•   Kamis, 2 April 2020
Ekonomi Global

Respon Terhadap Biodiesel, RI akan Lakukan Hal Serupa

( words)
SP/KMPrn


SURABAYAPAGI.com – Kebijakan Uni Eropa untuk meningkatkan bea masuk atas biodiesel dari Indonesia mendapatkan respon keras dari Pemerintah Indonesia. Indonesia berencana meningkatkan bea masuk untuk produk olahan susu asal Uni Eropa sebesar 20-25%

Langkah ini sebagai respon terhadap kebijakan Uni Eropa merugikan produk biodiesel Indonesia. Enggartiasto mengatakan, jika Uni Eropa tetap menetapkan bea masuk terhadap biodiesel sebesar 8-18%, maka ia menyarankan para importir produk susu olahan dari Eropa memasok dari negara selain Eropa.

"Kemudian mereka kan terapkan tarif 8-18%, saya fair pada mereka kita juga akan terapkan tarif yang sama pada saatnya. Jadi (para importir produk susu olahan) cari saja sumber baru. Seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat," tegas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dilansir dari DetikFinance, jumat (9/8).

Menurut pria yang akrab disapa Enggar itu apabila Uni Eropa tak mengambil keputusan yang adil, RI pun akan bertindak.

"Saya berikan message (pesan) yang kuat. Saya juga sudah ketemu menteri Eropa bahwa Anda silakan kenakan sesuatu sejauh parameternya fair (adil). Kalo tidak fair ya Anda memulai proteksionisme dan tradewar. Dan kita tidak mungkin diam," tegas Enggar.

Sebagai informasi, awalnya, Badan Biodiesel Eropa (European Biodiesel Board) mengeluhkan persoalan ekspor biodiesel antisubsidi dari Indonesia. Maka dari itu, sejak September 2018 Komisi Eropa melakukan penyelidikan anti-subsidi.

Dari hasil penyelidikan tersebut, otoritas Uni Eropa mengklaim bukti atas pemberian bantuan subsidi dari pemerintah berupa insentif pajak besar-besaran terhadap ekspor CPO dan juga turunannya yang melanggar aturan WTO. Pemberian subsidi tersebut juga dianggap mempengaruhi harga biodiesel Indonesia.

Empat eksportir biodiesel asal Indonesia yang akan dikenakan bea masuk yaitu Ciliandra Perkasa dengan bea masuk 8%, Wilmar Group 15,7%, Musim Mas Group 16,3%, dan Permata Group 18%.

Berita Populer