Resesi Global, Dampak Mendidihnya Perang Dagang

SURABAYAPAGI.com - Aksi serang balas yang dilakukan oleh dua Negara ekonomi terbesar diprediksi dapat sebabkan resesi global. Seperti yang diperkirakan oleh lembaga internasional Moody’s Analytics pihaknya mengatakan bahwa peluang terjadinyaresesi ekonomi global meningkat untuk setahun hingga 1,5 tahun ke depan. Hal itu dipicu olehperang dagangantaraChina dan Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, suatu perekonomian disebut mengalami resesi jika pertumbuhannya mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

"Eskalasi perang dagang telah melampaui ekspektasi dan taruhannya tinggi untuk perekonomian global. Peluang terjadinya resesi global untuk 12 hingga 18 bulan ke depan meningkat dari 40 persen hingga 50 persen," ujar Kepala Ekonom Moody’s Analytics untuk Asia Pasifik Steve Cochrane dalam risetnya yang berjudul ’Living on the Tail Risk’.

Dengan demikian para ekonom berharap agar The Fed dapat menunurkan suku bunga sebanyak 2 kali pada bulan September dan pada tahun depan.

Tak hanya itu, salah satu bank investasi AS, Glodman Sachs Group Inc. juga mengalami kekhawatiran akan resesi tersebut. Pihaknya tak lagi mengaharapkan hasil negosiasi yang terjadi pada negosiasi yang akan datang akibat ancaman tariff baru yang resmi berlaku 1 September mendatang.

"Kekhawatiran bahwa perang perdagangan akan memicu resesi sedang tumbuh, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak pertumbuhan perang perdagangan," kata ekonom Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penetapan tarif baru tidak terduga 2 pekan lalu terhadap impor China, Beijing memberikan respons pada 5 Agustus dengan menghentikan pembelian produk pertanian AS dan membiarkan yuan melemah.

Tak tinggal diam, dalam hitungan jam administrasi Trump secara resmi melabeli China sebagai manipulator mata uang.

Lawrence Summers, mantan menteri keuangan AS dan penasihat ekonomi Gedung Putih, pekan lalu mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan perdagangan mendorong ekonomi dunia menuju resesi pertama dalam 1 dekade terakhir, di mana para investor menuntut politisi dan bankir sentral bertindak cepat untuk mengubah arah pertumbuhan ekonomi.

"Di AS saja, risiko resesi jauh lebih tinggi dari yang seharusnya dan jauh lebih tinggi daripada 2 bulan lalu," katanya.

Goldman Sachs menyatakan pihaknya menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen. Perkiraan itu didasarkan pada dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan perang dagang.

"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak pertumbuhan perang dagang," kata bank itu dalam catatan yang ditulis oleh tiga ekonomnya, Jan Hatzius, Alec Phillips dan David Mericle.

Kenaikan biaya akibat gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka, menurut catatan itu. Ketidakpastian kebijakan juga dapat membuat perusahaan menurunkan belanja modal mereka, ujar para ekonom menambahkan.