Putus Sekolah hingga Jadi Sopir Angkot, tak Buat Prajogo Putus Asa

Prajogo Pangestu, Pria keturunan Tionghoa yang lahir 75 tahun silam pada 1944 di Sambas, Kalimantan Barat dengan nama Phang Djoem Phen adalah pengusaha kayu tersukses se-Indonesia sebelum terjadi krisis ekonomi di tahun 1997. Ayahnya bernama Phang Siu On yang bekerja sebagai penyadap getah karet.

Wartawan SurabayaPagi, Jaka Sutisna

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Penghasilan ayahnya yang pas-pasan membuat Prajogo kecil, hidup dengan kondisi yang serba kekurangan. Hal itu pun mengharuskan Prajogo hanya menamatkan sekolahnya sampai tingkat menengah pertama.

Dengan maksud untuk mengubah nasib, Parajogo merantau ke Jakarta. Namun, kala itu Dewi Fortuna belum memihak padanya, ia tidak terlalu beruntung tinggal di ibu kota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum yang melayani trayek Singkawang-Pontianak, hingga akhirnya memberanikan diri untuk memulai usaha kecil-kecilan, berjualan keperluan dapur, bermacam-macam bumbu dan ikan asin.

Ketika sedang menjalani hari-harinya sebagai sopir, di 1960-an, Prajogo bertemu dan berkenalan dengan pengusaha kayu asal Malaysia, bernama Bong Sun On, atau Burhan Uray. Di sinilah nasibnya mulai berubah.

Ia memutuskan untuk bergabung dengan Burhan di PT Djajanti Group pada 1969. Saat itu ia diserahi tugas mengurus Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di daerah Kalimantan Tengah. Enam tahun berselang, nama Prajogo mulai dikenal orang, saat Burhan Uray memindahkan PT Djajanti dari Pontianak ke Banjarmasin. Setahun kemudian, Burhan menunjuk Prajogo untuk menduduki posisi sebagai General Manager Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur.

Karirnya sebagai GM Plywood Nusantara bisa dibilang singkat. Hanya bertahan selama setahun, kemudian Prajogo memutuskan mundur sebagai GM dan keluar dari perusahaan untuk mencoba memulai bisnis sendiri.

Dengan bermodal pinjaman dari BRI, yang kemudian berhasil dilunasi dalam setahun, ia pun membeli CV Pacific Lumber Coy yang kala itu sedang mengalami kesulitan keuangan.

Prajogo kemudian mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific Lumber. Pada 1993, perusahaannya menjadi perusahaan publik, dan dalam perjalanannya, Prajogo mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayu pada 2007.

Kemudian bisnisnya terus meningkat hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Bisnisnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, hingga perkayuan.

Di 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada 2008, perusahaan mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Pada 2011, Chandra Asri pun merger dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Chandra Asri Petrochemical bekerja sama dengan pabrikan ban Prancis Michelin pada 2015 untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia.

Berkat usahanya membangun bisnis, Prajogo masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, dengan nilai kekayaan sebesar US$ 8 miliar atau senilai 127 Triliun Rupiah.

Kini setelah memasuki usia senja, Prajogo tengah bersiap menyerahkan kepengurusan Grup Barito kepada salah satu putranya, yakni Agus Salim Pangestu. Sebelumnya, Agus menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Barito Pacific sejak Juni 2002. Meski mendapat kepercayaan untuk mengibarkan kejayaan Barito Grup, namun Agus menekankan bahwa ayahnya masih memegang peranan sebagai Chairman sekaligus Presiden Komisaris.