Penghargaan Guangzhou Award yang Diterima Walikota

Rakyat Kecil Ingatkan Risma

Jemmi Purwodianto, Prila Sherly, Noviyanti Tri
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Penghargaan yang diterima Walikota Surabaya Tri Rismaharini di ajang Guangzhou International Award 2018, masih menjadi perdebatan publik. Ada yang menilai penghargaan itu bukanlah prestasi Tri Rismaharini, lantaran terpilihnya Surabaya sebagai kota terpopuler itu hasil mobilisasi suara yang diberikan masyarakat secara online. Sementara kebijakan Pemkot Surabaya yang dipimpinnya selama 8 tahun ini, belum dirasakan dampaknya ke masyarakat kecil. Justru mereka merasakan adanya disparitas atau kesenjangan sosial.
-----------
Seperti dirasakan warga di Surabaya Barat. Di tengah kehidupan warga di perumahan elit Citraland, masih ada warga yang kekurangan di sana. Padahal, mereka tinggal berdampingan di rumah berharga di atas Rp 1 miliar itu.
Menariknya, mereka juga tak tahu jika walikotanya baru saja mendapatkan penghargaan di Guangzhou, China, Jumat (7/12) lalu. Seperti dirasakan Sumarti, warga Jalan Kalijaran, Kelurahan Sambikerep. Di usianya yang ke 54 tahun, ia harus membuka warung kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah perumahan elit Citraland, ia hanya berharap pembeli dari kalangan anak-anak dan pengendara, meski jarang sekali mampir ke warung kecilnya.
“Yang beli ya anak-anak mas, pengendara jarang ada yang mampir. Kebanyakan orang milih ke kafe atau tempat yang bagus,” ucap Sumarti ditemui di warungnya, Senin (10/12/2018) kemarin.
Kepada Surabaya Pagi, Sumarti mengeluhkan kehidupannya di tengah-tengah perumahan elit. Sebab, sebelumnya Sumarti dan suaminya yang selama ini mencari nafkah dari pertanian, kini ia tak bisa lagi menanam di sawah. Sebab lahan pertaniannya sudah berdiri rumah-rumah mewah.
Dalam sehari, Sumarti hanya bisa mendapatkan uang dari penjualan warungnya sebesar Rp 15 ribu sampai Rp 50 ribu. “Kalau sepi ya kadang dapat Rp 10 ribu juga pernah, ya maklum ini kan di tengah perumahan gini, siapa yang mau beli,” tutur Sumarti.
Sulis, warga lainnya juga merasakan hal sama. Wanita ini hanya bisa berjualan es bungkus di depan rumahnya. Ini dilakukannya untuk menambah penghasilan sang suami.
Meski rumahnya tak jauh dengan Fresh Market, Sulis kesulitan untuk menyewa stan untuk berjualan sayur. Tarifnya dirasakan mahal, membuatnya hanya bisa berharap dari penghasilan suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan.
“Buat makan saja susah mas, apalagi buat kontrak stan. Setahun saja Rp 12 juta. Belum uang listrik dan kebersihannya tiap bulan yang sebesar Rp 500 ribu. Uang dari mana saya? Mungkin untuk warga Citraland gak masalah, karena mereka orang-orang kaya,” cerita Sulis.
Ditanya penghargaan yang diterima Walikota Tri Rismaharini, keduanya mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Keduanya justru berpendapat jika hal itu hanya orang-orang kaya yang mengetahui.
“Kalau itu malah gak tau sama sekali mas, yang tau pasti orang-orang kaya. Yang kami tau kami ini ndak pernah dapat bantuan apa pun dari Pemkot Surabaya, baik modal atau pun bantuan langsung,” cetus Sulis yang disetujui Sumarti.
Demi Taman, PKL Diusir
Kondisi serupa dirasakan sejumlah warga di Surabaya Utara. Seperti diungkap warga kampung Sedayu. “Saya sendiri merasa yang menjadi fokus Ibu Risma (Tri Rismaharini) saat ini adalah menata keindahan.
Di daerah Sedayu ini untuk keindahan memang semakin baik. Namun, tidak ada perubahan untuk aspek-aspek lainnya,” ujar Wana, salah seorang pramuniaga di warung bakso daerah Sedayu, Surabaya, kemarin (10/12).
Usaha memperbaiki keindahan di kawasan Sedayu terlihat ketika melintasi depan makam. Kini, daerah dekat terminal tersebut mulai ditanam berbagai pepohonan. Meski begitu, penataan penghijauan itu tak berdampak pada ekonomi warga.
Ridhoin, salah satu sopir angkutan umum yang mangkal di terminal mengaku kurang mengerti terhadap penerimaan penghargaan Surabaya di ajang Guangzhou Award 2018.
"Kalau ditanya perubahan mungkin pada keindahan seperti bunga dan pohon, tapi tidak ada upaya untuk membantu ekonomi masyarakat kecil seperti kita,” ungkapnya.
“Ibu Risma belum fokus pada orang kecil seperti kita, padahal sudah masuk ke periode kedua. Contohnya ini di depan makam dekat terminal dulu banyak PKL, namun sekarang diusir dan ditanami pohon. Permasalahannya, tidak ada inisiatif relokasi dari pihak pemerintahan yang berujung pada para PKL menjadi pengangguran,” tambah Sholeh, sopir lainnya yang sedang singgah di terminal.
Padahal, PKL sejumlah 20-30an di kawasan Sedayu tersebut telah berpuluh-puluh tahun berdagang di sana. “Pengusiran PKL ini sudah terjadi sejak tiga bulan lalu, namun pemkot belum memberikan bantuan apapun.
