•   Sabtu, 29 Februari 2020
Pilpres 2019

SBY, Bisa Presiden 2x, karena Hargai Pers, Jokowi.....

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (45)

Pak Jokowi- Pak Prabowo Yth,
Anda berdua ini rival sejak tahun 2014. Pada tahun itu, Anda berdua memiliki cawapres yang berbeda dengan yang sekarang. Saat itu, usia Jusuf Kalla, cawapres Anda Capres Jokowi, lebih tua dibanding Cawapres Prabowo yaitu Hatta Rajasa. Juga sekarang dalam Pilpres 2019, cawapres yang Anda Capres Jokowi, juga usung yang lebih tua dari Sandiaga Uno, Cawapres Anda Prabowo.
Akal sehat saya mengatakan, rivalitas Anda berdua bersifat laten.
Maksud saya prakiraan persaingan laten, ada serangan-serangan yang tersembunyi dan terpendam serta tidak kelihatan dari Cawapes Prabowo. Serangan-serangan ini bisa berpotensi untuk muncul di permukaan.
Contoh, kesepakatan tentang rivalitas berkonsep kampanye damai. Tapi Rabu kemarin, deklarasi kampanye damai disepakati, sudah mulai digulirkan dalam gerakan massa mengawal Amien Rais. Ketua Dewan Pembina PAN, diperiksa penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus kabar bohong mantan personil Jurkam Anda Capres Prabowo.
Apakah gerakan bersifat laten dari Anda Capres Prabowo, hanya berhenti untuk urusan kesaksian Amien Rais saja. Feeling saya tidak. Kemungkinan Anda Capres Prabowo, juga bakal dipanggil penyidik Polda Metro Jaya. Maklum, Anda Capres Prabowo, sempat menggelar konferensi pers mengecam penganiaya Ratna Sarumpeat, tanpa melakukan cek and recek.
Sehari setelah mengutuk penganiaya Ratna yang Anda Capres Prabowo, sebagai biadab, Anda memohon maaf atas grusa-grusu Anda yang menghomentari pengakuan melalui keterangan pers.
Apakah mungkin, apa yang Anda Capres Prabowo lakukan itu masuk tindak pidana ITE terkait berita bohong? Hanya aparat kepolisian yang akan menentukan status Anda Capres Prabowo, cukup saksi atau malah ditersangkakan?
Menurut akal sehat saya, bila Amien Rais dan Anda Capres Prabowo, ditersangkakan, gerakan laten pengerahan masa seperti kemarin, bisa terjadi lebih besar. Prediksi saya, peristiwa seperti kasus penistaan agama oleh Ahok, terulang.
Bedanya, saat itu massa menuntut Polri memenjarakan Ahok. Sekarang bisa muncul skenario jangan kriminalisasi politisi pendukung Anda Capres Prabowo. Jadi, bila prediksi saya ini akan menjadi kenyataan, bisa jadi dalam Pilpres 2019 ini bakal diwarnai politik identitas.

Pak Jokowi- Pak Prabowo Yth,
Munculnya gerakan massa seperti yang dipertontonkan saat pengawalan Amien Rais, prediksi saya dalam Pilpres 2019 ini bakal memperketat persaingan dan bisa-bisa dapat menyulut persaingan tidak sehat.
Akal sehat saya memotret, persaingan tidak sehat saat ini sudah mulai terlihat. Sampai semalam, konsep dan ideologi Anda berdua dalam mensejahterakan rakyat Indonesia belum saya dengar.
Anda berdua tampak masih menonjolkan blusukan dan belakangan ini cara berpikir Anda berdua tergerus oleh kebohongan Ratna Sarumpeat dan bencana alam Palu dan Lombok.
Saya bisa memahami semua yang Anda kerjakan bersama tim sukses Anda. Maklum, strategi politik antara lain melakukan pencitraan dri. Dan pencitraan ini acapkali menggambarkan pemimpin yang seolah-olah berpihak kepada rakyat.
Dalam bentuk proses demokratisasi, populisme sepertinya ditampilkan untuk mempertahankan kepentingan dan memaksimalkan kekuatan warga negara.
Menurut pengamatan saya, politik rakyat sebenarnya telah mencuat di panggung nasional Indonesia pada tahun 2014 lalu.
Saat itu, dalam catatan saya, Pilpres 2014 telah menjadi ajang persaingan Anda berdua. Dalam potret saya, Anda berdua memiliki gaya kepemimpinan yang kontras.
Anda Capres Joko Widodo, dijuluki presiden Indonesia setelah Soekarno, yang palig populis “sopan” dan “teknokratis”.
Dalam kesehariannya, Anda Capres Jokowi, suka menggenakan hem putih dan celana hitam. Dan pada saat blusukan di pasar dan mall serta tempat umum, saya bisa memotret Anda Capres Jokowi , menggambarkan diri seperti “teman rakyat” yang ramah dan pembaharu. Teman yang tergambar sepertinya, Anda Capres Jokowi, berpihak pada orang miskin dan pemimpin yang suka menyelesaikan suatu masalah.
Pertanyaannya, mengapa kini banyak ekonom yang menyoroti konsep pembangunan ekonomi Anda Capres Jokowi, belum mensejahterakan rakyat kebanyakan?
Sementara, Anda Capres Prabowo Subianto, saat kampanye tahun 2014 termasuk di layar TV memunculkan gaya kepemimpinan dengan pembawaan lebih berapi-api dan bombastis.
Capres yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat ini, vocal dalam mengutuk korupsi dan ‘pengkhianat ekonomi.
Saat mendengar pidato kutukan seperti ini, kadang saya bertanya, bisakah saat menjadi pimpinan Nasional nanti (bila terpilih oleh rakyat), Anda Capres Prabowo berani memberantas pengkianat ekonomi yang ada di kota-kota besar, terutama di Jakarta? Apalagi Anda sendiri juga mengakui maling-maling uang rakyat dilakukan segelintir orang yang bertempat tinggal di Jakarta.

