Rupiah Melanjutkan Penguatan Lagi

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Menurunnya inflasi Amerika Serikat (AS) di luar prediksi mendorong rupiah untuk bangkit dari keterpurukan. Jumat (12/10), di pasar spot rupiah mencapai level Rp 15.197 per dollar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,25%.
Tidak berbeda jauh, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan penguatan 0,39% pada Rp 15.194 per dollar AS. Secara tahunan inflasi AS tercatat 2,3% per September 2018, melambat dibandingkan sebelumnya sebesar 2,7% di bulan Agustus 2018.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) mengatakan bahwa potensi besar kenaikan suku bunga Fed Fund Rate di akhir kuartal IV juga masih mempengaruhi pergerakan rupiah pekan ini. “Ada pernyataan dari The Fed yang masih meyakinkan pasar bahwa mereka akan menaikkan suku bunga secara bertahap,” kata David.
Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 2%-2,25%. Federal Reserve telah menaikkan suku bunga tiga kali tahun ini. The Fed diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini (total empat kali), tiga kali pada 2019 dan satu kali pada 2020.

Menurut Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, adanya beberapa deal yang dihasilkan dalam pertemuan International Monetary Fund (IMF) seperti adanya deal investasi dari luar Indonesia memberikan tenaga kepada mata uang Garuda. “Rupiah masih bisa menguat lagi. Masih menunggu hasil lain dari pertemuan dengan IMF, kita lihat bagaimana reaksi pasar,” kata Lukman.
Namun ia juga tidak memungkiri kemungkinan penguatan rupiah di pekan ini akan bersaing dengan dollar yang memiliki potensi yang sama. Indeks dollar berada di zona hijau 95,22 hingga akhir pekan ini.

Untuk Senin (15/10), David memprediksi rupiah akan menguat di level Rp 15.170-Rp 15.230 per dollar AS. Menurut David, rupiah akan ditentukan oleh data jumlah uang beredar juga data perdagangan dalam pekan ini.
Sedangkan Lukman memproyeksikan rupiah dalam rentang Rp 15.150-Rp 15.220 per dollar AS. “Potensi menguat tidak banyak, lebih condong rupiah bisa bertahan,” lanjut Lukman.