Sehingga, gerobak milik para PKL menjadi mangkrak dan tidak terurus karena sudah tidak bisa berjualan lagi,” beber Ihram, sopir lainnya.
Ketidakadilan Pembangunan
Sebelumnya, Surabaya menyabet kategori Online Popular City setelah meraup sekitar 1,5 juta dukungan secara online dalam City of Your Choice. Sementara 5 kota juara utama yakni Kota Wuhan (China), Milan (Italia), Guadalajara (Meksiko), Mezitli (Turki), dan New York (Amerika Serikat).
Dalam vlog, Risma mengajak warga berpartisipasi mendukung Surabaya menjadi pemenang di ajang tersebut. Ia mengajak warga Surabaya dan Indonesia untuk memberikan tanda ’like’ pada gambar. Gambar itu menunjukkan keindahan Kota Surabaya.
Salah satu gambarnya yaitu kecantikan bunga tabebuya dan flamboyan yang sedang mekar di pinggir jalan. Hasilnya, Surabaya berhasil menduduki pertama dengan perolehan 1.504.535 suara.
Menanggapi hal itu, mantan Ketua DPRD Surabaya Musyafak Rouf mengatakan penghargaan patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan Tri Rismaharini agar tidak terlena. Sebab, banyak pembangunan yang justru menguntungkan para pengusaha yang tidak berdomisili dari kota Surabaya.
“Soalnya kan yang memvote secara online itu dari kalangan menengah ke atas. Gak mungkin dong dari warga pribumi asli yang mungkin masih banyak tidak mengetahui cara ngevote secara online. Pastinya orang-orang kelas menengah ke atas yang selama ini merasa diuntungkan oleh kebijakan pemkot,” papar Musyafak dihubungi terpisahh, kemarin.
Ditanya terkait keberpihakan Pemkot terhadap pengusaha dan pengembang, Musyafak mengatakan dirinya tidak bisa memberikan banyak komentar, karena tak memiliki data pasti.
Akan tetapi, dirinya merasakan ketidakadilan di beberapa wilayah Kota Surabaya dalam merasakan pembangunan yang didanai APBD. Mestinya, para pengembang besar harus ada ketentuan yang harus di atur pemkot.
“Itu Izin Mendirikan Bangunan harus diperketat lagi seperti pembangunan mall, apartemen, perumahan, Pemkot harus memfikirkan pembangunan rumah subsidi bagi warga Surabaya asli yang miskin. Kalau tidak, meski dibangun selebar apapun jalannya, pendatang di Surabaya akan terus bertambah, pastinya akan menyebabkan kemacetan semakin parah,” tutur pria yang kini menjadi Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Surabaya ini.
**foto**
Kebijakan untuk Orang Kaya
Hal senada diungkapkan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Prof Dr Sam Abede Pareno. Ia mengungkapkan sebagai budayawan dirinya sangat bangga jika kota Surabaya mendapatkan penghargaan tersebut, meski banyak yang menilai penghargaan itu diberikan lantaran ada kepentingan.
Menurutnya alangkah baiknya warga Surabaya berbaik sangka kepada Walikota Surabaya yang sudah berusaha keras untuk menata kota Surabaya dengan baik. “Jadi alangkah baiknya kita bangga sebagai warga Surabaya yang sudah mengalahkan kota-kota lainnya,” ucap Sam.
Mengenai kebijakan Tri Rismaharini yang dinilai menguntungkan kalangan pengusaha dan pengembang daripada rakyat kecil, Sama menyebut bahwa kota memang diperuntukkan untuk orang-orang yang memiliki banyak uang.
Menurutnya, fasilitas yang dibangun oleh pemerintah kota, memang diperuntukan bagi mereka yang memiliki cukup uang.
“Ketika pemerintah membangun kota, diharapkan masyarakat kecil ikut menikmati dan bisa meningkatkan ekonomi. Dengan demikian, masyarakat miskin bisa terangkat perekonomiannya dan menikmati enaknya hidup di kota. Karena hidup di kota yang serba mahal, bagi mereka yang tidak memiliki banyak uang, maka tersisih dengan sendirinya,” papar Sam.
Menurut Sam, pembangunan taman yang diperbanyak untuk mempercantik wajah Kota Surabaya yang harus menggusur PKL, ia tidak menyalahkan Walikota. “Saya kembalikan, kota itu bagi mereka yang punya duit. Jadi tidak bisa disalahkan dan tidak bisa dibenarkan,” tutup Sam Abede.
Penjelasan Walikota
Setelah mendapatkan penghargaan di Ghuangzhou International Award 2018, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan rasa syukurnya di hadapan para wartawan.
"Meski senang dan bangga namun perasaan tidak boleh berlebihan karena takut riya (pamer, red)," ucap Risma di ruang kerja Walikota Surabaya, sore kemarin (10/12/2018).
Risma menambahkan tugasnya belum selesai meski telah mendapatkan penghargaan Surabaya sebagai kota terpopuler. Ia juga bertekad akan tetap berusaha menekan aspek-aspek yang belum dapat dicapai. "Tidak boleh berpuas dulu agar tetap mau belajar menjadikan kota Surabaya lebih baik lagi," tutur dia.
Menurut Risma penghargaan yang didapatkan juga bukan tujuan utamanya. Namun lebih memacu pada tujuan membuat warga Surabaya menjadi lebih sejahtera.
“Ya wajar kalau ada yang masih ada yang mengkritik. Sebenarnya ajang penghargaan Ghuang Zhou kemarin juga mau tidak saya ikuti, tapi karena ada yang menyarankan tetap mengikuti untuk kesejahteraan warga Surabaya. Itu dicoba dan ternyata mendapatkan award," terang Risma. n