Pak Jokowi- Pak Prabowo Yth,
Jujur, dalam memotret presiden pria sejak reformasi 1998, Anda berdua berbeda visi dalam membangun negeri ini dengan SBY, yang bisa dua kali menjadi presiden.
Dari menyaksikan pidato di TV dan liputan pers, Anda Capres Jokowi, selalu tampak segar. Bahkan tutur kata Anda mengesankan pribadi yang rendah hati, berpandangan ke depan.
Saat ini, popularitas Anda Capres Jokowi, menurut beberapa lembaga survei, masih tetap relatif tinggi, terutama seputar agenda teknokratiknya seperti pembangunan infrastruktur.
Membaca hasil survei dan kritik sejumlah ekonom, termasuk Kwiek Kian Gie, Anda Capres Prabowo bisa jadi akan menjadi lawan berat dalam Pilpres 2019. Apalagi ada kecenderungan Anda Capres Prabowo, mulai memainkan peran populisme Islam. Ini bisa saya saksikan saat Rabu kemarin, ratusan massa yang menyebut pengerahan dari alumni 2012, mengawal Amien Rais di Polda Metro Jaya.
Catatan saya, Anda Capres Prabowo, makin hari, justru lebih menawarkan gaya pemimpin yang populis seperti Soekarno yaitu bersemangat dan bahkan demagogis.
Apalagi urusan korupsi dan nasionalisme ekonomi, Anda mencerca habis-habisan. Dalam ruang ini, Anda lebih kelihatan seperti “kepemimpinan yang kuat.” Dalam beberapa pidato yang pernah saya dengar, populisme Anda acapkali melihat ke belakang menata penampilan seperti Sukarno, presiden pertama Indonesia.

