•   Senin, 30 Maret 2020
Hukum & Pengadilan

Ronny Suwono, Pendeta yang Berbisnis, Kini Tersangka

( words)
Catatan Hukum oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Laporan Investigative Reporting Dugaan TPPU 22 Perusahaan dalam Naungan Sipoa (24)

"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
(Timotius 6:10)


Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,
Jujur, saya bukan seorang pendeta, penginjil atau hamba Tuhan. jemaat Kristen. Saya seorang muslim yang setiap hari bergaul juga dengan teman-teman yang beragama nasrani.
Disamping itu saya yang pembelajar, suka membandingkan isi surat-surat dalam Al Qur’an dengan firman firman yang ada dalam Injil.
Maka, pengamatan saya tentang keterkaitan Ronny Suwono, pendeta asal Pare Kediri yang ikut berbisnis dengan bos-bos Sipoa, perlu saya laporkan ke Anda, sebagai pimpinan Polri tingkat nasional dan provinsi Jawa Timur.
Bagi saya keberadaan Ronny Suwono, yang bermasalah dengan kastemer property dan pemilik tanah, merupakan peristiwa langkah.
Kejadian yang menimpa Ronny Suwono, bila ia pria biasa, bukan berita. Tetapi ia adalah pendeta yang menurut pengakuannya sampai sekarang masih berkhotbah keliling dari Pare sampai Kediri.
Apa yang dialami oleh Pendeta Ronny, tak jauh dari adagium klasik di dunia jurnalistik: bad news is good news. Kabar buruk adalah berita yang bagus.
Nah, adagium itu tercermin juga hampir di lanskap pemberitaan di berbagai media massa. Benarkah kesan yang menyolokseperti kejadian yang dialami Ronny Suwono, merupakankejadian-kejadian yang mencemaskan?.
Peristiwa yang dialami Ronny Suwono, pendeta berbisnis dan kemudian menjadi tersangka dalam kasus dugaan penipuan, ada sisik uniknya. Tak jauh dengan peristiwa Korupsi, kisruh politik, serangan teroris, banjir, kelaparan, dan lainnya. Artinya, bila adapers yang memberitakan kabar baik, sering diberi porsi yang kecil. Bahkan era digital seperti sekarang, hampir jarang sekali ada media yang menempatkannya di halaman depan.
Menurut Seán Dagan Wood, pemimpin redaksi The Positive News, yang juga dikutip The Guardian di artikel yang sama: “Fokus industri [berita] pada berita buruk biasanya bertujuan baik, yang berangkat dari komitmen utama sebagai kontrol sosial (society’s watchdog),” kata Seán Dagan Wood.

Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,
Laporan saya ini dari perspektif seorang muslim yang seringberdialog dengan Roni Suwono, selama 12 bulan. Ronny Suwono, bahkan dua kali berkunjung ke rumah saya, mengajak sarapan bareng.
Saking akrabnya, saya bahkan dikenalkan dengan anak-anaknya yang baru pulang dari Australia. Mereka disuruh pulang khusus agar ikut kelola bisnis yang didirikan Budi Santoso, dalam imperium Sipoa grup.
Sejak sebelum kastemer RAW melapor ke Polda Jatim, saya sudah menasihati semua bos-bos Sipoa, agar membayar kewajibannya pada kastemer yang umumnya orang kecil. Roni, menjawab tak bisa melaksanakan, karena urusan uang di Sipoa, adalah wewenang Budi Santoso.
Saya bertanya ‘’kan Anda susuk (pamannya)?’’ Ronnymenjawab ‘’kok kayak gak tahu Sipoa saja Pak Tatang.’’
Saya suatu saat berkomunikasi dengan Sutoto Yacobus, besannya, tentang stasus Ronny yang sudah menjadi tersangka. Pria yang kelola Ciputra Surabaya itu menjawab ”dia terlalu lugu“.
Dalam kasus menghadapi kastemer RAW, yang emosional pada tanggal 5 Februari 2018, saya sempat menawarkan agar Ronnyyang berpengalaman menjadi Pendeta, menyiapkan diri menjadi mediator dengan kastemer.
Saya juga heran, pada puncak kemarahan kastemer siang itu, Budi Santoso yang juga aktivis gereja, tidak muncul memberi pertanggungjawaban pada kastemer yang telah menyetor uang ke Sipoa Rp 166 miliar. Termasuk Ronny Suwono, pendeta yang sering berkhotbah di beberapa gereja di Surabaya.
Siang itu saya bilang pada seorang direksi sebuah perseroan di Sipoa, Budi dan Ronny, sepertinya bukan pria yang satria, tidak gentlemen dan tak punya hati nurani. Justru yang tampil berkomunikasi intensif adalah Klemens Sukarno Candra. Sementara Aris, lebih suka dengan permainan HPnya.

Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,
Adanya peristiwa ini, saya bertanya dalam hati, apakah firman Tuhan membolehkan menggunakan uang rakyat, apalagi orang awam. Apakah Budi dan Ronny tidak memikirkan menggunakan uang masyarakat itu haram dan tidak halal?.
Saya sampai bertanya kepada karyawan Sipoa, yang beragama Katolik, apakah hal yang demikian diperintahkan Tuhan?.Karyawati ini menjawab ringkas, tidak!
Teman saya yang pernah menyelesaikan sekolah Tinggi Teologi di Yogyakarta mengatakan memang Alkitab sama sekali tidak melarang seorang pendeta melakukan bisnis. Asalkan dilakukan dengan benar dan tidak berpartner dengan orang-orang yang tidak percaya. Ini terdapat dalam firman 2 Korintus 6:14.
Kata teman saya, Firman ini diakui untuk mengingatkan orang-orang yang tidak percaya jangan menggunakan perusahaan tersebut untuk hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan demi menghasilkan uang yang banyak.

Teman saya yang kini tinggal di Jakarta, bertanya beranikah kita prediksi secara pasti bahwa seorang pendeta yang berbisnis itu tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan firman Tuhan?
Apalagi dalam bisnis sudah jamak terjadi persaingan ? Bagaimana kalau pengusaha lain hendak menjatuhkan perusahaan si pendeta? Bukankah pada waktu itu juga akan terpikir berbagai strategi selain berusaha bertahan, juga secara manusia cenderung menjatuhkan pihak lawan. Benarkah kalau pendeta yang berbisnis tidak mencari keuntungan yang banyak?
Dalam pikiran dan pengetahuannya, seorang pendeta yang telah mengaku terpanggil secara penuh waktu melayani Tuhan sejak dahulu sudah diajarkan "konsep tabu" berbisnis.
Mengingat, disamping melakukan pelayanan, seorang pendeta juga berbisnis. Hal ini dianggap sebagai pilihan mendua. Terutama, bisnis yang mengeruk keuntungan. Sipoa, adalah perusahaan yang tampaknya ingin mengeruk keuntungan besar dengan mengorbankan ribuan kastemer.

Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,
Dalam diskusi di Starbucks Mall Ciputra World, dua pekan lalu, saya dan teman tadi, sama-sama mengakui bahwa pendeta, sama dengan kyai dan ustadz yaitu seorang manusia biasa. Identitas sebagai manusia biasa adalah mempunyai kebutuhan-kebutuhan keluarga, dapur dan lain-lainnya. Kebutuhan ini tidak akan terjadi secara ajaib. Semua itu perlu dibeli, dan hal ini memerlukan uang.
Teman saya ini lupa ayat firmannya, tetapi menyatakan : "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia."
Mendengar kutipan firmannya, saya tertegun, membayangkan wajah Pdt Roni Suwono dan bertanya, apakah Roni juga pernah membaca firman itu? Teman saya menjawil saya, apa yang kau pikirkan? Saya tersenyum menyeruput kopi dari gelas dari karton.
Suatu hari, teman saya mengirim email tentang survei yang dilakukan oleh Deborah A. Bruce, Research Services di Presbyterian Church (U.S.A.), Louisville, Kentucky. Survei ini memberi informasi bahwa 53% bi-vocational pastors mencari profesi sambilan, karena mereka ingin mengejar kesempatan karier lain. Dan 48% mengatakan mereka menyukai ide tentmaking atau bi-vocational ministry.
Teman saya bilang bahwa tentmaking ministry bukan lagi suatu panggilan, tetapi suatu hobi. Sedangkan bagi mereka yang sungguh-sungguh terpanggil, itu tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan kelak.
Teman yang kini juga menjadi pendeta di gereja kecil di Jakarta bertanya kepada saya, sekarang kalau seorang pendeta mau berbisnis uangnya untuk siapa? Saya tertawa dan bertanya kembali padanya, untuk siapa ya uang hasil dari bisnisnya, istri, anak, atau cucu atau untuk investasi di luar negeri?.
Halo Pak Ronny Suwono, kalau ada keuntungan dari Sipoa dan PT KJS selama ini, uangnya untuk siapa saja dan apa saja? Apakah setelah diproses sidang di Pengadilan Negeri Surabaya nanti, Pak Roni, masih meneruskan bisnis property Sipoa? Mari kita tunggu. Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,
(tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer