Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Secara Akal Sehat, Negative Campaign itu Domainnya Penantang

Catatan Politik
Dr. H. Tatang Istiawan

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Saya perlu bertanya kepada Anda berdua, dengan pendekatan akal sehat. Bertanya bagaimana sebuah kampanye bisa dianggap sebagai black campaign atau negative campaign?
Akal sehat saya mengatakan pembedaan ini mesti dilihat secara kasuistis. Mengingat, secara harfiah, kampanye negatif (negative campaign) bisa mengungkapkan fakta yang menunjukkan kekurangan, dan kelemahan seseorang.
Apalagi menggunakan pendekatan bahwa suatu kampanye Pilpres selalu dinamis. Pertanyaannya bisakah Bawaslu dan KPU menghentikan atau melarang kampanye negatif?.
Pertanyaan ini penting terkait akal sehat, yaitu apakah masyarakat suka disuguhi dengan negative campaign? atau kampanye negatif yang mengungkap sisi kelemahan capres atau cawapres tertentu?
Apakah kampanye negatif selalu dimaksudkan untuk menjatuhkan elektabilitas Capres dan cawapres kompetitor?
Menurut akal sehat saya, kampanye negatif belum tentu menjatuhkan elektabilitas seseorang.
Akal sehat saya malah mengatakan kampanye yang bisa menjatuhkan Capres atau cawapres, ada pada pusaran black campaign atau kampanye hitam.
Menurut akal sehat saya, mereka yang melakukan kampanye negatif secara hukum, tidak bisa ditindak, sepanjang apa yang disampaikan sesuai fakta, dan tidak hoaks.
Misalnya seorang capres pernah janji mensejahterakan masyarakat? Tapi dalam kenyataan, setelah yang bersangkutan menjabat, harga-harga sembako meroket, daya beli masyarakat kecil melemah, sebaliknya ada masyarakat kelas atas yang gampang menumpuk kekayaan? adilkah?. Inilah fakta di masyarakat.
Dalam marketing politik, negative campaign dan black campaign merupakan salah satu bagian dari strategi komunikasi politik yang digunakan untuk mengkritisi Capres-cawapres lain.
Makanya orang komunikasi mengkategorikan negative campaign dan black campaign menjadi bagian strategi komunikasi politik. Terutama untuk pengaruhi opini publik terkait citra lawan.
Bahkan negative campaign yang selama Pilpres 2014 lalu juga beredar di masyarakat untuk menyerang lawannya dengan maksud meraih simpati dan rasa iba dari pemilih.
Hal yang saya pelajari, dalam khazanah ilmu politik, malah ada teori strategi politik yang disebut playing victim.
Teori playing victim adalah teknik memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka demi mengelabui musuh dan lingkungan. Taktik ini belakangan ditudingkan ke teman tersangka kasus kebohongan Ratna Sarumpeat.
Dari literatur, taktik ini berasal dari strategi perang Sun Tzu, seorang Jenderal dari Cina. Sun Tzu, sebagai maestro perang Tiongkok dan ahli strategi perang menyatakan ; Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Dan masuk pada jebakan dan jadilah umpan. Artinya berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama taktik playing victim, bisa membuat musuh akan bersantai sejenak, karena melihat dirinya bukan sebagai sebuah ancaman serius.
Kemungkinan kedua adalah upaya untuk menjilat musuh dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman.
Contoh sederhana negative campaign Pilpres 2019 ini antara lain melakukan ‘’serangan’’ terhadap KH Ma’ruf, Cawapres Anda Jokowi, terkait umur sepuh dan kondisi kesehatannya. Termasuk membeberkan riwayat penyakit KH Ma’ruf.
Kelak, bisa jadi, menurut prakiraan saya, Jurkam Anda Capres Prabowo, akan minta para pendukungnya untuk memilih calon cawapres yang muda, sehat dan cerdas. Permintaan semacam ini bisa tidak menunjuk langsung nama seseorang. Tetapi publik akan bisa membaca arah ‘’serangan’’ ini.
Menurut akal sehat saya, jurkam tim Anda Capres Prabowo juga bisa menyinggung usia KH Ma’ruf yang di atas 70 tahun. Dengan usia lanjut, bisa digambarkan sebagai kurang cocok menjadi Cawapres yang menghadapi kompleksitas berbangsa dan bernegara.

