Reuni Alumni 212 Dinilai Kapitalisasi Agama untuk Kepentingan Politik

SURABAYA PAGI, Jakarta - Awal Desember nanti reuni alumni 212 akan kembali digelar. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, juga telah mengizinkan penggunaan Monas untuk agenda ini.
Pengamat politik Ray Rangkuti menilai acara alumni 212 ini bukan kegiatan keagamaan melainkan bertujuan politis. Ray pun heran kegiatan demonstrasi yang menyeret mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke penjara itu masih tetap ada padahal tujuannya memenjarakan Ahok telah terpenuhi.
"Itu sudah jelas politik, enggak ada hubungannya lagi dengan agama, enggak ada hubungannya dengan dakwah, apa yang mereka tuntut sudah dipenjara kok. Apalagi gunanya, itu politik murni politik, murni untuk kepentingan politik. Enggak ada hubungannya dengan dakwah. Saya pikir mereka hanya mau mengkapitalisasi agama ini. Mengkapitalisasi agama terus menerus untuk kepentingan politik. Enggak ada hubungannya dengan dakwah," kata Ray kepada wartawan, Rabu (21/11).
Ray mengaku tak mengerti tujuan reuni alumni 212 digelar. Menurutnya demonstrasi besar yang melengserkan Soeharto pada 1998 pun tak ada acara reuni atau perkumpulan alumninya karena tujuannya melengserkan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa telah tercapai.
"Yang saya juga enggak mengerti tujuannya, masak demonstrasi pakai alumni, alumni pakai reuni. Ada-ada saja. Yang besar sekali pun perjuangan 98 itu ya berhenti di 98. Waktu jatuh ya jatuh. Bahwa anggotanya membentuk kelompok-kelompok tertentu ya silakan saja. Enggak ada reuni 98 yang jatuhin Soeharto, enggak ada," ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani ini.
Dia mengatakan, menjelang Pemilu 2019, di mana suhu politik akan cenderung memanas, seharusnya para tokoh agama yang tergabung dalam alumni 212 ini menyampaikan dakwah yang membuat suasana tenang dan sejuk.
Apalagi, lanjut dia, saat ini kedua kubu pasangan capres-cawapres kerap saling serang dengan hal-hal yang tidak substantif.
"Dakwah itu ya mestinya dalam situasi seperti ini kita buat lebih tenang karena kita sudah mengerti suasananya sudah mulai agak tegang lagi kan. Kedua belah pihak itu tadi kan terpancing untuk lebih menyukai politik nyinyir, kampanye nyinyir dibanding kampanye otak," ujar dia.
Menurutnya, tak masalah digelar pertemuan 212, asalkan jangan dihubungkan dengan agama. Padahal jelas itu kaitannya dengan politik. Dia pun tak mempersoalkan jika capres Prabowo Subianto menghadiri acara yang rencananya digelar 2 Desember mendatang. Jk