Protokol Kesehatan Belum Diterapkan

Pejabat Pemkot Surabaya, PD Pasar, Anggota DPRD, Pengurus Kadin, Pedagang dan Ketua YLKI, Sepakat Perkuat Protokol Kesehatan Cegah Penyebaran ditengah himpitan pedagang dan pembeli di Pasar Tradisional yang sering berdesak-desakan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya- Pasca gejolaknya 3.000 pedagang Pasar Kapasan dan Pusat Grosir Surabaya (PGS), Sabtu (4/4/2020) dan Minggu (5/4/2020), beberapa warga Surabaya, menghubungi redaksi Harian Surabaya Pagi, melalui pesan WhatsApp, telepon dan datang sendiri. Maklum kantor Surabaya Pagi dekat dengan Pasar Simo. Mereka mengkhawatirkan pasar-pasar tradisional, bisa semua tutup, karena rentan menimbulkan penyebaran virus corona (Covid-19). Kerentanan ini disebabkan pedagang dan pembeli selalu keluar masuk pasar tradisional berhimpitan, tak bisa mengatur jarak. Apalagi sampai kini pantauan Surabaya Pagi di Pasar Tradisional Dukuh Kupang, Gubeng Kertajaya, Pasar Simo, Pasar Pucang, Pasar Genteng hingga Pasar Wonokromo, belum ditemukan petugas pengawas pengaturan jarak antara sesama pembeli dan pembeli dengan pedagang. Bahkan anjuran Presiden Joko Widodo, setiap orang wajib menggunakan masker Senin (6/4/2020), masih belum dilaksanakan.

Demikian undercover tim wartawan Surabaya Pagi di beberapa Pasar Tradisional dan wawancara dengan Pejabat Pemkot Surabaya, PD Pasar Surya, Anggota DPRD, Pengurus Kadin, Pedagang dan Ketua YLKI. Mereka sepakat Pemkot Surabaya memperbanyak dan memperkuat Protokol Kesehatan di semua pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Surya. Hal ini untuk mencegah Penyebaran virus corona ditengah himpitan pedagang dan pembeli di Pasar Tradisional yang sering berdesak-desakan.

**foto**

Dari pantauan wartawan Surabaya Pagi, Senin (6/4/2020), di Pasar Simo, Pasar Wonokromo, serta Pasar Kapasan Surabaya. Meski sudah dikeluarkan anjuran langsung Presiden Joko Widodo, bahwa setiap warga harus mengenakan masker. Serta melaksanakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan Dinas Kesehatan sesuai standar WHO. Namun, beberapa pedagang hingga pengunjung pasar masih saja belum patuh.

Di Pasar Simo Gunung-Kalangan Surabaya misalnya, petugas Satpol PP yang mengawasi tatatertib pedagang ada yang malah tidak bermasker. Bahkan penjual dukuh dan semangka, yang diserbu pembeli, juga tidak mengatur jarak bersinggungan. Mengingat tidak ada petugas protokoler kesehatan.

”Wis gak mikir masker Pak. Mikir golek duek ae. Lak mati, yo wis wayahe,” jelas Bu Dullah, penjual buah di Pasar Simo Surabaya, Senin (6/4/2020).

Demikian juga warung bebek Petemon di Pasar Simo, pembelinya makan denganleko(nikmat, red) berdempetan. Maklum, meja makannya yang terbuat dari kayu juga mepet-mepetan. Para penikmat bebek goreng ini seperti tidak tahu ancaman virus corona.

Sama halnya di Pasar Wonokromo, disetiap lantai mulai dari penjual makanan ringan, hingga penjual garmen, para pedagang dan pengunjung dengan tidak menghiraukan protokol kesehatan. Bahkan, salah satu pengunjung, juga sedang tidak takut tertular adanya Covid-19 di area sekitarnya. “Yang penting saya sudah bawa hand sanitizer kemana-mana mas. Masker juga kehabisan. Wis, percaya Gusti Allah saja mas,” ucap Cahya, wanita berjilbab yang sedang memilih-milih pakaian dalam itu.

Bahkan, beberapa pedagangnya pun, masih enggan memakai masker seperti yang dianjurkan oleh Pemkot Surabaya dan Presiden Jokowi. Justru mereka berharap, mereka menunggu bantuan dari masyarakat berupa masker dan APD lainnya. “Kene ngenteni bantuan masker ae, mas. Sing penting golek duit mas,” jawab seorang pria penjual makanan ringan yang enggan menyebut namanya saat ditemui Surabaya Pagi, Senin kemarin.

