Relawan Gajah Mada

Tercatat. Di tahun 1319 Ra Kuti melakukan pemberontakan pada Raja Ke-2 Majapahit, Shri Jayanegara. Dengan dukungan penuh Dharmaputra Winehsuka (Ra Banyak, Ra Wedeng, Ra Tanca, Ra Pangsa, Ra Yuyu) dan ditengah kekacauan faksi politik pendukung Jayanegara, hampir saja Ra Kuti berhasil menguasai istana dan merebut tahta. Ya ya ya. Nyaris saja, andai dalam kondisi kacau itu tidak muncul Bekel Bhayangkari bernama Gajah Mada, yang membentuk, mengkonsolidasi dan memobilisasi relawan dengan taktis dan strategis untuk menumpas pemberontakan Ra Kuti dan mengembalikan Jayanegara ke tahtanya.
Ya ya ya. Relawan-lah yang sesungguhnya berhasil menghadang pemberontakan dahsyat Ra Kuti dan bukannya kekuatan-kekuatan politik utama penyokong tahta Jayanegara. Di masa pemerintahan Jayanegara (1309-1328) konstelasi politik Majapahit penuh dengan friksi terselubung berbagai kekuatan politik. Ada faksi Jayanegara, Dyah Gitarja, Dyah Wiyat, Halayudha, Arya Tadah Mpu Krewes. Akibatnya berbagai kesatuan tempur pun terbelah dalam berbagai faksi dan kepentingan. Ada faksi Dharmaputra Winehsuka, Jala Pati, Jala Yudha, Jala Rananggana, Jala Mayangkara, Bhayangkari dan sebagainya. Silang sengkarut dalam suasana saling waspada, saling tidak percaya dan saling mengintip kelemahan kompetitor dan peluang diri.
Maka, pemberontakan Ra Kuti relatif hampir tidak mendapatkan perlawanan karena semua faksi dan kekuatan politik saling menunggu penuh curiga. Pasukan Jala Rananggana bahkan berkoalisi dengan Ra Kuti dan Dharmaputra Winehsuka, saat menduduki istana. Sementara pasukan Jala Pati hanya berdiam diri melihat dari jauh dengan alasan netral dan Jala Yudha tak tahu harus mengikuti perintah dan komando siapa. Bahkan Pasukan Bhayangkari, satuan khusus pengamanan Raja pun terbelah juga. Pada situasi inilah Bekel Bhayangkari bernama Gajah Mada dengan dukungan beberapa Bhayangkari yang loyal mengambil tindakan cepat, taktis dan strategis. Mengungsikan Raja Jayanegara keluar istana, melakukan perjalanan jauh ke Barat Laut, ke pegunungan kapur di Kendeng, ke Desa Bedander.
Dalam perjalanan pengungsian itu Gajah Mada bukan hanya sekedar menghindari kejaran pasukan Ra Kuti, demi memastikan keselamatan Jayanegara. Tapi dalam tiap persinggahan selalu berusaha menemui tokoh setempat, membangun tim relawan dan memastikan pada waktunya siap digerakkan untuk menumpas pemberontakan Ra Kuti dan mengembalikan Jayanegara ke tahtanya. Maka, dari desa ke desa, pedukuhan ke pedukuhan, kademangan ke kademangan, pardikan ke pardikan, bagai bola salju perjalanan pengungsian Jayanegara sesungguhnya adalah perjalanan pembentukan tim relawan pemenangan. Tak terhitung sudah jaringan relawan yang terbentuk dan dibentuk oleh Gajah Mada dan tokoh setempat, hingga Gajah Mada berhasil mengantar dan memastikan keamanan Jayanegara di desa Bedander.
Selanjutnya Gajah Mada melakukan perjalan balik ke Ibu Kota. Seperti perjalanan pengungsiannya, perjalanan balik Gajah Mada pun sesungguhnya adalah perjalanan pembentukan pasukan relawan dari satu tempat ke tempat berikutnya yang disinggahi. Pada waktu bersamaan dengan bantuan pasukan sandi dalam kesatuan Bhayangkari yang masih loyal, Gajah Mada mulai menghubungi berbagai tokoh dan kekuatan penting yang ada di istana. Satu persatu tokoh penting dalam tiap kesatuan tempur dan faksi politik dihubungi secara rahasia, diyakinkan dan dimintai dukungan pada saat hari H yang telah ditentukan. Propaganda pada rakyat Ibu Kota pun tak luput dilakukan untuk mendapat dukungan logistik dan momentum saat seluruh kekuatan relawan, kekuatan tempur dan kekuatan faksi politik siap digerakkan bersama-sama.
