Sambari (Diduga) Main Aman

Orang Dekat Bupati Gresik Sambari Halim Berpeluang sebagai Pengganti di Pilbup 2020. Muncul Indikasi Gerakan Borong Rekom Parpol
M. Aidid, Raihan, Rangga Putra,
Tim Wartawan Surabaya Pagi

Wakil Bupati (Wabup) Gresik Mochammad Qosim dan Wakil Ketua DPRD Gresik dr. Asluchul Alif disebut-sebut memiliki peluang menjadi pengganti Bupati Sambari Halim Radianto, yang sudah 15 tahun ‘berkuasa’ di Gresik. Kedekatan Qosim dan Sambari tak diragukan, mengingat dua periode ini tak terlihat perpecahan di mata publik. Sedang Asluchul Alif juga disebut-sebut memiliki kedekatan dengan Sambari. Pasalnya, pengusaha H. Saiful (Ipung), kakak kandung Alif, selama ini dikenal sebagai pendukung Sambari. Nah, siapa yang bakal di-endorse Bupati Sambari? Ini yang menjadi tanda tanya. Di sisi lain, sempat muncul isu Sambari bakal ikut Pilkada lagi, namun posisinya jadi calon wakil bupati (cawabup).
----------

Informasi yang dihimpunSurabaya Pagi dari berbagai sumber di kalangan parpol, Rabu (27/11/2019), hingga saat ini posisi M. Qosim masih terkuat sebagai calon pengganti Sambari. Pilkda Gresik sendiri rencananya digelar 23 September 2020, bersamaan dengan Pilkada di 19 kabupaten/kota lainnya di Jatim. Selain Wabup, Qosim juga Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sedang partai pemenang pemilu legislatif 2019 adalah PKB. Raihan kursi PKB sudah melampaui batas minimal untuk mengusung pasangan kepala daerah padarunning Pilkada 2020. Syarat minimalnya 10 kursi, sementara PKB memiliki 13 kursi. Sehingga PKB menjadi satu-satunya partai politik pemilik kursi parlemen yang berhak mengusulkan pasangan cabup-cawabup. Sedang parpol lainnya kudu menggalang koalisi.

Menariknya, Qosim juga mendaftar sebagai bakal calon bupati (Bacabup) di Golkar, partai yang membesarkan Bupati Sambari. Bahkan, Qosim juga mengambil formulir pendaftaran Cabup di Partai Gerindra. Ini menjadi menarik, lantaran Gerindra diketuai Asluchul Alif. Sedang dokter yang juga politisi ini sudah menyatakan dirinya bakal maju sebagai cabup di Pilkada Gresik 2020.

Bahkan, tokoh muda yang juga aktivis berbagai organisasi kepemudaan ini sudah mendapat ’restu’ dari kiai-kiai berpengaruh dan pemimpin formal Gresik. Dia dikenal juga sangat dekat dengan Bupati Sambari Halim Radianto. Sedang Gerindra di Gresik meraih 8 kursi di parlemen, pemenang kedua pada pileg lalu. Minimal butuh satu parpol lagi untuk diajak koalisi di Pilkada nanti.

Lantas mengapa Qosim yang secara legalitas dapat langsung diusung PKB tapi masih mendaftar lewat parpol lain? “Ada dua kemungkinan yang bisa dibaca. Pertama, Qosim ingin membangun koalisi besar dengan parpol peraih kursi di parlemen. Tentu dengan koalisi besar jalan menuju G1 (Bupati Gresik) akan lebih mudah dia raih ketimbang hanya mengandalkan dukungan PKB saja,” ungkap sumber di Dewan.

Kemungkinan kedua mencari ’jalan aman’ bila DPP PKB tidak memberikan rekomendasi kepada M. Qosim untuk maju Pilbup Gresik 2020. “Meski tidak ada yang meragukan popularitas Qosim sebagai tokoh yang digadang-gadang bakal meneruskan kepemimpinan Gresik lima tahun ke depan, namun modal ini tak berarti apa-apa jika rekom dari Cak Imin (Ketum PKB) tidak diberikan (kepada M. Qosim),” lanjut politisi yang meminta namanya tak dipublikasikan.

Sambari Membantah
Sementara itu, Bupati Sambari Halim Radianto tampaknya ‘main aman’ menghadapi Pilkada Gresik 2020. Ia mengatakan dirinya akan bersikap netral. Selain itu, Sambari juga menyatakan dirinya tidak akan mencalonkan menjadi Wakil Bupati Gresik atau turun jabatan.

Pernyataan Bupati ini terkait penyebutan oleh Ketua KPU Gresik Akhmad Roni yang memaparkan tentang pencalonan Bupati dan Wakil Bupati Gresik, katanya calon diajukan oleh partai politik/gabungan partai politik, perseorangan, dan tidak boleh “turun jabatan”. Bagi ASN, DPR/DPRD, BUMN/D, TNI/Polri, serta Kepala Daerah Lain maka harus mengundurkan diri terlebih dahulu.

