Rt di Surabaya kurang dari angka satu. Artinya, kata Febria, penularan Covid-19 di Surabaya sudah dapat dikendalikan.
“Ingat lho yaa, saya tidak bicara zona. Tetapi bicara Rt yang sudah hijau dengan penularan kasus yang sudah dapat dikendalikan. Atau teorinya penyakit kemungkinan akan hilang dari populasi. Jadi, sekali lagi angka Rt di Surabaya sudah berwarna hijau,” kata Feny, panggilan akrab Kadinkes Febria.

Febria mengatakan, angka Rt tersebut dihitung dengan dasar data onset mulai 26 Februari-3 Agustus 2020 atau setara dengan 160 hari. Febria menerangkan, pada 21 Maret–23 Mei atau bertepatan pada PSBB tahap satu dan dua, RT Surabaya berwarna merah.
Kemudian pada 24–25 Mei membaik menjadi kuning. Berikutnya, pada 26 Mei–4 Juni berubah menjadi warna hijau. Selanjutnya pada 5–6 Juni 2020 berubah menjadi kuning dan pada 7 Juni berwarna merah. Lalu 8–10 Juni masuk warna kuning. Pada 11-12 Juni berwarna merah. Kemudian 13-15 Juni kembali berwarna kuning. "Yah terus begitu, berubah-ubah sangat dinamis. Tetapi yang paling lama warna hijau ini adalah dua minggu terakhir, semoga bisa konsisten,” ujar Febria.

Berkat Swab dan Rapid Test
Febria mengatakan, tes swab dan rapid test yang masif, berperan dalam penurunan angka penularan. Sebab, ketika tes itu dilakukan, pasti dapat mempercepat deteksi dini atau penemuan dini pasien terkonfirmasi. Sehingga setelah diketahui hasilnya, Pemkot bergerak cepat dan melakukan karantina pasien tersebut agar tidak sampai menular kepada anggota keluarganya.

“Bukan berarti itu jelek lho ya. Dengan banyaknya kita menemukan yang reaktif itu, maka berarti kita bisa lebih cepat memisahkan. Kita bisa deteksi dini dari awal untuk memisahkan pasien konfirm agar dia tidak tertular dengan keluarganya dan teman-temannya,” kata Febria.

Febria berharap, RT tersebut dapat terus terkendali, meskipun terkadang data tersebut bergerak sangat dinamis. Oleh karena itu, kata Febria, dibutuhkan peran masyarakat untuk terus disiplin terhadap protokol kesehatan. adt/byt/cr1/rmc