Maka tibalah waktunya. Seluruh kekuatan relawan bergerak ke istana yang telah dikuasai oleh Ra Kuti. Dengan bantuan tokoh-tokoh penting dalam tiap kesatuan tempur dan faksi politik, dan dengan bantuan momentum dan logistik dari rakyat Ibu Kota, maka kolaborasi kekuatan yang dibangun oleh Gajah Mada ini dengan waktu yang cepat dan singkat berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti. Semua Dharmaputra Winehsuka tewas, kecuali Ra Tanca. Istana direbut kembali dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jayanegara pun kembali dengan aman dari tanah pengungsian di Bedander, menduduki tahta semula dengan lebih waspada.
Ya ya ya. Maka wajar dan lazim adanya, jika dalam setiap pergelaran Pilkada -termasuk Pilgub Jatim 2018- keberadaan para relawan menjadi sangat perlu dan penting bagi para kandidat. Bahkan dalam gelaran Pilgub Jatim kali ini geliat dan wacana dukungan relawan dari tiap daerah dan komunitas jauh lebih terasa dan menonjol daripada geliat pasukan tempur parpol yang mungkin saja masih terjebak deadlock saling menunggu dan curiga. Baik Gus Ipul - Puti maupun Khofifah - Emil tak henti dari satu tempat ke tempat lain, dari satu waktu ke waktu lain turun menyapa para relawan yang telah dipersiapkan oleh tokoh-tokoh setempat. Berita konsolidasi para kandidat dengan relawan jauh lebih terasa berbanding berita konsolidasi para kandidat dengan para partai pengusungnya.
Ya ya. Sebagaimana Jayanegara, mengharapkan kemenangan hanya dari gerak mesin politik partai pendukung bisa-bisa malah jadi petaka kekalahan. Dalam konteks koalisi partai pengusung yang tidak lagi dilandasi oleh kesamaan platform dan ideologi -melainkan lebih dilandasi oleh kepentingan praktis dan pragmatis- mengharap gerak mesin politik partai secara penuh dan maksimal adalah utopia. Dalam konteks Pilgub Jatim jelas tiap parpol memiliki kepentingan yang berbeda terkait Pileg dan Pilpres 2019. Lebih dari itu bukankah selalu ada faksi partai politik (kekuatan tempur) dalam setiap koalisi partai pendukung paslon. Selalu dan lazim dalam setiap kekuatan politik ada faksi tokoh-tokoh. Wajar pula ada faksi politik yang dibawa oleh setiap pendulum politik seorang kandidat atau paslon.
Berbagai perbedaan faksional tersebutlah yang acapkali membuat tim sukses paslon terjebak dalam suasana politik yang deadlock. Saling menunggu, saling curiga dan saling mengintip. Langkah-langkah pemenangannya menjadi tidak cepat, taktis dan strategis. Maka ketika musuh telah mempersiapkan dan mempertimbangkan semuanya dengan cermat sebagaimana yang dilakukan Ra Kuti, kekalahan ala terusirnya Jayanegara dari istana pun menjadi lumrah dijumpai. Di sinilah penting dan perlunya kekuatan alternatif yang tidak terjebak dalam lingkaran konflik faksional, yakni kekuatan relawan. Pembentukan, konsolidasi, koordinasi dan mobilisasi berbagai jenis dan level relawan melalui kerja sama dengan tokoh setempat seperti yang dilakukan oleh Gajah Mada adalah sebuah keniscayaan.
Di sisi lain, memastikan dukungan dari tokoh-tokoh penggerak di tiap kesatuan tempur (parpol) dan tiap faksi politik dan pendulum politik juga tetap harus dilakukan. Tanpa itu semua, kemenangan hanyalah sebuah utopia. Sebagaimana Jayanegara yang memiliki Gajah Mada, inilah hal utama yang diperlukan oleh setiap paslon. Jenderal yang bisa diterima oleh tiap kekuatan, yang mampu mengkonsolidasi dan memobilisasi tiap jenis relawan, kekuatan tempur, pasukan telik sandi dan para tokoh pendulum politik.
Ya ya ya. Relawan memang penting dan perlu. Sebagaimana penting dan perlunya mesin tiap partai politik. Sebagaimana penting dan perlunya tiap tokoh dan pendulum politik yang selalu saja ada dan hadir di sisi atau belakang tiap paslon dalam setiap gelaran Pilkada. Tapi tanpa Jenderal seperti Gajah Mada yang mampu mengaitkan tiap ujung tali simpul, menggerakkan pada waktunya yang tepat dan menciptakan momentum yang konstruktif, maka semua yang penting dan perlu tersebut bisa jadi justru menjadi penghalang utama kemenangan. Situasi deadlock sebagaimana yang dialami oleh Jayanegara, sehingga musuh (Ra Kuti) begitu cepat dan mudah mengalahkannya. Jadi, segera berburulah dan temukanlah Gajah Mada. Jika tidak.....waspadalah.....waspadalah....!! Ra Kuti sudah dekat.