•   Selasa, 7 April 2020
PERISTIWA

Rumah Sakit Muhammadiyah Takut Collapse

( words)
Dr. Slamet Budiarto, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Muhammadiyah. (SP/MAR'ATUS)


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Rumah Sakit Muhamadiyah serius bekerjasama dengan BPJS dalam bidang Kesehatan. Keseriusan kerjasama keduanya, dibuktikan dengan jumlah Rumah Sakit Muhammadiyah yang sudah menandatangani perjanjian dengan BPJS mencapai 102 dari jumlah 107 rumah sakit Muhammadiyah di Indonesia. Terdapat 5 Rumah Sakit Muhammadiyah yang masih belum bekerjasama dengan BPJS diantaranya berada di Jakarta Selatan.
Dr. Slamet Budiarto, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Muhammadiyah mengatakan Rumah Sakit Muhammadiyah tetap melayani pasien BPJS sesuai dengan kaidah masing-masing. BPJS tetap menunjuk provider kepada klinik yang dituju. Ketika Klinik menuju ke Rumah Sakit Muhammadiyah akan mencarikan solusi.

"Dikatakan Fahdmi, Dirut BPJS Kesehatan Pusat memiliki kendalan pada pembiayaan. Sehingga pembayaran ke Rumah Sakit mengalami keterlambatan kepada Rumah Sakit Muhammadiyah," ungkapnya di Hotel Santika, Rabu (05/03/2018).

Dr. Slamet, mengungkapkan perlu adanya saling energi antara BPJS dan Rumah Sakit Muhammadiyah agar tidak ada yang dirugikan. Oleh karena itu, Arsamu mencoba memberikan alternatif kepada BPJS untuk mengatasi permasalahan yaitu dengan menerima pasien cukup di kelas 3.

"Kami memberikan solusi kepada BPJS agar pasien pada kelas 3 saja. Karena harga selisih antara kelas 2 dan 3 mencapai 20 persen hingga 30 persen. Selisihnya sangat besar," jelas Ketua Arsamu.

Dr. Slamet mengharapkan, agar BPJS tidak terlambat dalam membayar biaya rumah sakit kepada Rumah Sakit Muhammadiyah.

"Batas pembayaran pada Rumah Sakit hingga dua sampai tiga bulan. Lebih dari itu, Rumah Sakit kita takutnya akan collapse," pungkasnya.tus

Berita Populer