Pak Jokowi- Pak Prabowo Yth,
Apakah Anda Capres Jokowi, yang ingin meniru SBY bisa terpilih dua kali, akan meniru kisah sukses Jenderal yang sampai kini masih perang dingin dengan Megawati.
Saya memiliki catatan, sampai menjelang akhir jabatan sebagai presiden dua kali, SBY, tak memiliki kesalahan blunder. Kecuali isu dikaitkan dengan skandal Bank Century.
Dalam soal kenaikan harga BBM non subsidi, misalnya Anda Capres Jokowi, tega, menaikan harga BBM tanpa Undang-undang. Bahkan kenaikan BBM diumumkan oleh Pertamina.
Anda Capres Jokowi, pasti mendengar, kenaikan BBM non subsidi ini oleh sejumlah politisi di Senayan dianggap sebagai telah merampas uang rakyat. Berbeda dengan SBY, kenaikan BBM selalu dibahas dengan DPR-RI.
Anda Capres Jokowi, menurut saya tidak boleh puas dengan hasil survei elektabilitas.
Meski, tahun 2017 lalu, elektabilitas Anda masih di angka 52,4%, urusan kemiskinan hingga aksi terorisme, menjadi sorotan.
Responden sebanyak 2.600 yang dipilih oleh PolMark Indonesia, menyoroti empat persoalan paling menonjol era Anda Jokowi, memimpin pemerintahan. Diluar masalah teroris, ada tiga masalah sosial-ekonomi yaitu kemiskinan, harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selain korupsi.
Survei dari PolMark Indonesia ini digelar pada 13-25 November 2017 dengan sampel 2.600 responden, yang dipilih secara acak (multistage random sampling) di seluruh provinsi dan 260 desa. Margin of error +/- 1,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Dari hasil survei, kemiskinan menduduki peringkat pertama yang dikeluhkan responden, yaitu 29,5%. Kemudian disusul harga kebutuhan pokok yang terus meningkat 16,8%, korupsi yang merajalela 16,3%, sulit mendapatkan pekerjaan 7,8%, dan pembangunan infrastruktur yang belum merata 4,7%.
Kemudian diskriminasi SARA 3,7%, penegakan hukum yang tidak adil kepada masyarakat bawah 3,5%, akses dan pelayanan kesehatan belum merata 3,0%, serta kualitas dan akses pendidikan gratis belum merata 2,4%. Dilanjutkan persatuan bangsa Indonesia yang terancam pecah 2,1%, terorisme dan menguatnya kelompok fundamentalis 1,5%, perbedaan pandangan antarkelompok dalam masyarakat 1,0%, lainnya 1,2%, dan tidak tahu/tidak menjawab 6,5%.
Berbeda saat SBY memimpin selama 10 tahun. SBY mengaku mengatur pembangunan supaya bisa dirasakan masyarakat.
Dan rahasia SBY, sampai dirinya bisa bertahan menjadi pucuk pimpinan di Indonesia selama 10 tahun berturut-turut selalu dekat dengan pers.
Padahal, selama dua periode, SBY mengaku sering mendapat kritikan dari pers. Bagi SBY, justru kritik ini, membuatnya tetap bisa menjalankan roda pemerintahan. Makanya, SBY menghargai peran pers dalam roda pemerintahannya.
SBY saat peluncuran buku bertajuk ‘’SBYU dan Kebebasan Pers, Testimoni Komunitas Media, di Grand Hyatt Jakarta (5/09/2014), menyatakan
Tanpa kritik pers, selama 10 tahun belum tentu saya bisa bertahan.
Maka itu, SBY berani berpendapat jika ada pemimpin di belahan dunia mana pun yang pantang terhadap kritikan pers, sama saja dengan menyimpan bom waktu. Bom yang suatu saat dapat meledak dan berakibat fatal.
Berbeda dengan Anda Capres Jokowi. Saat menyampaikan pidato di depan para wartawan yang menghadiri Hari Kebebasan Pers Sedunia 2017, di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017), Anda hanya mengakui Indonesia sebagai negara dengan pers paling bebas sedunia.
Tapi, meski belum pernah mengakui peran pers dalam membantu kepemimpinan Anda Capres Jokowi, Anda saat menghadiri Hari Pers 2018 di Padang, justru memiliki kenangan dengan wartawan.
Pada hari Pers, itu, Anda justru ingin menjadi wartawan. Untuk itu, Anda meminta salah satu wartawan naik ke panggung dan berperan menjadi diri Anda sebagai Presiden. Terungkap, ternyata Anda tidak suka terhadap Rakyat Merdeka.
Dalam sekali pertemuan, Anda Capres Jokowi, pernah ditemui 90 orang wartawan.
Anda kaget, ternyata pertanyaan wartawan tidak satu, tapi banyak sekali dan pertanyaannya sulit-sulit. Anda mengakui berhubung ditembak langsung oleh wartawan, Anda mengakui sering tidak siap.
Saran saya, saat kampanye ini, Anda berdua perlu tahu eksistensi wartawan tulen. Mereka adalah orang yang kritis dan tidak pernah puas mengkritisi penyelenggara Negara, penegak hukum dan pengusaha. Ini karena perannya sebagai Watchdog.
Wartawan atau pers sebagai “watchdog” , karena memiliki kepekaan menggunakan mata dan telinga. Dengan mata dan telinga yang peka, seorang wartawan bisa memberi isyarat, tanda-tanda dini, pembentuk opini, sekaligus pengarah agenda ke depan.
Makanya, dalam diri wartawan tulen, setiap hari, selalu memperkaya wawasannya dengan berbagai informasi. Maklum tugasnya antara lain memberikan pemahaman informasi kepada masyarakat yang heterogen.
Akal seha saya berpesan, Anda berdua saat kampanye jangan menjauhi wartawan. Mengingat, Anda makin menjauh dari wartawan, otomatis wartawan juga bisa menjauhi Anda yaitu akan melihat kepemimpinan Anda dengan sikap kritis yang benar-benar kritis seperti fungsi watchdog. Pertanyaannya, apakah Anda berdua bisa meniru SBY, yang selalu dekat dengan Pers, termasuk menerima kritik? (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer