Sebab Akibat Banyaknya PHK Selama Corona, Begini Solusinya

SURABAYA PAGI, Jakarta - Seretnya likuiditas keuangan perusahaan selama wabah virus corona melanda, menjadi salah satu biang keladi maraknya aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia. Berikut laporan koresponden Surabaya Pagi, Jaka Sutrisna di Jakarta.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Shinta Kamdani menuturkan seretnya likuiditas keuangan perusahaan yang ditambah dengan beratnya beban biaya tenaga kerja, membuat PHK menjadi salah satu opsi bagi para pengusaha.

Oleh sebab itu, kata Shinta, untuk mengatasi masalah PHK, perusahaan perlu dibantu untuk mengamankan likuiditasnya dan dikurangi beban biaya tenaga kerjanya hingga wabah ini selesai.

“Langkah ini harus dilakukan bersamaan agar perusahaan bisa survive tanpa PHK besar-besaran hingga wabah ini selesai atau terkontrol,” kata Shinta.

Namun, menurutnya, di sisi pengadaan likuiditas, stimulus kredit khususnya restrukturisasi kredit usaha dan relaksasi kredit atau penurunan suku bunga pinjaman oleh pemerintah, sejauh ini masih belum maksimal. Akibatnya distribusi kredit usaha sebagai stimulus ekonomi yang bisa membantu pengadaan likuiditas perusahaan belum memberikan efek likuiditas keuangan yang diperlukan perusahaan.

“Akhirnya, PHK tetap terjadi karena likuiditas keuangan kepada perusahaan tidak didistribusikan secara tepat waktu,” ujarnya.