“Meskipun diperkenankan sekalipun, saya tidak akan mencalonkan diri menjadi Cawabup atau turun jabatan,” tegas Sambari saat memimpin rapat Forkopimda Gresik di Ruang Graita Eka Praja, Rabu (27/11/2019).

Memang selama ini muncul desas desus bahwa ada kemungkinan Bupati Sambari yang masa jabatannya berakhir pada 17 Februari 2021 akan mencalonkan menjadi Cawabup Gresik untuk Pemilukada mendatang. Untuk diketahui, Sambari Halim menjadi Bupati Gresik dua periode (10 tahun) bersama wakilnya, M. Qosim. Sebelumnya, Sambari menjadi wabup (5 tahun). Ini berarti Sambari memimpin Gresik selama 15 tahun.

Pada Pemilukada 2020, Ketua KPU Gresik Akhmad Roni telah mengajukan anggaran sebesar Rp 74 miliar. Dari jumlah itu, Roni mengaku 71,4% dialokasikan untuk honor termasuk honor ad hoc dan 28,6% untuk kebutuhan barang dan jasa. “Pemilukada kali ini menggunakan sistem pemilihan satu putaran, jadi tidak ada putaran kedua. Calon yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai pemenang, tanpa adanya batasan minimal. Pasangan calon tunggal dinyatakan sebagai pemenang,apabila memperoleh 50 % suara atau lebih,” jelasnya.

Prediksi Akademisi
Pilkada Gresik 2020 yang masih dinamis rupanya mendapat perhatian kalangan akademisi. Hari Fitrianto, pakar politik Universitas Airlangga (Unair), misalnya. Ia menyebut Wabub M. Qosim paling berpotensi menjadi pengganti Sambari. “Untuk siapa yang terkuat, menurut saya secara perolehan suara pasti Wabub (M Qosim), karena beliau punya waktu untuk sosialiasi. Beliau juga berlatar belakang NU yang masih kental di Gresik,” kata Hari ditemui di kampus Unair, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, ada dr. Alif yang digadang-gadang menjadi suksesor Sambari. Kemudian figur muda berlatar belakang NU, yakni Ahmad Nurhamim yang kini duduk sebagai anggota DPRD Gresik. “Peluang Alif karena kedekatan dengan Sambari, ada. Namun belum bisa diprediksi. Tetapi mungkin Wabup (M. Qosim) masih diunggulkan ya,” papar dosen Fisip Unair ini.

“Siapa yang akan di-endorse Bupati Sambari, saya belum melihat. Tapi Gresik itu kan masih kental dengan apa kata kyai. Mungkin statment dari para kyai bisa berdampak pada perolehan suara. Yang jelas Bupati Sambari tentunya ingin warisan yang ia bangun dilanjutkan. Tetapi jangan sampai ada pemimpin yang maju dari kritik-kritik yang ada,” lanjut Hari.

Pengaruh Bupati
Agus Machfud Fauzi, pakar sosiologi politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), punya pandangan hampir sama. Hanya saja, menurutnya, tokoh-tokoh yang sudah muncul dan siap bertarung di Pilkada Gresik 2020, harus diuji. “Bagaimana nanti figur yang diangkat harus menjadi representasi seluruh masyarakat Gresik dan mampu menawarkan visi misi yang membangun Gresik lebih baik. Lebih maju dari kota-kota di daerah pantura lainnya,” terang Agus dihubungi terpisah, kemarin.

Apa ini berarti pemerintahan di bawah Bupati Gresik ada kelemahan? Menurut Agus, selama Sambari memimpin Gresik dua periode belum ada yang luar biasa. “Pembangunan Gresik belum luar biasa selama dipimpin Pak Sambari. Kedua, Gresik ini kan kota tambak. Harus diingat bahwa semakin lama tambak ini semakin habis. Maka nantinya calon bupati yang akan jadi tidak boleh meninggalkan sektor perikanan dan harus mempunyai inovasi ke arah modernisasi untuk meningkatkan produktivitas perikanan itu tadi. Ketiga sebagai kota urban, Gresik harus menjanjikan karena kita tahu banyak sekali pendatang yang akhirnya tinggal di Gresik. Maka dari itu gresik harus berbenah untuk bisa memberikan kenyamanan bagi siapapun masyarakat pendatang,” beber Agus.

Mengenai siapa cabup yang didukung Bupati Sambari, Agus melihat endorse bupati tak signifikan. “Kehadiran pak Sambari bukan jadi penentu, sebab pengaruh bupati sekarang ini tidak signifikan. Tidak ada proses monumental selama pak Sambari menjabat bupati yang akhirnya bisa mendobrak suara calon yang dekat dengan pak Sambari. Berbeda dengan Surabaya, Bu Risma (Walikota Surabaya Tri Rismaharini, red) punya proses monumental itu, sehingga siapapun yang dekat dengan Bu Risma akan ikut terdorong dan dikenal masyarakat,” pungkasnya.