Sejumlah Cabor di Jombang Mengeluh Akibat Turunnya Dana Pembinaan

SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Sejumlah cabang olahraga (Cabor) di Jombang, Jawa Timur, mengeluh, karena dana anggaran pembinaan yang diperoleh dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat menurun.

Cabor yang merasakan pahitnya akibat dana pembinaan turun yaitu tarung derajat dan tinju. Kedua Cabor hanya bisa pasrah dan memaksimalkan dana pembinaan seadanya.

Pelatih Kodrat, Cabor Tarung Derajat, Samsu mengungkapkan, bahwa dana yang didapat untuk mengikuti kejuaraan sudah habis. Pihaknya melakukan dengan cara swadaya. "Kita sering tekor. Apalagi akhir tahun seperti ini," ungkapnya, Rabu (18/12/2019).

Samsu memaparkan, cabornya menerima dana pembinaan pada tahun 2017 sebesar Rp 25 juta, pada tahun 2018 turun menjadi Rp 20 juta. Nah pada tahun 2019 ini, hanya menerima Rp 7,5 juta.

"Beban pembinaan petarung harus kami tanggung dengan anggaran yang cuma sebeaar itu. Selain itu, juga harus membiayai kejuaraan yang diikuti setiap ada turnamen," paparnya.

Samsu pun tak mengetahui indikator apa yang dijadikan KONI dalam menentukan besaran anggaran masing-masing cabor. "Setiap cabor kan tidak sama, ada yang dapat banyak, dan ada yang sedikit," ujarnya.

Samsu menilai, KONI terkesan tertutup dalam masalah ini. Dan pembagian dana pembinaan kelihatannya tidak ada dasar penentuan yang jelas.

“Saya tidak tahu cara menghitungnya seperti apa. Bagi saya yang tidak tahu merasa minder sendiri. Seperti ada anak emas, ada anak perak,” nilainya.

Samsu pun blak-blakan, bahwasanya cabornya sering menunda kegiatan yang diikuti, karena minimnya dana. Diakuinya, atlet tarung derajat bukan dari kalangan menengah ke atas.

Kedepan, harapan Samsu agar dana pembinaan tahun depan, dalam pembagian harus lebih terbuka. "Ya mempertimbangkan prestasi yang didapatkan diajang porprov 2019," tegasnya.

Sementara itu, Cabor Tinju juga merasakan "pahitnya" dana yang diperoleh seperti Cabor Tarung Derajat. Pelatih Pertina Jombang, M Jono mengungkapkan, pada tahun 2017 Pertina menerima Rp 25 Juta, 2018 menerima Rp 20 juta, dan terakhir ini hanya menerima Rp 7,5 juta.

"Kalau dana pembinaan santai, saya juga santai. Tapi kalau dana pembinaannya serius, saya pasti juga serius,” tegasnya.

Jono menjelaskan, meski dana pembinaan yang diperoleh pertina tambah sedikit, tapi kegiatan di cabor tinju tetap berjalan seperti biasa.

“Saya sih pasrah saja. Mungkin dananya memang sedikit, sehingga dapatnya juga sedikit. Saya sekarang tidak terlalu ngoyo (serius, red) kok,” pungkasnya.(suf)