•   Rabu, 29 Januari 2020
Pendidikan

Sekolah Living Quran dan Hadis, Menarik Adat jadi Ibadat, Mengubah Klenik menjadi Akademik

( words)


SURABAYAPAGI.com, CENTER for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation menggelar wisata literasi Sekolah Living Quran dan Hadis (LQH). Selain belajar teori dan metode LQH, di akhir acara peserta diajak menikmati keindahan pantai Papuma Jember, belum lama ini. Sekitar 30 peserta LQH datang dari UIN Sunan Ampel Surabaya hingga Institut KH Abdul Chalim Mojokerto.
Agenda kegiatan Sekolah LQH dibingkai dalam bentuk focus froup discussion (FGD) yang dimentori seorang pemantik. Penggunaan forum FGD lebih untuk memberikan keleluasaan bagi peserta berpartisipasi dan mengutarakan idenya.
Menurut M Najih Arromadloni, advisor CRIS Foundation, Sekolah LQH lebih untuk menggali informasi perwujudan Al Quran dan Hadis di masyarakat untuk kemudian dievaluasi. Agar sesuatu yang asalnya adalah adat ditarik menjadi ibadat, dan yang awalnya klenik menjadi akademik. Semua ini dalam rangka mengoptimalkan dan mengantisipasi adanya pereduksian terhadap pemaknaan Al Quran dan hadis sehingga tak gampang bagi seseorang mengatakan bid’ah atas tradisi dan budaya di Nusantara ini.
Dalam pengantarnya, advisor sekaligus dosen UIN Sunan Ampel ini juga mengatakan, Sekolah LQH merupakan yang pertama kali dalam sejarah.
Selama tiga hari di Jemper, peserta mendapat materi pengantar penelitian Quran dan hadis serta beberapa perangkat keilmuan sosial yang diperlukan, seperti sosiologi, fenomenologi, antropologi, dan etnografi.
Di hari terakhir, peserta diminta mempresentasikan outline penelitian yang akan ditindaklanjuti dengan penelitian selama liburan kuliah, sehingga pelatihan tak hanya bersifat seremonial, melainkan ada langkah riil menggali dan memperkenalkan tradisi dan budaya Nusantara, serta mengaitkannya dengan nilai-nilai Quran dan hadis.
CR/beb (trbnws)

Berita Populer