•   Kamis, 20 Februari 2020
Hukum & Pengadilan

Sengketa Tanah Ainul-Mahmud-AKR Land, Libatkan Benny Utomo

( words)
Benny Utomo (kiri) diduga ikut membantu mengurus perkara H Mahmud yang kini menjadi tersangka atas penipuan jual beli atas tanah milik petani tambak Ainul Hadi (paling kanan)


Pria Tambun yang bukan Advokat ini bisa masuk Ruang Gelar Perkara di Direskrimum Polda Jatim

Laporan: Tim Investigasi Surabaya Pagi

Kasus penjualan tanah milik petani tambak Ainul Hadi, di Desa Banyuwangi, Manyar, Kabupaten Gresik, yang kini dipakai untuk proyek perumahan AKR Grand Estate Marina (GEM) City, terus menjadi sorotan warga desa. Ini berawal dari laporan polisi PT Bangun Baja Bersama (BBB) kepada H. Mahmud, mantan Kepala Desa Banyuwangi. Mahmud disangka melakukan penipuan, penggelapan, serta pemalsuan dan pemalsuan akta otentik. Sangkaan ini sesuai pasal 372, 378, 266, 263 dan 264 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Tak hanya H. Mahmud, notaris Kamiliah Bahasuan, pun juga terseret, atas sangkaan dugaan memalsukan akta otentik.

Kini, H. Mahmud oleh Polda Jatim hanya ditersangkakan pasal 372, 378, dan sudah ditahan di Rutan Kelas IIB, Cerme, Gresik. Sementara, notaris Kamiliah, masih belum. Belum dilibatkannya dengan sangkaan Pasal 266, 263 dan 264 KUHP. Ini diduga telah diatur oleh beberapa pihak yang dekat dengan H. Mahmud. Bahkan, kasus tanah caleg Partai NasDem ini diduga dicampuri seseorang yang kerap mengaku-aku sebagai petinggi Partai NasDem baik di Jatim dan Pusat.

Hal itu pernah diungkap Surabaya Pagi pada edisi 23 Januari 2019 lalu. Saat itu, tim wartawan Surabaya Pagi, menginventigasi informasi perkara H. Mahmud diurus oleh Benny Utomo, yang mengaku Bendahara dan pengurus partai milik Surya Paloh ini.

Blusukan di Ruang Penyidik
Saat itu, Surabaya Pagi menemui beberapa advokat yang kerap beracara di Polda Jatim dan salah satu penyidik, Kamis, 17 Januari 2019 lalu. Pertemuan ini terjadi di salah satu rumah makan cepat saji di Jalan Ahmad Yani, Surabaya.

Advokat ini terkejut menyaksikan Benny, pria keturunan Tionghoa bertubuh tambun ikut berada di ruang gelar perkara. Padahal Benny, dikenal bukan advokat. Benny, diduga sudah cawe-cawe dengan perkara ini sejak bulan Oktober 2018. “Saat itu, saya melihat orang itu sering datang ke ruangan penyidik di Renakta yang menangani perkara laporan Mahmud itu. Saya mengira orang tersebut pengacara. Kata penyidik Benny bukan advokat. Saya jadi bertanya kok bisa ya kantor Polisi dimasuki sipil yang tak ada terlibat perkara,” katw advokat bernada tanya. Dia adalah salah satu pengurus Peradi Surabaya.

Advokat ini menyebut seseorang itu bernama Benny Utomo. Dan ia sendiri pernah menemui Benny, yang dengan mudah blusak-blusuk di setiap ruangan penyidik bahkan di ruangan Dirreskrimum. “Pernah juga pakai baju NasDem. Tampaknya ia sudah akrab dengan beberapa penyidik. Saya lihat, dia memperkenalkan diri sebagai pengacara juga. Cuma setau saya, di Peradi, tidak pernah mengetahui namanya,” jelasnya yang diamini advokat senior yang Kamis sore itu ikut menemui Surabaya Pagi.

Ikut Gelar Perkara
Bahkan, advokat itu membeberkan, saat laporan PT Bangun Sarana Baja (BSB) / PT Bangun Baja Bersama (BBB) ke Polda Jatim dengan nomor laporan 444/IV/2018/UM/SPKT tertanggal 11 April 2018, hendak gelar perkara sekitar bulan November 2018, Benny, ikut hadir bersama dua perwira menengah saat itu.

“Dia juga ikut di ruangan. Awalnya, saat pemaparan gelar perkara, sudah ada titik cerah terhadap laporan PT BSB itu. Namun, saat sosok Benny ikut hadir, tiba-tiba, gelar perkara yang sudah cerah, dimentahkan. Bahkan salah satu penyidik pun disemprot perwira menengah itu untuk dirubah skema perkaranya,” cerita advokat ini.

Benny Tak Menampik
Benny Utomo sendiri saat ditemui Surabaya Pagi, di lobby Hotel Shangri-La Surabaya, Sabtu 19 Januari 2019 lalu, tak menampik terhadap kasus yang dialami rekan di partainya itu.
Bahkan, Benny blak-blakan dengan rinci bagaimana alur kasus yang dialami H. Mahmud. Benny, yang Sabtu pagi itu mengenakan kaos berwarna putih bergambar logo Adidas dan celana jins biru, menyebut bahwa perkara tanah yang dilaporkan PT BSB ke Polda Jatim dengan terlapor H Mahmud itu sudah selesai.

“Dari beritamu (pemberitaan di Surabaya Pagi, lima edisi), sudah selesai (kekeluargaan). Justru PT BSB itu yang salah. Karena saat itu, BSB ndesak minta tolong ke Mahmud. Tapi sama dia (BSB, red) udah buru-buru dijual lagi,” kata Benny, bercerita berapi-api, yang duduk di sebelah salah satu caleg dari Partai Golkar, Sabtu 19 Januari 2019 pagi saat itu.

Saat itu, Surabaya Pagi memuat investigasi lima edisi berturut-turut sejak tanggal 14 Januari 2019.

Namun, saat ditembak, bahwa perkara H. Mahmud diduga dibantu olehnya, Benny tampak binggung. “Wahh, aku gak melok opo-opo. Aku malah jik tas eruh teko pemberitaan ndek Surabaya Pagi (Wah, saya tidak ikut apa-apa. Saya malah baru tahu dari pemberitaan Surabaya Pagi). Trus aku konfirmasi (ke Mahmud). Jadi gak bener lah iku,” jawab Benny saat itu.

Benny Utomo, di kalangan pengusaha Tionghoa Surabaya, kerap dikenal bisa mengurus perkara di Kepolisian hingga Kejaksaan. Wartawan Surabaya Pagi juga mengenal Benny sejak tahun 2006 lalu. Saat itu Benny juga dijumpai urus perkara pidana dan dimuat lengkap dengan fotonya. Sejak tahun 2017, Benny muncul lagi. Kali ini mengklaim dekat dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh.

Pria yang dengan ciri-ciri tambun bermata sipit ini, di ruang reserse seperti kantornya. Maklum dengan beberapa penyidik, Benny tampak familier. Padahal ia bukan pengacara.

“Yah memang banyak yang mengenal Benny bisa urus perkara. Sudah jadi rahasia umum itu di kalangan orang Tionghoa Surabaya,” ujar salah seorang advokat Tionghoa yang meminta namanya dirahasiakan.

Berita Populer