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Saya mengenal strategi media dalam memasarkan produk politik sejak tahun 1999. Strategi media adalah strategi marketing politik yang diaplikasikan melalui media. Artinya, strategi marketing politik melalui media dapat dikategorikan dalam tiga saluran media, yaitu melalui media lini atas (above line media) seperti surat kabar, televisi dan majalah, media lini bawah (below line nedia) seperti poster, spanduk, baliho, dan media baru (new media) yaitu melalui medium internet.
Sementara strategi non-media berkaitan dengan struktur komunikasi, seperti face to face informal, struktur sosial tradisional (adanya opinion leader atau tetua adat), saluran input (kelompok penekan), dan saluran output (legislative dan birokrasi).
Akal sehat saya mengatakan, politisi atau komunikator politik yang siap bertarung dalam pileg dan Pilpres 2019 ini terdiri mereka yang sudah mempertimbangkan hal-hal kalah atau menang.
Makanya, politisi yang sudah matang, beranggapan urusan menang dan kalah dalam ajang atau kontestasi Pileg dan Pilpres adalah masalah kesiapan dan kematangan strategi kampanye politik.
Rumusnya, jika strategi kampanye tidak mumpuni, sudah dapat dipastikan akan mendapatkan kegagalan dan frustasi.

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Suka atau tidak, pilihan menjadi oposisi atau bagian dari koalisi pasca pemilihan pilpres 2014 lalu bisa dianggap bagian dari strategi politik.
Dengan konstelasi baru saat ini, misalnya, saya amati muncul strategi-strategi baru yang lebih menggetarkan dibanding pertarungan Anda berdua tahun 2014. Apa saja? Yang saya baca sampai Oktober 2018 ini, gejala menghidupkan politik identitas mulai kelihatan.
Bagi sebagian warga Negara Indonesia, strategi itu akan menyangkut keberlangsungan dan eksistensi para aktor “dan atau” partainya.
Mengingat, seringkali strategi aktor secara individual tidak sama sejalan dengan partai sang aktor politik. Koalisi partai pendukung Anda Capres Jokowi, masih solid.
Sementara koalisi Anda Capres Prabowo, penonjolan masih dilakukan oleh kader-kader Partai Gerindra. Parpol lain pendukung Anda Capres Prabowo, sepertinya belum ikut apa kata partai. Bisa jadi ini mungkin Pilpres bersamaan dengan pileg. Meski demikian, hal seperti ini bisa jadi bagian dari strategi.
Nanti bisa dilihat beberapa minggu menjelang pencoblosan. Saya prediksi bakal muncul manuver para aktor dan partai politik dengan lebih militan bahkan ekstrim.
Dalam pengamatan saya sampai awal Oktober ini, ada sejumlah elite parpol dan partai politik tidak begitu menggubris urusan koalisi atau oposisi. Sejumlah elite parpol yang tinggal di Jatim bahkan ada yang bersikap pragmatis tentang pertarungan Pilpres sekarang. Mereka ada yang menganggap pertarungan Anda berdua bagian dari strategi politik meraih kekuasaan.
Karena itu, apapun pilihannya, berkoalisi atau beroposisi pada Pilpres 2019, ada kesempatan bagi sejumlah elite partai politik yang lihai untuk tampil di Senayan lagi sekaligus memiliki kedekatan dengan tim sukses Capres dan Cawapres diantara Anda berdua.

