•   Selasa, 31 Maret 2020
Internasional

Ramalan Terorisme di Tahun 2018, Indonesia?

( words)
Polisi Irak berjalan sambil berbicara dengan rekannya menggunakan radio saat bertempur melawan militan ISIS di barat Mosul, Irak, 16 Maret 2017.


SURABAYAPAGI.com, Singapura - Pada pengujung tahun 2017 lalu, baik pemerintah Irak dan Suriah telah memproklamasikan kemenangan mereka atas organisasi teroris ISIS di kawasan masing-masing.
Begitu juga Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang ikut mengumumkan kesuksesan negaranya dalam menumpas kelompok pemberontak Maute di Marawi -- yang terinspirasi oleh Daesh di Irak dan Suriah -- pada kuartal keempat tahun yang sama.
Kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina selatan pun juga melemah pada akhir tahun lalu. Mengingat salah satu pemimpinnya, Isnilon Hapilon dikabarkan tewas pada pertengahan Oktober 2017.
Maka wajar saja jika segala kabar di atas, membuat sebagian besar orang berspekulasi bahwa 2018 akan menjadi tahun yang bebas teror dan terorisme.
Jika Anda sebagai salah satu orang yang berspekulasi seperti itu, maka, perkiraan Anda tak tepat, setidaknya menurut 'ramalan' ilmiah dalam sebuah jurnal akademis terbaru yang dirilis pada Januari 2018.
Jurnal yang dipubliksikan oleh S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura itu memprediksi, terorisme akan tetap menjadi ancaman nyata dunia pada 2018.
"Ancaman terorisme global (pada 2018) telah ter-desentralisasi (tersebar), tak dapat diprediksi, sulit dideteksi, tangguh dan regeneratif," tulis Rohan Gunaratna, ketua tim penulisan jurnal yang berjudul 'Counter TerroristTrends and Analyses, January 2018', Rabu (3/1/2017).
Meski kalah, ISIS, organisasi teroris lain yang terinspirasi dan yang serupa diprediksi tak akan segera hilang dari permukaan Bumi pada tahun 2018 ini.
"(Mereka) akan ter-glokalisasi, memanfaatkan ... jihadis-jihadis lokal dengan agenda global," tulis Gunaratna.
Glokalisasi (leburan atau portmanteau dari dua kata, globalisasi dan lokalisasi) adalah istilah yang dipopulerkan oleh sosiolog Roland Robertson pada 1980-an untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk penyesuaian lokal terhadap situasi global. Atau sederhananya, 'yang lokal di global'.
Gunaratna kemudian membenturkan konsep glokalisasi dalam isu terorisme dunia. Menurutnya, meski ISIS telah melemah, kelompok-kelompok yang lebih kecil hingga individu di belahan dunia namun terkoneksi dalam jaringan yang sama, akan menjadi ancaman teror dunia pada tahun 2018 ini.
Sebut saja seperti ISIS di Maghreb (Afrika), ISIS di Filipina, Abu Sayyaf Group di Filipina, Jamaah Anshorut Daulah di Indonesia, ISIS di Mesir dan Sahara, dan lain sebagainya.
"Mereka yang berideologi radikal-jihadis di berbagai wilayah akan menggunakan terorisme yang low-end, menyerang target di darat, laut maupun udara, baik sipil, pejabat, juga militer," tulis pria yang menjabat sebagai Kepala International Centre for Political Violence and Terrorism Research itu.
"Kekuatan utama kelompok teroris itu menitikberatkan pada hubungan dengan grup yang terafiliasi dan satu jaringan, sel-sel, dan jihadis individual yang berdedikasi tinggi untuk bertempur dan mati demi (memperjuangkan agenda) ISIS," lanjutnya.
Seperti dikutip dari 'Counter Terrorist Trends and Analyses, January 2018', Gunaratna mempre
Warg bearswadiksi tiga pola yang akan menjadi penggambaran utama atas tren terorisme dunia pada tahun 2018. Pertama, ISIS -- yang semula memusatkan diri sebagai entitas pembentuk ke-khalifahan di Irak dan Suriah -- akan bertransformasi menjadi gerakan terorisme dunia.
"ISIS akan membentuk ulang citra mereka dan berusaha untuk mengekspansi secara global, baik dalam ruang fisik dan maya," tulis Gunaratna.
Kedua, Daesh dan kelompok teroris lain yang terinspirasi akan ter-desentralisasi dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dalam sebuah organisasi kewilayahan yang khas, namun memiliki identitas global yang serupa (ter-glokalisasi).
"Mereka akan terpecah ke Libya, Mesir, Yaman, Aljazair, Nigeria, Afghanistan, Pakistan, Rusia di Kaukasus, Filipina. Kondisi akan semakin diperparah ketika mereka melakukan persaingan dengan kelompok teroris lain yang telah lebih dulu ada di kawasan, seperti Al Qaeda dan yang terinspirasi ISIS," papar Hunaratna.
Terakhir, kekosongan ISIS di Suriah akan diisi oleh kelompok teroris lain, yakni Al Qaeda di Suriah (AQS) atau lebih dikenal dengan Jabhat Fateh Al Sham (JFS) dan koalisinya, Hay'at Tahrir Al Sham (HTS).
Seperti dikutip dari 'Counter Terrorist Trends and Analyses, January 2018', ancaman terorisme masih akan terjadi di Indonesia selepas kekalahan ISIS di Irak dan Suriah. Kelompok teror yang patut diwaspadai di Tanah Air pada tahun 2018 nanti adalah organisasi yang terinspirasi ISIS dan yang terinspirasi Al Qaeda.
Setidaknya ada tiga yang masuk dalam radar pantauan jurnal tersebut yakni, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dan -- yang telah cukup berusia -- Jamaah Islamiyah (JI).
Yang patut diwaspadai dari ketiga organisasi itu adalah kecenderungan mereka untuk selalu bergerak di bawah radar setiap saat, serta potensi melakukan serangan secara sporadis, individualis, dan tersebar di seluruh wilayah kepulauan utama di Tanah Air.
"Seperti menyerang pos polisi, menggunakan bom rakitan, penusukan, penembakan, baik di lokasi yang tergolong sepi hingga yang sangat ramai," tulis jurnal tersebut.
Terkait saran, jurnal yang dapat diakses secara daring itu juga menulis bahwa partisipasi besar pemerintah, terutama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi poin kunci dalam mengujung-tombaki penanganan isu teror di Tanah Air.
"Pemerintah harus terus menguatkan upaya de-radikalisasi, memantau seluruh aktivitas setiap organisasi agama bertendensi radikal-ekstremis yang pro-ISIS, peran BNPT yang besar, dan mengimplementasikan kebijakan antipropaganda radikal yang marak di Indonesia," tulis jurnal tersebut.

Berita Populer