Belum Disosialisasi Merata
Terpisah, dengan masih minimnya protokol kesehatan di fasilitas publik, terutama pasar dan tempat perbelanjaan lainnya, disesalkan oleh beberapa anggota DPRD kota Surabaya. Salah satunya, Reni Astuti, Wakil Ketua DPRD Surabaya, saat ditemui Surabaya Pagi, usai teleconference dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Senin (6/4/2020).

"Saya bertanya ke Pemkot dan Pemkot punya protokol kesehatan di fasilitas publik seperti di Mall dan sebagainya, ketika saya tanya di pasar ada tidak? Kemudian mereka menjawab ada. Saya kira hal ini perlu dilakukan sosialisasi secara terus menerus. Kita memang belum pada kebijakan menutup pasar, tapiphysical distance ini merupakan sesuatu yang harus di kuatkan, karena pasar merupakan salah satu yang cukup rentan terserang," ujar politisi asal PKS.

Reni Astuti menambahkan bila harus segera dilakukan edukasi kepada seluruh pasar terkait protokol kesehatan dengan dibantu oleh sarana dan prasarana yang mendukung untuk mengantisipasi penyebaran virus di area pasar.

"Ini sifatnya urgent. Harus segera dilakukan edukasi kepada seluruh pasar dengan protokol kesehatan yang sudah dibuat. Karena sampai sekarang grafik positif terjangkit ini terus meningkat. Sarana dan prasarana itu juga perlu, disamping kita saling menjaga ketika semua itu sudah disiapkan," imbuhnya.

Terpisah, Luthfiyah dan Hamka Mudjiadi Salam, yang sama-sama anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya meminta agar Pemkot secara ketat menetapkan SOP dan protokol kesehatan secara serius. Dan ini juga dibutuhkan solusi agar virus Corona tidak semakin menyebar.

"Saya yakin untuk edukasi semua sudah belajar cara mengantisipasi, namun kita tetap butuh solusi karena pasar merupakan tempat yang paling rentan terserang dan sulit untuk melakukan physical distance, maka Pemerintah Kota perlu melakukan edukasi untuk para pedagang pasar dengan berjualan secara online. Ini juga penting agar perekonomian tidak mati. Bisa juga dengan jam operasional pasar yang ditentukan boleh buka hingga pukul berapa, kemudian petasan jumlah pedagang di hari tertentu," tegas Luthfiyah.

Senada dengan Luthfiyah, rekannya di Komisi B, Hamka Mudjiadi Salam juga segera menetapkan syarat SOP yang ketat. "Upaya-upaya pencegahan saja yang harus dilakukan dengan syarat menerapkan SOP (Standart Operasional Prosedur) yang ketat. Misalnya, pintu keluar masuk pasar disentralkan dengan petugas pengawas dipintu masuk dan keluar, kemudian yang bertugas mengukur suhu tubuh setiap orang yang masuk pasar. Dipastikan juga setiap pengunjung untuk mencuci tangan dengan sabun yang disediakan ketika keluar masuk pasar, lali disiapkan handsanitizer atau toko yang buka wajib menyiapkan handsanitizer, semua orang dipasar wajib pakai masker dll," paparnya.

Pemkot: Protokol Kesehatan Sudah Disosialisasikan

Fikser selaku Kepala Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Pemkot Surabaya menjelaskan bila cara mengedukasi para pengelola pasar dan pedagang dengan protokoler yang telah di buat oleh PD Pasar Surya sesuai dengan stakeholder yang telah di kumpulkan oleh Walikota Surabaya.

"Itukan sudah ada protokoler dari PD Pasar Surya, jadi ketika Walikota sudah mengumpulkan stakeholder diminta untuk masing-masing membuat protokoler di masing-masing wilayah. Masing-masing wilayah dimana mereka punya area tanggung jawab, protokoler pasar itu sudah ada dan itu yang harus di edukasi" jelasnya

Terpisah, Muhibuddin selaku Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya menjelaskan hal-hal untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona atau Covid - 19 di lingkungan pasar tradisional.

"Kita juga sosialisasi pakai masker, jaga kebersihan. Kami melakukan pencegahan dengan penyemprotan disinfektan, karena kalau dengan pemeriksaan itu sudah bukan ranah PD Pasar" terangnya. nalq/byt/pat/rmc