Yth Pak Jokowi- Pak Prabowo,
Memotret pertarungan Anda berdua untuk kali kedua, saya menganalogikan sebuah pertandingan tinju antara Khabib Nurmagomedov vs Conor McGregor dan Mike Tyson dengan Evander Holyfield.
Khabib pasca menjadi juara dunia kelas ringan UFC , menolak tawaran untuk tanding ulang dengan petinju asal Irlandia.
Penolakan ini ditandai saat Khabib mengembalikan uang senilai 15 juta dolar atau sekitar Rp 228 miliar untuk bertanding ulang melawan McGregor. Dan McGregor sebelumnya telah kalah dalam perebutan gelar juara dunia kelas ringan pada awal Oktober ini.
Khabib dan Tyson, sama-sama memukau dunia. Tetapi saya lebih tertarik menyamakan dengan Mike Tyson, mantan juara tinju kelas berat sejati di dunia dan pemegang rekor sebagai petinju termuda yang memenangkan WBC, WBA dan IBF kelas berat.
Pada tahun 1996, Sabuk WBA Tyson direbut oleh Evander Holyfield dengan TKO di ronde ke-11. Kemudian pada tahun 1997, Tyson dan Holyfield, melakukan pertandingan ulang. Ternyata Tyson didiskualifikasi karena menggigit telinga Holyfield. Tyson mau bertanding ulang, dari sisi psikologis antara lain kemampuan menganalisis kembali kekuatan Holyfield dan merubah strategi dari sebelumnya.
Demikian juga dengan Anda berdua Capres Jokowi dan Prabowo, Anda pasti melakukan evaluasi-evaluasi mengapa dalam Pilpres 2014 lalu kalah dari Anda Capres Jokowi. Padahal, Anda Capres Prabowo, pernah menjadi jenderal yang memiliki pasukan satuan tempur elite di TNI-AD. Sementara, Anda Capres Jokowi, seorang Gubernur dan Walikota yang semula pengusaha mebel di kota Solo.
Bisa jadi, kini yang menjadi fokus utama Anda Capres Prabowo, sebagai penantang kali kedua Anda Capres Jokowi, adalah bagaimana bisa memenangkan pertandingan kedua.
Tentu, dalam pertarungan tahap kedua, Anda berdua bisa mengatur style bertarung seperti sikap petinju professional. Diantaranya bisa menggunakan style bertarung dengan pendekatan strategis tempur seorang petinju. Salah satunya membidik kelemahan dan kekurangan lawan.
Seperti Tyson kelemahannya adalah permasalahan pribadi. Bagi penantang Tyson, kelemahan ini bisa digunakan untuk menyerang melalui negative campaign.
Pelatih Mike Tyson, Rory Holloway , pernah membeberkan penyebab anjloknya karier si leher beton. Menurut Holloway, Tyson meredup secara cepat karena kecanduan seks.
Meski pernah dihukum enam tahun karena soal wanita, Tyson tidak merasa jera atas hukuman tersebut. Menurut Holloway, setelah dipenjara Tyson masih sering mengunjungi wanita di penjara Plainfield Correctional Facility, Indiana. Holloway mengakui sejak menjadi juara dunia kelas berat, puluhan wanita mengantre untuk bisa bertemu dengan Mike.
Nah, Jokowi meski kini dipublis oleh tim suksesnya dengan segudang hasil kerjanya, bukan tidak mungkin ada kekurangan dan kelemahan selama memimpin Indonesia sampai tahun ke empat lebih sekarang ini.
Konsep kampanye negative yang dikenal mengungkapkan fakta yang menunjukkan kekurangan seseorang, cocok digunakan oleh Anda Capres Prabowo. Buat Jokowi, sebagai incumbent, kurang bermanfaat melakukan negative campaign Anda Capres Prabowo.
Maka itu, saya berani mengatakan dengan akal sehat, konsep strategi komunikasi politik Negative Campaign efektif untuk setiap penantang pertarungan Pilpres dan Pilkada, Berbeda dengan Anda Capres Jokowi, yang ibaratnya penguasa pasar.
Nah, dengan latar belakang yang berbeda, maka rencana pemasaran atau strategi bersaing juga harus menyesuaikan. Terutama rencana pemasaran Anda Capres Jokowi, tidak dapat diterapkan sepenuhnya oleh Anda Capres Prabowo. Inilah hakikat munculnya posisi persaingan,
Dalam ilmu pemasaran, pada saat memperebutkan pangsa pasar, akan ada yang tampil sebagai pemenang yait mampu merebut pangsa lebih besar dibanding kompetitor.
Anda Capres Prabowo saya ibaratkan si market challenger atau penantang pasar. Nah, dengan melihat Anda Capres Jokowi, begitu menguasai pangsa pasar adalah wajar Anda Capres Prabowo, melakukan serangan-serangan agar mampu menguasai pasar.
Akal sehat saya mengatakan Anda Capres Prabowo, akan tampil sebagai pesaing baru atau penantang pasar yang berbeda saat Anda berpasangan dengan Hatta Rajasa. Sebagai penantang, Anda Capres Prabowo, bisa menerapkan strategi macam-macam, baik secara terbuka maupun secara langsung menghadapi pesaing.
Maka itu, menurut akal sehat saya, Anda Capres Prabowo bersama tim suksesnya, berpeluang mengerus suara pemilih yang semua memilih Anda Capres Jokowi, si incumbent, melalui pembeberan kelemahan dan kekurangan selama menjadi presiden, baik aspek ekonomi, sosial, politik dan perilaku.
Berhubung kelemahan dan kekurangan sebauah suatu fakta yang ada rangkaian peristiwa, sah-sah saja sebagai penantang, tim sukses Anda Capres Prabowo, mencukil salah satu strategi komunikasi politik yaitu negative campaign, bukan black campaign. Mari kita tunggu. (tatangistiawan@gmail,com, bersambung)