Sukanto, Raja Kertas dan Kelapa Sawit

Sukanto Tanoto (Tan Kang Hoo) seorang pengusaha atau konglomerat sukses asal Indonesia yang pada tahun 2019 diesebutkan oleh laman Forbes sebagai orang terkaya di Indonesia dengan menduduki posisi ke-25.
Kontributor SurabayaPagi, Putri

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Dia memimpin perusahaan yang bernama PT Raja Garuda Mas yang berbasis di Singapura yang usahanya di berbagai sektor terutama disektor kertas dan kelapa sawit sehingga Sukanto Tanoto dijuluki sebagai Si Raja Kertas dan Kelapa Sawit.

Ia merupakan salah satu pengusaha yang berhasil berinvestasi di lebih dari sepuluh negara di Dunia. Sukanto Tanoto dilahirkan di Belawan, Meda, Sumatera Utara, 25 Desember 1949. Ia mengenyam pendidikan SD di Belawan pada tahun 1960 dan kemudian Masuk SMP di medan pada tahun 1963.

Saat memasuki umur 18 tahun, ayah sukanto, Amin Tanoto, harus menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit stroke. Membuatnya yang merupakan anak sulung harus mengambil alih tugas sebagai Kepala Keluarga untuk mengambil alih tanggung jawab meneruskan usaha orangtua berjualan minyak, bensin, dan peralatan mobil.

Dari situ Sukanto pertama kali belajar keterampilan bisnis, Pindah dari kota kelahirannya, Belawan ke Medan, ia juga berdagang onderdil mobil, lalu mengubah usaha itu menjadi general contractor & supplier. Disana ia bertemu dengan pejabat pertamina yang memberinya kesempatan kerjasama sebagai kontraktor.

Tak disia-diakan kesempatan itu, di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, Sukanto membangun rumah, memasang AC, pipa, traktor, dan membuat lapangan golf di Prapat.

Pandai melihat peluang, waktu impor kayu lapis dari Singapura menghilang di pasaran, Medan ia mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita, 1972. ia memproduksi kayu lapis dan mengubah nama perusahaannya menjadi PT Raja Garuda Mas (RGM), dan dibawah kepemimpinannya sebagai direktur utama pada tahun 1973, Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

Di waktu yang sama ia juga mengembangkan bisnisnya di bidang perkebunan kelapa sawit. Dan pada tahun 1995 ia mulai mendirikan PT Inti Indorayon Utama (IIU) yang bergerak di bidang reforestation menghasilkan pulp, kertas, dan rayon, serta mampu memasok bibit unggul pohon pembuat pulp di dalam negeri.

Usaha Sukanto yang lain adalah bank. Ketika United City Bank mengalami kesulitan keuangan, pada 1986-1987, ia mengambil alih mayoritas sahamnya dan bangkit dengan nama baru: Unibank. Di Medan, ia pun merambah bidang properti, dengan membangun Uni Plaza, kemudian Thamrin Plaza. Tidak hanya dalam negeri, ia melebarkan sayap ke luar negeri, dengan ikut memiliki perkebunan kelapa sawit National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura, serta pabrik kertas di Cina (yang kini sudah dijual untuk memperbesar PT Riau Pulp).Sejak 1997, Sukanto memilih bermukim di Singapura bersama keluarga dan mengambil kantor pusat di negeri itu.

Hingga kini Pt. Raya Garuda Mas telah mengantongi izin Internasional dan bermarkas di Singapore. Pengalaman masa kecil Sukanto Tanoto yang sangat keras ternyata telah memberikan pelajaran yang sungguh luar biasa dan berpengaruh sangat serius kepada keberhasilannya memimpin beberapa perusahaan miliknya.

Kehidupan masa kecil yang diskriminatif terhadap ras yang mengalir ditubuhnya membuatnya bertahan untuk mendapatkan haknya. Perjalanannya sebagai seorang pebisnis pun tidak langsung berada di garis yang paling atas. Beliau memulai semuanya dari karir yang rendah. Namun secara dramatis, dia mampu bertahan dan bahkan mengambil keuntungan dari krisis yang terjadi di Indonesia.

Pria yang kini bertempat tinggal di Singapura ini memiliki aset hingga 12 miliar dollar AS. Suaknto Tanoto Menikah dengan Tinah Bingei Tanoto dan memiliki empat orang anak. Dan selain berbisnis ia juag memiliki hobby mendengarkan musik klasik yang ringan.